Islam Tr

7 Cara Agar Sholat Khusyu dan Tenang dalam Beribadah

7 Cara Agar Sholat Khusyu dan Tenang dalam Beribadah

Sholat merupakan salah satu rukun islam yang nomer dua setelah membaca dua kalimat syahadat. Dalam islam ibadah sholat ada dua yaitu sholat wajib dan sholat sunnah, sholat wajib dilaksanakan 5 waktu dalam sehari. Dalam pelaksanaan sholat harus dikerjakan dengan khusyu agar ibadah diterima oleh Allah SWT. Berikut adalah cara agar sholat khusyu dan tenang pada saat beribadah

Selain sebagai kewajiban sholat juga bisa menjadi pembeda antara umat muslim dan umat yang lainnya. Dalam mencapai khusyu tentunya ada cara-cara yang harus dilakukan, pada artikel ini akan membahas cara agar sholat bisa khusyu. Berikut adalah ulasan selengkapnya :

1. Muliakan Adab saat Hendak Sholat

Hal pertama yang harus dilakukan sebagai cara agar sholat khusyu adalah dengan memuliakan adab saat hendak melaksanakannya. Pastikan najis yang terdapat pada pakaian, tempat dan badan telah hilang. Jangan lupa untuk memastikan juga aurat untuk tertutup dengan sempurna sehingga bisa beribadah dengan tenang.

Berdirilah dengan tegak dan pandangan lurus menghadap kiblat atau menghadap ke arah tempat sujud. Sebelum memulai sholat dengan bacaan niat dianjurkan untuk membaca surat An-Nas agar terlindung dari godaan setan yang terkutuk.

2. Memahami Arti Bacaan Sholat

Setelah mempesiapkan secara lahir dan batin kemudian cara selanjutnya agar sholat bisa khusyu adalah dengan memahami makna pada setiap bacaan sholat. Karena dengan memahami makna pada tiap bacaan doa pada sholat dapat meningkatkan konsentrasi dan bisa lebih menghayatinya. Jika kurang memahami makna dari bacaan sholat tidak menutup kemungkinan konsentrasi akan hilang sehingga menyebabkan tidak khusyu.

3. Buang Segala Keraguan dan Was-was

Menyingkirkan segala keraguan, bisikan dan rasa was-was yang ada dalam diri, karena hal tersebut adalah sebuah godaan dari setan. Ingat kembali kepada siapa kita sedang menyembah dan meminta, tidakkah malu jika sedang menyembah Allah dalam keadaan hati yang penuh dengan keraguan dan was-was. Satukan hati dan fikiran untuk menyembah dan menyerahkan diri kepada sang Khalik

4. Sembahlah Allah Seakan Kita Melihatnya

Cara agar sholat khusyu yang selanjutnya adalah dengan menyembah Allah seakan-akan kita sedang melihatnya. Perlu diingat bahwa Allah maha mengetahui baik itu yang tersembunyi maupun yang terang-terangan. Jika tidak bisa merasa bahwa kita melihatnya maka sesungguhnya Allah benar-benar sedang memperhatikan umatnya.

5. Hadirkan Hati

Sholat bukan hanya pekerjaan fisik melainkan pekerjaan yang menyatukan antara fisik dan hati. Oleh karenanya jika hanya melibatkan fisik dalam pelaksanaan sholat maka khusyu akan sulit diraih. Hadirkan hati pada saat melaksanakan sholat, dengan demikian penyatuan antara hati, fikiran dan fisik menjadi satu dan khusyu akan mudah dilaksanakan.

6. Menganggap Sholat Terakhir

Coba saja bayangkan hari ini terakhir di dunia dan terakhir beribadah kepada Allah pasti kita akan melaksanakan dengan sebaik dan sebanyak mungkin. Karena setiap yang bernyawa pasti akan kembali kepada sang penciptanya.

Dengan mengingat bahwa ini merupakan ibadah terakhir tidak menutup kemungkinan bahwa khusyu akan diraih. Tidak ada salahnya jika setiap melaksanakan sholat menganggap bahwa sholat tersebut merupakan yang terakhir kalinya agar beribadah penuh dengan khusyu dan ikhlas.

7. Jika Hati Masih Lalai, Perbanyak Istighfar

Jika cara-cara diatas sudah dilakukan namun masih tetap sulit untuk khusyu maka yang perlu diperbaiki adalah niat dan hati dalam diri. Perbanyak istighfar dan mohon ampun segala dosa pada Allah. Karena bisa jadi dosa yang menjadi penghalang sehingga pada saat melaksanakan sholat susah untuk khusyu.

Itulah dia cara agar sholat khusyu dan tenang pada saat beribadah. Cara diatas bisa dipraktekkan sendiri di rumah dan bisa juga diajarkan kepada keluarga atau teman yang lain. Semoga artikel ini bermanfaat dan bisa menambah keimanan dan ketakwaan, selamat mencoba dan semoga berhasil.

Baca Juga : Fungsi Zakat Mal untuk Kehidupan Umat Muslim Beserta Info Terkait

Fungsi Zakat Mal untuk Kehidupan Umat Muslim Beserta Info Terkait

Fungsi Zakat Mal untuk Kehidupan Umat Muslim Beserta Info Terkait

Secara umum, zakat terbagi menjadi dua bagian yakni zakat fitrah dan zakat mal. Jenis zakat fitrah tentunya menjadi hal yang tidak asing, karena merupakan salah satu rukun Islam yang wajib dipenuhi oleh setiap umat Islam. Adapun jenis zakat mal merupakan zakat lainnya yang dapat dipenuhi oleh umat muslim. Fungsi zakat mal dalam kehidupan umat muslim tentunya memberikan dampak yang positif. Oleh karena itu, setiap umat Islam yang memiliki rezeki lebih, sangat dianjurkan untuk menzakatkan hartanya.

Sekilas Tentang Zakat Mal

Sebelum mengetahui apa saja fungsi zakat mal untuk kehidupan umat muslim, ada baiknya menilik terlebih dahulu sekilas tentang hal tersebut. Zakat mal disebut juga dengan zakat harta yakni membersihkan setiap harta yang dimiliki seorang umat muslim kemudian diberikan secara ikhlas pada mustahiq atau orang yang berhak menerimanya.

Hukum zakat mal sama dengan zakat fitrah yakni wajib atau fardhu ain bagi mereka yang dirasa mampu untuk melakukanya. Bagi setiap orang yang memiliki harta berlebih menjadi suatu kewajiban untuk membersihkan hartanya dengan memberikan sebagian harta yang dimilikinya kepada setiap orang yang berhak memilikinya.

Zakat mal memiliki syarat-syarat tertentu yakni beragama Islam, merdeka, baligh, berakal, milik penuh yakni harta yang ada benar-benar milik orang yang akan berzakat, tidak berhutang, mencapai nishab, mencapai haul/ sudah dimiliki minimal selama satu tahun, harta yang dimiliki memiliki potensi untuk berkembang serta diproses dan dikelola sesuai dengan ajaran Islam.

Fungsi Zakat Mal

Setiap hal tentunya ada tanpa ada dampak yang baik bagi kehidupan manusia. Begitu pun dengan keberadaan zakat mal memiliki fungsi positif dalam kehidupan umat muslim. Di antara fungsi zakat mal yang bisa didapatkan terutama kalangan umat muslim yakni sebagai berikut.

1.   Mendekatkan Diri Kepada Allah SWT

Pertama, fungsi zakat mal yakni sebagai salah satu upaya dalam mendekatkan diri kepada Allah SWT. Tanpa disadari, dengan melakukan zakat, seseorang akan merasa dekat dengan Allah SWT. Selain itu, mengeluarkan zakat mal akan membantu meningkatkan iman dan ketakwaan seorang hamba yang menjalankannya.

2.   Membantu Menenangkan Hati

Selanjutnya, zakat mal akan membantu menenangkan hati orang yang melakukannya. Dengan berzakat, seorang muslim dilatih untuk bersikap ikhlas dan rida. Setiap hal yang dilakukan secara ikhlas tanpa unsur paksaan, maka zakat mal akan menjadi salah satu media penenang hati yang siap melatih seorang hamba untuk bisa bersikap ikhlas dan tulus pada orang lain.

3.   Sebagai Salah Satu Penyempurna Iman

Seperti yang telah disinggung sebelumnya, dengan berzakat, keimanan seseorang akan meningkat. Zakat mal menjadi salah satu upaya dalam menyempurnakan iman seorang hamba. 

Memberikan zakat pada mustahiknya menjadi salah satu pilar penting dalam ajaran agama Islam. Oleh karena itu, setiap umat muslim yang mampu tentunya akan mengamalkan amalan yang satu ini guna memenuhi kewajiban dari agama yang dipeluknya.

4.   Salah Satu Penghapus Dosa

Fungsi zakat mal lainnya yakni sebagai pengahpus dosa. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW dalam haditsnya yang diriwayatkan At-Tirmidzi dan An-Nasai, disebutkan bahwa “Amal memadamkan dosa, sebagaimana air memadamkan api”. Dari hadits tersebut dapat diketahui, dengan melakukan amal kebajikan, salah satunya dengan berzakat mal maka dosa akan terhapuskan.

5.   Menjaga Keseimbangan dalam Kehidupan

Dengan adanya zakat mal tentunya akan tercipta sebuah keseimbangan dalam kehidupan. Antara yang miskin dan kaya akan lebih terjaga keseimbangan dalam hidupnya, ketika mereka yang memiliki harta lebih memberikan sebagian hartanya kepada yang membutuhkan. Hal ini tentunya menjadi salah satu upaya mengurangi konflik kelas yang terjadi di kalangan masyarakat.

Nah, itulah sekilas informasi terkait fungsi zakat mal. Semoga informasi di atas dapat bermanfaat dan menjadi wawasan serta penggugah setiap hamba yang memiliki harta berlebih untuk membersihkan hartanya dengan cara berzakat.

Baca Juga : Perhitungan Zakat Emas dan Perak Murni Serta Tidak Murni

Perhitungan Zakat Emas dan Perak Murni Serta Tidak Murni

Perhitungan Zakat Emas dan Perak Murni Serta Tidak Murni

Disamping menjalankan ibadah puasa Ramadhan, Zakat merupakan salah satu hal yang wajib dilakukan. Selain zakat fitrah, zakat Mal juga menjadi zakat yang wajib bagi umat muslim yang memenuhi kriteria tertentu. Akan tetapi wajib zakat seringkali dibuat bingung dengan cara perhitungan zakat. Terutama cara perhitungan zakat emas. Nah, berikut ini akan dibahas mengenai cara perhitungan zakat emas & perak murni maupun tidak murni.

Macam-Macam Zakat Mal dan Nisabnya

Zakat mal memiliki aturan hukum, persyaratan, serta ketentuan-ketentuan lain dalam pelaksanaannya. Salah satu hal yang harus diperhatikan adalah nisab. Nisab zakat mal uang merupakan batas paling rendah harta dikenakan wajib zakat. Berikut ini akan dibahas macam macam zakat mal termasuk nisab zakat mal uang.

1. Emas, Perak, serta Uang

Emas dikenakan wajib zakat apabila sudah mencapai 85 gram atau setara dengan 20 dinar dan telah dimiliki dalam jangka waktu satu tahun atau lebih. Sementara perak nisabnya yaitu 600 gram atau setara dengan 200 dirham dan telah dimiliki selama setahun.

Artinya, apabila seseorang telah memiliki simpanan berupa emas atau perak yang sudah mencapai jumlah tertentu dan dalam jangka waktu penyimpanan satu tahun, maka harta tersebut dikenakan wajib zakat sebesar 2,5%.

Hal ini juga berlaku terhadap simpanan berupa uang baik dalam bentuk tabungan maupun investasi. Besaran zakat yang dikeluarkan menyesuaikan dengan harga 85 gram emas. Apabila harga 1 gram emas bernilai Rp. 600.000,-/gram, maka zakat yang wajib dikeluarkan sebesar Rp.51.000.000,-.

2. Harta Niaga

Harta niaga adalah harta yang diperuntukkan bagi keperluan jual beli, baik berupa alat maupun pakaian, perhiasan, dan lain sebagainya. Seperti halnya harta simpanan, harta niaga juga dikenakan wajib zakat apabila nilainya sudah setara dengan 85 gram emas.

3. Binatang Ternak

Bagi seseorang yang memiliki binatang ternak, maka juga dikenakan wajib zakat. Adapun nisabnya, apabila binatang ternak tersebut adalah unta, maka wajib zakatnya sebanyak 5 ekor. Sementara untuk sapi atau kerbau nisabnya sebanyak 5 ekor. Sedangkan kambing, nisabnya adalah 40 ekor kambing.

4. Hasil Pertanian

Seperti halnya binatang, hasil panen juga dikenakan wajib zakat apabila telah mencapai nisab dan hail. Adapun nisabnya adalah 5 wassaq, atau setara dengan 625 kilogram. Besaran zakat yang akan dikeluarkan sebanyak 10% apabila hasil panen tersebut diairi dengan air hujan saja. Sementara 5% apabila diari dengan air yang memerlukan peralatan tambahan.

Cara Perhitungan Zakat Emas & Perak Murni

Emas murni dapat diartikan sebagai emas dengan kadar 100%. Atau tidak tercampur dengan bahan lainnya. sementara emas tidak murni adalah emas yang kadarnya kurang dari 100%.

Seperti halnya rumus matematika, perhitungan zakat emas juga menggunakan rumus sebagai berikut:

a = b x c, dimana keterangannya:

a : kadar zakat

b : merupakan asset zakat

c : merupakan persentase kadar zakat

Adapun contohnya seperti ini, seseorang memiliki emas sebesar 200 gram, maka perhitungan zakat emasnya adalah:

a = b x c

   = 200 x 2,5%

   = 5 gram.

Maka zakat yang harus dibayarkan sebesar 5 gram emas.

Cara Perhitungan Zakat Emas dan Perak Campuran

Sebenarnya cara perhitungan jumlah persentase zakat yang harus dikeluarkan sama halnya dengan perhitungan zakat emas murni. Perbedaannya hanya terletak pada cara pengukuran nisabnya. Adapun rumusnya sebagai berikut:

a = (b : c) x 24, dimana keterangannya:

a : merupakan nisab emas non murni

b : nisab emas murni

c : merupakan karat emas non murni

contohnya sebagai berikut, seseorang memiliki emas 20 karat, maka berapa nisab emas apabila diukur menggunakan hasil konversi mazhab Syafi’I, Hambali, dan Maliki?

a = (b : c) x 24

a = (77,50 gram : 20) x 24

   = 3,875 x 24

   = 93 gram.

Maka zakat yang harus dibayarkan adalah sebanyak 93 gram.

Nah, itulah tadi cara pengukuran zakat emas baik yang murni maupun campuran. Setelah diketahui berapa kadar dan nisabnya, maka selanjutnya pemilik hanya perlu membayar sejumlah 2,5% dari keseluruhan jumlah emas dan perak yang dimiliki. Semoga bermanfaat.

Baca Juga : Tata Cara Bayar Zakat Fitrah Sesuai Ketentuan Islam

Tata Cara Bayar Zakat Fitrah Sesuai Ketentuan Islam

Tata Cara Bayar Zakat Fitrah Sesuai Ketentuan Islam

Zakat fitrah adalah zakat yang harus dijalankan untuk seorang muslim laki-laki maupun perempuan bagi yang mampu. Yang dikeluarkan sekali dalam setahun pada saat bulan ramadhan menjelang hari raya idul fitri. Zakat menurut bahasa yaitu (lughat) yang artinya tumbuh, suci, dan berkah. Berguna untuk mensucikan diri dari harta dan sebagai pelengkap dari ibadah puasa yang sudah dilakukan. Berikut ini penjelasan tentang tata cara bayar zakat fitrah yang akan dikupas secara mendalam.

Syarat Membayar Zakat

Ketika akan berzakat hal yang harus diperhatikan sebelum melakukan tata cara bayar zakat fitrah adalah beragama islam, baligh, keadaan sehat, dan mampu untuk menghidupi dirinya sendiri.

Jumlah Pembayaran Zakat

Ketika akan membayar zakat fitrah yang perlu diperhatikan adalah berzakat dari makanan pokok yang sehari-hari biasa dimakan oleh pemberi zakat. Makanan pokok yang diberikan, misalnya, beras, gandum, dan kurma. Sebagaimana tiap bangsa makanan pokoknya berbeda, maka bersedekahlah dengan makanan pokok yang biasa dimakan di bangsa kita.

Kemudian untuk berapa banyak makanan pokok yang akan kita zakatkan yang telah disepakati oleh Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) sebesar 2,5 kg atau 3,5 liter beras. Tata cara bayar zakat fitrah juga dapat menggunakan mata uang. Yaitu dengan nominal uang  setara harga makanan pokok yang biasa dimakan oleh pemberi zakat.

Contohnya, seorang pemberi zakat sehari-harinya biasa makan beras premium seharga Rp 30.000/kg. Maka untuk tata cara bayar zakat fitrah yang harus dibayarkan adalah sebesar Rp 30.000 x 2,5 kg = Rp 70.000 rupiah per orang.

Jika pemberi zakat memiliki tanggungan keluarga yang terdiri dari seorang istri dan satu orang anak yang belum baligh, maka jumlah zakat fitrah yang harus kita bayarkan dikalikan banyaknya jumlah anggota keluarga. Sebesar Rp 70.000 x 3 orang = Rp 210.000.

Tata Cara Bayar Zakat Fitrah

Membayar zakat juga memiliki tata cara bayar yang sudah ditentukan agama. Berikut ini adalah tata cara membayar zakat fitrah sesuai dengan ketentuan islam:

1. Niat Berzakat

Apabila memiliki tanggungan keluarga maka harus niatkan membayar zakat untuk anggota keluarga juga. Ketika akan membayar zakat fitrah hal yang harus dilakukan adalah berniat. Jika tidak dapat menghafal bacaan arabnya dapat membacanya dengan bahasa yang diketahui.

2. Mengetahui Siapa Saja Yang Akan Dibayarkan Zakatnya

Perlu mengetahui siapa saya orang yang akan dibayarkan zakatnya terutama keluarga dan orang tua. Kemudian hitunglah berapa zakat fitrah yang harus dikeluarkan, untuk zakat fitrah bisa membayar dengan beras seberat 2,5 atau bisa juga dengan uang tunai yang setara dengan harga makanan pokok.

3. Temukan Amil Yang Terpercaya

Pemberi zakat harus mengetahui amil yang terpercaya agar zakat yang akan dibayarkan bisa disalurkan oleh orang yang layak mendapatkan zakat. Pemberi zakat bisa berzakat di masjid terdekat dan berzakat lewat media online terpercaya.

4. Ikhlas Membayar Zakat

Untuk membayar zakat harus ikhlas dengan apa yang telah berikan untuk orang lain dan tidak mengungkit berapa pun nominal yang dibayarkan. Ikhlas adalah hal yang penting arena tanpa rasa ikhlas maka amalan tidak akan diterima. Jadi bayar lah zakat dengan ikhlas sesuai ketentuan yang telah ditetapkan.

Allah telah memperintahkan umat muslim yang mampu untuk  berzakat demi mensucikan diri dan harta. Yang mana zakat sendiri telah menjadi salah satu bagian dari rukun islam ke-4. Dengan adanya zakat manusia bisa saling membantu sesama umat muslim dan dihindarkan dari perbuatan buruk yang akan dilakukan oleh orang jahat.

Baca Juga : Inilah Syarat dan Rukun Zakat Mal Yang Harus Dipenuhi

Inilah Syarat dan Rukun Zakat Mal Yang Harus Dipenuhi

Inilah Syarat dan Rukun Zakat Mal Yang Harus Dipenuhi

Penghasilan yang didapatkan oleh umat Islam tidak sepenuhnya menjadi miliknya karena harus dikeluarkan sebagian dan diberikan kepada orang tertentu. Hal tersebut dinamakan zakat mal, di mana memberikan zakat kepada orang tertentu. Dengan tujuan agar penghasilan yang didapat mendapat berkah dan bisa dinikmati oleh orang lain. Selain itu, ada pula beberapa rukun zakat mal yang harus diketahui.

Syarat Yang Harus Dipenuhi Dalam Zakat Mal

Sebelum membahas mengenai rukun dari zakat mal, terlebih dahulu harus mengetahui syarat-syarat yang harus dipenuhi ketika ingin melakukan zakat mal. Dengan kata lain bahwasanya zakat mal tidak akan terjadi apabila tidak memenuhi syarat yang telah ditentukan tersebut. Maka dari itu, berikut ini merupakan paparan mengenai syarat dalam melakukan zakat mal.

1. Sebagai Kepemilikan Penuh dan Terus Berkembang

Syarat pertama adalah harta yang akan dijadikan sebagai zakat mal merupakan harta yang dimiliki secara penuh oleh individu atau lembaga. Dalam artian bahwa harta yang akan dijadikan zakat mal tersebut bukan milik orang lain. Selain itu, harta tersebut juga harus memiliki potensi untuk bertambah dan berkembang ketika sudah dijadikan zakat nantinya.

2. Telah Mencapai Nisab dan Melebihi Kebutuhan Pokok

Sebelumnya perlu diketahui bahwa nisab merupakan jumlah dari minimal harta yang dimiliki sehingga dikenakan wajib zakat. Sehingga harta yang belum mencapai nisab tidak wajib untuk dijadikan sebagai zakat mal. Bukan hanya itu, harta yang dimiliki tersebut juga harus melebihi dari kebutuhan pokok yang digunakan individu bersama keluarga.

3. Bebas Utang dan Sudah Berlalu Dalam Jangka Satu Tahun

Hal terpenting adalah bahwa harta yang dijadikan sebagai zakat mal harus bebas dari utang untuk mencapai nisab. Sehingga harta tersebut sudah termasuk dalam harta yang wajib untuk dijadikan zakat. Kemudian kepemilikan dari harta yang akan dijadikan zakat tersebut juga harus mencapai satu tahun seperti perhiasan,simpanan, hewan ternak, dan lainnya.

Rukun Dari Zakat Mal

Syarat-syarat zakat mal sudah diketahui untuk dipenuhi sebelum membagikan zakat kepada orang yang dituju. Kemudian ada rukun zakat mal yang juga perlu untuk diketahui agar zakat yang diberikan bisa menjadi berkah bagi orang lain. Nah, berikut ini merupakan paparan mengenai rukun dari zakat mal tersebut.

1. Diawali Dengan Niat Untuk Mengeluarkan Zakat Mal

Niat yang dimaksud di sini adalah niat yang berasal dari hati untuk menunjukkan sebuah keikhlasan dari seseorang untuk mengeluarkan zakat tersebut. Di mana niat tersebut harus dilafalkan secara lisan dan semata-mata hanya karena Allah SWT. Dengan kata lain bahwa zakat yang dikeluarkan tersebut bukan untuk pamer kepada orang lain.

2. Ada Orang Yang Menunaikan dan Berhak Menerima Zakat

Rukun selanjutnya adalah bahwasanya harus ada orang yang diwajibkan untuk mengeluarkan zakat mal tersebut. Selain itu, ada pula orang yang berhak dalam menerima zakat mal yang dikeluarkan. Orang yang menerima tersebut seperti seorang fakir, mualaf, ibnu sabil, hamba sahaya, miskin, amil, gharimin, dan fisabilillah.

3. Adanya Harta Yang Akan Dijadikan Zakat

Yang terakhir adalah dengan adanya harta berdasarkan persyaratan yang akan dijadikan sebagai zakat mal yang terdiri dari berbagai macam harta. Seperti dalam kategori hewan ternak, hasil pertanian, perhiasan, barang temuan, penghasilan profesi, dan lain sebagainya. Di mana kategori harta tersebut bisa dijadikan sebagai harta untuk zakat mal.

Itulah beberapa ulasan mengenai syarat-syarat dan rukun zakat mal yang harus dipenuhi sebelum mengeluarkan zakat tersebut. Dengan kata lain bahwa rukun dari zakat tersebut harus ada sebelum melakukan zakat. Di mana kedua hal tersebut juga menjadi pembeda antara jenis zakat lainnya meskipun hampir sama.

Baca Juga : Waktu Membayar Zakat Fitrah yang Benar Sesuai Hukum Islam

Waktu Membayar Zakat Fitrah yang Benar Sesuai Hukum Islam

Waktu Membayar Zakat Fitrah yang Benar Sesuai Hukum Islam

Mungkin sebagian besar sudah sering mendengar istilah kata Zakat. Zakat merupakan suatu kegiatan ibadah bagi kaum muslimin. Zakat itu sendiri terdiri dari berbagai macam jenis dan spesifikasinya dan juga termasuk status hukum nya apakah masuk kedalam kategori wajib, Sunnah atau Mubah. Dari sekian banyak jenis zakat ada satu zakat tergolong kedalam kategori wajib bagi yang mampu yaitu zakat fitrah dan kapan waktu membayar zakat Fitrah.

Apa Itu Zakat Fitrah?

Zakat fitrah adalah ibadah yang ditunaikan  setahun sekali yang biasanya berbarengan dengan  pelaksaan ibadah puasa di bulan suci ramadhan. Beban mengeluarkan zakat fitrah hanya untuk yang mampu ekonominya, sebagai bentuk kepedulian berbagi ke sesama umat muslim yang belum mampu. Bagi yang menunaikan zakat  fitrah umumnya ditujukan sebagai wujud menyucikan harta yang diperoleh dariNya.

Kapan Waktu yang Tepat Membayar Zakat Fitrah?

harta yang dikeluarkan untuk zakat fitrah di Indonesia biasanya berupa beras yang merupakan makanan pokok terbesar di Indonesia. Berikut  berbagai macam waktu membayar zakat fitrah sesuai hukum islamnya :

1. Waktu Mubah

Mubah biasanya dikenal dengan artian singkat yaitu boleh. Suatu perbuatan yang apabila dikerjakan maupun ditinggalkan, maka imbalannya tidak mendapat pahala atau dosa itulah yang disebut mubah. Hukum mubah tidak menunjukkan perintah yang tetap atau yang tidak tetap, serta tidak menunjukkan larangan yang tetap atau yang tidak tetap. 

Nah, waktu mubah merupakan waktu yang paling sering dilakukan oleh umat islam. Rentang waktu mubah untuk menunaikan zakat fitrah yaitu semenjak bermulanya bulan ramadhan sampai sebelum shalat idul fitri.

2. Waktu Wajib

Wajib secara bahasa dikenal dengan arti pasti atau tetap. Hukum wajib berarti suatu perbuatan yang apabila dikerjakan maka imbalannya mendapat pahala, sedangkan apabila ditinggalkan, tentu mendapat dosa. Hal ini karena hukum wajib menunjukkan perintah dan larangan yang tetap.

Nah, sedangkan waktu wajib yaitu bagi orang yang belum sempat mengeluarkan zakat fitrah karena hanya mendapatkan sedikit bulan ramadhan maupun bulan syawal. Waktu membayar zakat fitrah yang tepat yaitu ketika matahari telah terbenam pada akhir bulan ramadhan atau malam takbiran.

3. Waktu Afdhal Atau Yang Dianjurkan (Sunnah)

Hukum sunnah berarti suatu perbuatan yang apabila dikerjakan maka akan mendapat pahala sedangkan apabila ditinggalkan maka tidak mendapat dosa. Waktu membayar zakat fitrah yang disunnahkan tersebut yaitu di pagi hari sebelum pelaksana shalat hari raya idul fitri. Waktu ini terbilang sangat sempit bukan? jadi umat islam harus berhati-hati saat menunaikan zakat  fitrah nya ya.

4. Waktu Makruh

Pengertian makruh sendiri yaitu suatu perbuatan yang apabila ditinggakan maka mendapat pahala, tetapi apabila dikerjakan tidak mendapat dosa. Dengan kata lain, makruh ini sebagai bentuk larangan yang tidak tetap. Waktu makruh berlaku di tanggal 1 Syawal, lebih tepatnya sejak selesai shalat idul fitri sampai sebelum matahari terbenam.

5. Waktu Haram

Arti haram adalah suatu perbuatan yang apabila ditinggalkan, maka mendapat mendapat pahala, sedangkan apabila dikerjakan tentu akan mendapat dosa. Dengan kata lain, haram ini sebagai wujud larangan yang tetap. 

Waktu haram menunaikan zakat fitrah yaitu setelah matahari terbenam pada hari raya idul fitri. Apabila pembayaran zakat fitrah dilaksanakan lewat tanggal 1 Syawal, maka zakatnya tergolong qada.

Itulah lima waktu membayar zakat fitrah yang perlu diketahui oleh umat islam yang wajib menunaikanya. Semoga menjadi orang yang menjalankan ibadah zakat fitrah dengan seikhlasnya di waktu yang terebaik. 

Baca Juga : Manfaat Shodaqoh yang Harus Diketahui Oleh Semua Umat Muslim

Manfaat Shodaqoh yang Harus Diketahui Oleh Semua Umat Muslim

Manfaat Shodaqoh yang Harus Diketahui Oleh Semua Umat Muslim

Shodaqoh atau yang biasa disebut sedekah merupakan suatu tindakan mulia seseorang dengan membagikan sebagian harta atau kekayaan yang dimilikinya. Shodaqoh tidak hanya bermanfaat untuk orang yang diberi, namun mendatangkan manfaat juga untuk yang memberi. Ada banyak sekali manfaat shodaqoh. Berikut adalah manfaatnya.

1. Menghapus Dosa

Allah SWT berfirman bahwa barang siapa yang melakukan shodaqoh, maka dosa-dosa orang tersebut akan dimaafkan atau dihapuskan. Tetapi lakukan hal tersebut harus dengan melakukan hal-hal baik lainnya. Jangan hanya mengharapkan dari shodaqoh untuk menghapus dosa atau menyucikan diri. Karena sesungguhnya yang maha menghapus atau mengampuni dosa hanya Allah SWT.

2. Melipatgandakan Pahala

Manfaat shodaqoh selanjutnya adalah dilipatgandakan pahala seseorang yang melakukan shodaqoh tersebut. Allah menjanjikan akan memberikan pahala yang berlipat ganda kepada seseorang yang melakukan shodaqoh. Dengan syarat melakukan shodaqoh dengan ikhlas dan tidak memamerkannya kepada orang lain. Karena jika dipamerkan maka hal tersebut sama saja dengan ria.

Dan ria merupakan hal yang dibenci oleh Allah SWT, dan akan berbalik menjadi dosa bukannya pahala. Untuk itu lakukanlah shodaqoh dengan ikhlas dan niat murni dari hati, bukan karena ingin disanjung oleh orang lain.

3. Dilimpahkan Rezeki

Manfaat shodaqoh yang ketiga adalah mendapatkan rezeki yang berlimpah dari Allah SWT. Jadi jangan pernah sekalipun berpikir bahwa bersedekah akan mengurangi harta yang dimiliki. Karena Allah SWT sudah menjanjikan barang siapa yang melakukan shodaqoh, maka akan dilimpahkan rezeki kepada orang tersebut. Rezeki tersebut bisa dalam bentuk harta ataupun bentuk rezeki yang tidak bisa diukur dari segi materi.

Jadi shodaqoh atau sedekah tidak akan pernah membuat seseorang yang melakukannya akan jatuh miskin atau kehabisan harta, justru sebaliknya. Karena Allah akan mengganti rezeki yang disedekahkan dengan rezeki yang baru.

4. Dihindarkan Dari Bahaya

Manfaat sedekah selanjutnya adalah dihindarkan dari banyak bahaya. Hal ini bersinggungan dengan poin sebelumnya, yang menyebutkan rezeki yang tidak dapat diukur dari segi materi. Salah satu contoh rezeki tersebut adalah dihindarkan dari bahaya. Sesuai dengan sabda Rasulullah, yakni shodaqoh dapat menutup 70 pintu bencana atau musibah dan kejahatan kemudian bahaya-bahaya tersebut tidak dapat mendahului shodaqoh.

Jadi dengan melakukan sedekah, maka bahaya atau musibah yang mengintai dapat dijauhkan bagi yang melakukan sedekah tersebut.

5. Membuat Hati Menjadi Tenang

Manfaat sedekah yang selanjutnya adalah membuat hati menjadi tenang. Perasaan tenang tersebut didapat saat memberikan kepada orang yang lebih membutuhkan. Wajah senang orang-orang tersebut dapat membuat hati menjadi bahagia sekaligus menemukan ketenangan di sana. Hati dan perasaan akan lebih terasa lapang seperti tidak ada beban.

6. Menjadi Jaminan Di Hari Akhir

Seseorang yang bersedekah akan dimasukkan ke dalam golongan yang akan mendapatkan lindungan pada hari akhir nanti. Maksud dari lindungan tersebut ialah orang-orang yang melakukan sedekah akan dilindungi dari panasnya matahari yang hanya berada sejengkal di atas kepala. Orang-orang di dalam golongan tersebut tidak akan merasa panas, melainkan akan merasakan sejuk.

Orang-orang dalam golongan tersebut merupakan orang yang melakukan sedekah atau shodaqoh dengan ikhlas semasa hidupnya di dunia. Jadi jika ingin mendapatkan jaminan ini lakukanlah shodaqoh dengan ikhlas dan tidak mengumbarnya kepada siapapun. Karena jika mengumbarnya, maka shodaqoh tersebut akan dianggap sebagai pamer atau ria dan dapat berubah menjadi dosa.

Itulah tadi manfaat shodaqoh yang harus diketahui oleh semua umat muslim. Sebenarnya masih sangat banyak manfaat sedekah untuk kehidupan di dunia maupun di akhirat nanti. Diharapkan agar setiap orang melakukan shodaqoh dengan ikhlas dan tanpa pamrih. Dengan begitu kebaikan-kebaikan dari shodaqoh dapat diperoleh.

Baca Juga : Apa Perbedaan Zakat Infaq Shodaqoh, Ini Penjelasannya

Apa Perbedaan Zakat Infaq Shodaqoh, Ini Penjelasannya

Apa Perbedaan Zakat Infaq Shodaqoh, Ini Penjelasannya

Zakat, infaq, dan shodaqoh pada intinya memiliki arah pengertian yang sama yakni mengarah pada sesuatu yang dikeluarkan oleh yang berhak. Adapun perbedaannya secara umum bisa dilihat dari hukumnya, yakni ada yang wajib dan juga yang sunnah. Membahas perbedaan zakat infaq shodaqoh tentunya ada perbedaan yang signifikan. Namun, di balik perbedaan tersebut, ketiganya memiliki dampak yang positif dalam kehidupan manusia.

Sekilas Tentang Zakat

Sebelum mengetahui apa perbedaan zakat, infaq, shodaqoh, ada baiknya untuk memahami terlebih dahulu informasi terkait zakat. Kata zakat tentunya tidak asing lagi, rukun Islam yang ketiga ini memiliki hukum wajib bagi setiap umat Islam. Secara bahasa, zakat berarti membersihkan diri. 

Adapun secara istilah, pengertian zakat yakni mengeluarkan sebagian harta kepada yang mustahik yakni delapan asnap yang telah ditentukan. Secara umum, zakat terbagi menjadi dua bagia yakni zakat fitrah dan zakat mal. 

Keduanya memiliki hukum yang sama yakni fardu ‘ain. Adapun mustahik atau yang berhak menerima zakat diantaranya fakir, miskin, mualaf, gharim/ yang berhutang, orang yang berjuang di jalan Allah/ dalam perjalanan, amil zakat, hamba sahaya, serta ketetapan yang ditetapkan oleh Allah swt.

Sekilas Tentang Infaq

Sama halnya dengan zakat, infaq juga berarti mengeluarkan sebagian harta. Hanya saja ada perbedaan yang mendasar di antara keduanya. Zakat memiliki mustahik atau yang berhak menerimanya. Adapun infaq bisa diberikan kepada siapa saja serta tanpa  ada batasan nishab.

Infaq secara istilah yakni mengeluarkan sebagian harta kepada siapa yang dikehendaki pemberi dari pendapatan atau pun penghasilan seseorang guna memenuhi apa yang diperintahkan Islam. Tidak ada batasan serta aturan yang mendasar terkait infaq, karena bisa dikeluarkan dari orang yang berpenghasilan tinggi maupun rendah. Berinfak bisa dilakukan di kala lapang maupun sempit.  

Sekilas Tentang Shodaqoh

Keberadaan shodaqoh tentunya menjadi salah satu pondasi yang dapat meningkatkan kualitas keimanan serta sikap baik seseorang. Kata shodaqoh diambil dari bahasa Arab yang memiliki arti benar. Pengertian yang lebih luasnya yakni orang yang bersedekah merupakan seorang hamba yang benar dalam pengakuan imannya. 

Dalam arti yang lebih dipahami yakni shodaqoh merupakan sebuah sikap di mana seseorang melakukan pemberian berupa harta, benda ataupun yang lainnya kepada orang lain tanpa ada unsur paksaan, melainkan secara sukarela. Shodaqoh memiliki waktu serta kadar yang tidak terbatas, bahkan senyuman pun pada sesama manusia pun bisa dikatakan shodaqoh.

Perbedaan Zakat Infaq Shodaqoh

Setelah memahami sekilas informasi terkait zakat, infaq dan shodaqoh tentunya sudah ada sedikit gambaran terkait perbedaan mendasar yang ada di antara ketiganya. Adapun perbedaannya secara rinci yakni sebagai berikut.

1.   Dilihat Dari Segi Hukumnya

Perbedaan zakat infaq shodaqoh bisa ditinjau dari segi hukumnya. Pertama, zakat memiliki hukum wajib bagi setiap umat Islam terutama zakat fitrah. Adapun zakat mal hukumnya wajib bagi mereka yang telah memenuhi syarat yang telah ditentukan. Terkait hukum infaq dan shodaqoh yakni sunah, siapa saja boleh melakukannya tanpa batas waktu tertentu.

2.   Mustahik/ Penerima

Selanjutnya, perbedaan ketiganya bisa dilihat dari mustahik atau yang berhak menerimanya. Zakat memiliki aturan tertentu, yakni terdapat delapan asnap yang berhak menerima zakat. Adapun infaq dan shodaqoh tidak memiliki mustahik tertentu, yakni bisa diberikan kepada siapa saja yang dikehendaki sang pemberi.

3.   Jenis yang Dikeluarkan

Adapun jenis yang dikeluarkan, zakat berupa materi/ harta. Begitu pun dengan infaq, apa yang dikeluarkan yakni berupa materi/ harta. Shodaqoh berbeda dengan keduanya, karena dalam hal ini setiap orang bisa bersedekah dengan apa saja, bukan sebatas materi, contohnya senyum juga bisa dikatakan sebagai shodaqoh.

4.   Waktu Pengeluaran

Jika ditinjau dari waktu pengeluarannya, zakat tentunya memiliki waktu yang signifikan terutama zakat fitrah yang kerap dikeluarkan pada bulan Ramadhan. Adapun waktu pengeluaran infaq dan shodaqoh tidak memiliki batasan waktu, yakni setiap orang bisa mengeluarkan hartanya kapan pun, sesuai kehendaknya.

5.   Ditinjau Dari Segi Fungsi

Adapun jika ditinjau dari segi fungsi, zakat bisa dipandang sebagai penyeimbang yakni menjaga keseimbangan antara kelas sosial masyarakat. Zakat yang dikeluarkan akan diakumulasikan dan selanjutnya dialokasikan kepada delapan asnap yang berhak menerimanya. Adapun infaq dan shodaqoh memiliki fungsi yang lebih umum yakni membersihkan setiap harta yang dimiliki seseorang serta meningkatkan keimanan seseorang.

Demikianlah ulasan singkat terkait perbedaan zakat infaq shodaqoh. Semoga informasi diatas dapat menambah wawasan serta memecahkan kebingungan di balik perbedaan ketiga istilah tersebut.

Baca Juga : Apa Itu Ta’aruf Dalam Islam Serta Kemuliaannya Dibanding Pacaran

Apa Itu Ta’aruf Dalam Islam Serta Kemuliaannya Dibanding Pacaran

Apa Itu Ta’aruf Dalam Islam Serta Kemuliaannya Dibanding Pacaran

Istilah Ta’aruf sudah tidak asing lagi bagi masyarakat muslim. Akan tetapi ternyata masih banyak orang-orang yang salah mengartikan tentang Ta’aruf yang sesungguhnya. Istilah Ta’aruf sendiri memiliki arti perkenalan. Nah, untuk lebih jelasnya artikel ini akan membahas mengenai apa itu Ta’aruf dalam Islam serta beberapa proses yang harus dilewati. Berikut ulasannya.

Apa itu Ta’aruf dalam Islam?

Ta’aruf dapat diartikan dengan berkenalan dengan orang lain, mengenal dengan baik, atau memperkenalkan diri. Singkatnya, Ta’aruf merupakan interaksi antara dua orang atau lebih yang disertai dengan maksud atau tujuan tertentu. Dilihat dari pengertiannya, Ta’aruf tidak hanya berkenaan dengan pernikahan, melainkan juga hubungan persaudaraan, pertemanan, dan lain sebagainya.

Ta’aruf yang dikenal oleh masyarakat muslim saat ini merupakan Ta’aruf yang dikaitkan dengan pernikahan. Dalam hal ini, Ta’aruf dapat diartikan sebagai proses perkenalan antara pria dan wanita melalui perantara yang bertujuan untuk menyempurnakan agama ke jenjang pernikahan.

Apa Saja Kemuliaan dari Ta’aruf?

Ta’aruf memiliki banyak manfaat dibandingkan dengan proses pacaran yang identik dengan maksiat. Maka tak heran jika saat ini banyak publik figur yang memilih melewati proses Ta’aruf dibanding dengan pacaran. Berikut ini adalah beberapa manfaat proses Ta’aruf:

1. Dijauhkan dari Perbuatan Zina

Dilihat dari prosesnya, Ta’aruf sangat mungkin untuk menjauhkan seseorang dari perbuatan zina. Sebab, dalam proses Ta’aruf pihak laki-laki tidak akan bertemu langsung dengan wanitanya. Melainkan harus melalui perantara. 

Dalam hal ini bisa saja orang tua pihak wanita atau ustadz maupun ustadzah yang dipercaya. Sehingga pasangan yang hendak melakukan Ta’aruf tidak akan memiliki kesempatan untuk berduaan.

2. Adil

Ketika proses Ta’aruf berlangsung, pihak yang akan Ta’aruf saling bertukar informasi mengenai data diri serta kelebihan dan kekurangan masing-masing. Prosesnya transparan dan tidak ada yang ditutup-tutupi. Pihak keluarga juga terlibat dalam proses ini. Sehingga semuanya akan lebih terasa adil.

3. Efektif

Proses Ta’aruf biasanya cenderung lebih singkat. Hal ini guna menghindari fitnah maupun perbuatan zina. Sehingga melalui proses yang singkat, Ta’aruf dianggap lebih efektif dari pada pacaran yang biasanya banyak membuang-buang waktu.

4. Proses yang Cepat

Setelah kedua pihak saling merasa cocok, maka proses Ta’aruf akan dilanjutkan ke jenjang yang lebih serius yaitu Khitbah atau Lamaran dan kemudian pernikahan. Sebaliknya, jika merasa tidak cocok, maka proses Ta’aruf dapat dihentikan tanpa menimbulkan permusuhan.

Bagaimana Proses Ta’aruf yang Sesuai dengan Syari’at Islam?

Setelah memantapkan niat untuk menikah, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dan dilakukan dalam proses Ta’aruf. Berikut ini adalah tahapan-tahapan Ta’aruf yang sesuai dengan syari’at Islam:

1. Bicarakan dengan Orang Tua

Ridho orang tua sangatlah penting terutama mengenai hal yang akan dilewati seumur hidup, yakni pernikahan. Untuk itu, apabila telah memiliki niat untuk menikah, maka segeralah utarakan pada orang tua. Disamping memohon do’a restu, orang tua juga dapat memberikan saran yang terbaik untuk anaknya.

2. Mencari Perantara

Sebagaimana yang kita ketahui, proses Ta’aruf yang benar haruslah melalui perantara. Hal ini bisa melalui orang tua ataupun mendaftar melalui media Ta’aruf online. Penting untuk diketahui, Ta’aruf yang sesuai dengan syari’at Islam harus memiliki perantara. Hal ini bertujuan untuk menghindari fitnah maupun zina.

3. Bertukar Biodata

Proses selanjutnya adalah saling bertukar biodata. Hal ini bertujuan untuk mengenal diri satu sama lain. Proses ini juga dilakukan untuk menghindari intensitas bertemu antara pihak wanita maupun laki-laki yang akan berta’aruf.

4. Pertemuan Kedua Keluarga

Setelah merasa cocok, dan kedua calon sepakat untuk melakukan proses selanjutnya, maka pertemuan keluarga dapat dilaksanakan. Sebab, pernikahan bukan hanya menyatukan dua insan saja, melainkan juga menyatukan dua keluarga.

5. Memohon Petunjuk Melalui Solat Istikharah

Selain ridho orang tua, Ridho Allah juga merupakan hal yang harus diraih. Hal ini dapat dilakukan melalui Sholat Istikharah. Mintalah petunjuk kepada Allah sebab Dialah yang Maha membolak-balikkan hati manusia.

6. Khitbah atau Lamaran

Langkah selanjutnya adalah khitbah yang merupakan permintaan dari pihak laki-laki kepada pihak perempuan dengan maksud untuk dinikahi. Khitbah dapat dilakukan oleh laki-laki secara langsung maupun perwakilan dari keluarga. Prose ini dapat dikatakan selesai apabila wanita sudah mengatakan ‘Iya’.

7. Akad

Puncak dari proses Ta’aruf merupakan Akad. Akad atau pernikahan adalah ikatan yang menyatukan antara laki-laki dan perempuan dalam satu ikatan suci yang diridhoi Allah. Sementara walimah merupakan acara yang dilakukan sebagai bentuk rasa syukur atas berlangsungnya akad.

Nah, itulah tadi mengenai apa itu Ta’aruf dalam Islam serta kemuliaan dan proses Ta’aruf. Sejatinya segala hal yang dilakukan dengan niat yang baik dan mengharap ridho Allah, maka akan dipermudah urusannya. Semoga artikel ini bermanfaat, ya!

Perhitungan Serta Penentuan Nisab Zakat Mal Uang

Perhitungan Serta Penentuan Nisab Zakat Mal Uang

Zakat merupakan bagian dari Rukun Islam yang ke empat. Salah satu zakat yang harus dikeluarkan adalah zakat maal atau zakat harta. Zakat maal adalah perintah untuk mengeluarkan sebagian harta yang dimiliki kepada orang tertentu yang berhak menerimanya. Salah satu hal penting dalam zakat maal yang harus diketahui adalah nisab zakat mal uang.

Syarat Wajib Harta yang Dikenakan Zakat

Salah satu hal yang harus diperhatikan sebelum membayar zakat harta adalah syarat wajibnya. Hal ini berkenaan dengan kapan dan apa yang menyebabkan suatu harta dikenakan wajib zakat. Berikut adalah syarat wajib harta yang dikenakan zakat:

  • Merupakan milik pribadi
  • Harta yang akan dizakatkan tidak mengalami pengurangan nilai
  • Harta bertambah atau berkembang
  • Sudah mencapai nisab
  • Melebihi dari kebutuhan pokok
  • Tidak terikat hutang
  • Sudah mencapai haul (1 tahun)

Macam-Macam Zakat Mal dan Nisabnya

Zakat mal memiliki aturan hukum, persyaratan, serta ketentuan-ketentuan lain dalam pelaksanaannya. Salah satu hal yang harus diperhatikan adalah nisab. Nisab zakat mal uang merupakan batas paling rendah harta dikenakan wajib zakat. Berikut ini akan dibahas macam macam zakat mal termasuk nisab zakat mal uang.

1. Emas, Perak, serta Uang

Emas dikenakan wajib zakat apabila sudah mencapai 85 gram atau setara dengan 20 dinar dan telah dimiliki dalam jangka waktu satu tahun atau lebih. Sementara perak nisabnya yaitu 600 gram atau setara dengan 200 dirham dan telah dimiliki selama setahun.

Artinya, apabila seseorang telah memiliki simpanan berupa emas atau perak yang sudah mencapai jumlah tertentu dan dalam jangka waktu penyimpanan satu tahun, maka harta tersebut dikenakan wajib zakat sebesar 2,5%.

Hal ini juga berlaku terhadap simpanan berupa uang baik dalam bentuk tabungan ataupun investasi. Besaran zakat yang dikeluarkan menyesuaikan dengan harga 85 gram emas. Apabila harga 1 gram emas bernilai Rp. 600.000,-/gram, maka zakat yang wajib dikeluarkan sebesar Rp.51.000.000,-.

2. Harta Niaga

Harta niaga adalah harta yang diperuntukkan bagi keperluan jual beli, baik berupa alat maupun pakaian, perhiasan, dan lain sebagainya. Seperti halnya harta simpanan, harta niaga juga dikenakan wajib zakat apabila nilainya sudah setara dengan 85 gram emas.

3. Binatang Ternak

Bagi seseorang yang memiliki binatang ternak, maka juga dikenakan wajib zakat. Adapun nisabnya, apabila binatang ternak tersebut adalah unta, maka wajib zakatnya sebanyak 5 ekor. Sementara untuk sapi atau kerbau nisabnya sebanyak 5 ekor. Sedangkan kambing, nisabnya adalah 40 ekor kambing.

4. Hasil Pertanian

Seperti halnya binatang, hasil panen juga dikenakan wajib zakat apabila telah mencapai nisab dan haul. Adapun nisabnya adalah 5 wassaq, atau setara dengan 625 kilogram. Besaran zakat yang akan dikeluarkan sebanyak 10% apabila hasil panen tersebut diairi dengan air hujan saja. Sementara 5% apabila diari dengan air yang memerlukan peralatan tambahan.

Golongan yang Berhak Menerima Zakat Mal

Sebagai salah satu dari bagian rukun islam, tentu saja zakat memiliki sejumlah aturan yang mengikat. Termasuk siapa saja yang berhak menerima zakat mal. Sebagaimana firman Allah SWT dalam surat At-Taubah ayat 60, terdapat 8 golongan orang yang berhak menerima zakat:

  • Fakir: Fakir adalah orang yang tidak  memiliki apa-apa, sehingga mereka tidak mampu untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari.
  • Miskin: Miskin berbeda dengan fakir. Miskin adalah orang yang masih memilliki harta, akan tetapi  tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
  • Amil: Amil merupakan orang yang bertugas untuk mengumpulkan dan membagikan zakat
  • Muallaf: Muallaf yaitu orang yang baru saja masuk Islam dan membutuhkan bantuan guna memenuhi kebutuhan dan menguatkan syariah serta tauhid.
  • Hamba Sahaya: Hamba sahaya merupakan budak yang ingin memerdekakan dirinya. Maka golongan ini berhak menerima zakat.
  • Gharim: Adalah golongan orang yang berhutang guna memenuhi kebutuhan hidup untuk mempertahankan jiwa dan keimanannya.
  • Fisabilillah: Adalah golongan orang yang berperang di jalan Allah baik dalam bentuk jihad, kegiatan dakwah dan sebagainya.
  • Ibnu Sabil: Ibnu sabil merupakan golongan orang yang kehabisan bekal di perjalanannya dalam wujud ketaatan kepada Allah SWT.

Nah, itulah tadi penjelasan mengenai nisab zakat mal uang, serta golongan orang yang berhak menerimanya. Jangan lupa untuk membayar zakat apabila telah mencapai nisab dan haul. Sebab hukumnya adalah wajib dan merupakan bagian dari rukun Islam.

Baca Juga : Manfaat Membaca Surat Al Kahfi Untuk Tabungan di Akhirat