Tata Cara Sedekah Ke Anak Yatim yang Bisa Dilakukan

Terdapat banyak tata cara sedekah ke anak yatim yang bisa dilakukan. Seperti misalnya memberikan baju, pendidikan yang layak dan sebagainya. sedekah ke anak yatim bisa dengan mudah dilakukan melalui panti asuhan. Selanjutnya panti itulah yang akan membagikan sedekah secara merata kepada anak asuhnya.

Sedekah untuk anak yatim memiliki hikmah yang begitu besar. Seperti pahala yang terus mengalir meski sudah meninggal, serta menjauhkan diri dari api neraka. Sedekah juga bisa menjadi sarana membersihkan harta serta bisa menyejukkan hati.

1. Menjamin Makanan Hariannya

Tata cara sedekah ke anak yatim pertama yakni dengan menjamin makanan hariannya. Allah menyebutkan menyantuni anak yatim merupakan sedekah yang sangat dianjurkan. Bahkan jika menyepelekannya, Allah mengancam dengan sebutan pendusta agama.

Sedekah bisa dilakukan dengan memberikan sembako untuk kebutuhan makan mereka sehari-hari. Atau opsi lain donatur juga bisa memberikan makanan yang sudah matang dan siap santap kemudian disalurkan kepada  mereka secara kontinyu.

2. Sedekah Pakaian

Sandang  juga merupakan salah satu kebutuhan pokok di panti asuhan. Donatur bisa memberikan baju bekas yang layak pakai atau jika memiliki rezeki berlebih, belikanlah baju baru. Ajak mereka belanja bersama, anak-anak pasti akan senang.

Jika dalam suatu panti asuhan, ada bayi. Belikanlah pakaian bayi dan popok. Tak hanya baju harian, anak-anak yatim piatu pastinya juga membutuhkan seragam sekolah. Berikan seragam yang layak pakai. 

3. Sedekah Perlengkapan Sekolah

Selain seragam sekolah, perlengkapan sekolah lain juga dibutuhkan untuk menunjang kegiatan belajar. Seperti misalnya buku,  tas, dan sepatu. Buku pelajaran dan buku bacaan yang menunjang bisa menjadi alternatif donasi untuk anak yatim. Tak harus baru, boleh bekas asal layak pakai.

Selain buku pelajaran, donatur juga bisa memberikan buku cerita atau mainan yang mengedukasi tentunya. Tetapi cermati lebih dulu isi buku yang akan disumbangkan. Sesuaikan juga dengan penghuni panti apakah anak-anak atau remaja.

4. Membelikan Perlengkapan ibadah

Cara sedekah lainnya yakni dengan memberikan perlengkapan ibadah. Untuk donasi jenis ini, pastikan sudah mengetahui jumlah penghuni panti terlebih dahulu. Perlengkapan ibadah yang dibutuhkan meliputi sajadah, al quran, mukenah, kerudung, baju koko, busana muslim, dan sebagainya. Tentukan mana yang akan dipilih.

5. Memberikan Pendidikan yang Layak

Anak yatim memiliki kehidupan yang berbeda dengan anak lainya. Mereka tinggal tanpa orang tua. Jauh dari asuhan dan kasih sayang keluarga. Nasib anak yatim merupakan tanggung jawab umat bersama.

Mungkin pernah dijumpai, anak yatim yang tidak bersekolah karena terkendala ekonomi atau tidak adanya dukungan moril. Karena itu, memberikan pendidikan yang layak merupakan salah satu sedekah anak yatim yang sangat dibutuhkan saat kondisi seperti itu.

Selain memberikan materi, moral juga harus dibangun. Jadi pendekatan spiritual juga penting. Selalu monitoring perkembangan mereka untuk memastikan anak tersebut benar-benar memanfaatkan kesempatan bersekolah gratis.

6. Memberikan Pendidikan Informal

Tak hanya pendidikan formal, pendidikan informal juga penting diberikan seperti misalnya mengaji, mengikuti kajian dan sebagainya. Untuk menumbuhkan rasa cinta Allah dan peduli sesama. Sangat sempurna jika memberikan pendidikan formal berdampingan dengan informal. 

Untuk lebih mudahnya, pergilah ke lembaga filantropi atau lembaga zakat nasional yang sudah tersertifikasi.  Beberapa lembaga biasanya memiliki bidang usaha yang memfokuskan diri ke bidang pendidikan dimana anak yatim yang menjadi sasaran pemberdayaan atau langsung saja datangi panti asuhan agar lebih tepat sasaran. 

Nah, itulah tata cara sedekah ke anak yatim yang bisa dilakukan. Terlepas dari jenis sumbangan yang diberikan, pastikan berikan secara tulus ya agar bisa berkah dan berbuah kebaikan kembali. Sudah memutuskan akan memberikan sedekah jenis apa?

Baca Juga : Apa Beda Zakat dan Sedekah? Simak Penjelasannya

Apa Beda Zakat dan Sedekah? Simak Penjelasannya

Islam mengajarkan umatnya untuk menolong dengansesama. Setiap harta yang dimiliki, sebenarnya terdapat hak orang-orang fakir dan miskin. Baik berupa zakat ataupun sedekah. Beda zakat dan sedekah cukup mencolok baik berdasarkan hukum maupun jumlah dan waktunya.

Pada hakikatnya zakat sedekah maupun infaq adalah sama. yakni sama-sama mengeluarkan harta untuk diberikan kepada mereka yang berhak menerimanya. Terdapat beberapa hal fundamental yang membedakan antara keduanya.

1. Berdasarkan Hukum Syariat

Beda zakat dan sedekah yang pertama yakni ditinjau dari hukum syariat. Zakat merupakan kewajiban setiap orang islam yang harus ditunaikan. Hal tersebut karena zakat adalah rukun islam yang ketiga. orang yang tidak membayar zakat keislamnya belum sempurna.

Sementara sedekah merupakan hal yang sunnah. Dikerjakan berpahala dan jika tidak, tidak juga mendapatkan dosa. Sedekah ini dianjurkan untuk mereka yang memiliki kelebihan rezeki untuk sedikit meringankan beban mereka yang membutuhkan.

2. Perbedaan Penerimanya

Penerima merupakan hal yang menjadi pembeda utama antara zakat serta sedekah. Penerima zakat sudah ditentukan oleh Allah dalam Al Quran yakni berupa delapan golongan atau mustahiq.  Terkadang orang menganggap semua golongan layak mendapat zakat.

Nyatanya tidak. Karena itu, sebaiknya zakat diberikan langsung kepada yang berhak atau melalui lembaga zakat resmi agar tepat sasaran.  Delapan asnaf golongan penerima zakat yakni fakir, miskin, amil, ibn sabil, muallaf, budak, orang yang terlilit hutang dan mereka yang berjuang di jalan Allah.

Terdapat ketentuan lain mengenai penerima zakat, yakni dilarang memberikan kepada orang yang masih dalam tanggungan. Misalnya anak tidak boleh memberikan zakat kepada ibunya.  Dilarang juga diberikan kepada cucu atau anggota keluarga lain dibawah atau di atasnya.

Sementara sedekah, sasaran semua orang yang memang dianggap membutuhkan bantuan. .  Sedekah bisa diberikan kepada mereka yang tidak termasuk kategori 8 asnaf, misalnya anak yatim atau lainnya. bisa juga diberikan kepada kakek, cucu atau anggota keluarga lain

3. Jumlah yang Dikeluarkan Serta Waktunya

Jumlah zakat diatur dengan rinci dan sudah ditetapkan batasnya. Terdapat dua jenis Zakat zakni fitrah dan harta atau mal. Zakat fitrah dikeluarkan saat menjelang idul fitri dan hanya satu kali dalam setahun. Jika sudah melewati waktunya, tidak lagi disebut zakat, melainkan sedekah biasa.

Besarannya pun sudah ditetapkan yakni 2.5 beras untuk satu orang. Beras dapat diganti dengan makanan pokok masyarakat setempat. Sementara zakat mal bisa dikeluarkan berdasarkan haul dan nishab.

Misalnya dikenakan jika sudah berumur satu tahun untuk harta benda, hal ini tidak berlaku bagi produk pertanian. Serta sudah mencapai nishab yakni 750 kg atau 5 wasaq untuk bahan makanan pokok.

4. Berbeda Arti Dan Maknanya

Secara bahasa, zakat diartikan sebagai tumbuh, bertambah, mensucikan dan berkah. Sementara sedekah berasal dari kata utama as-shidiq yang artinya kejujuran. Dikatakan demikian karena sedekah merupakan bentuk kejujuran iman siapa saja yang mengeluarkannya.

Sementara secara syariat, zakat bermakna mengeluarkan sesuatu yang wajib dizakati dengan jumlah yang sudah ditetapkan. Sementara sedekah barang yang diberikan diluar yang diwajibkan syariat, tidak selalu bahan pokok.

Zakat merupakan kewajiban yang harus dikeluarkan untuk komoditas tertentu seperti binatang ternak, emas, perak atau produk pertanian. Sementara sedekah tidaklah dibatasi komoditasnya dan bukan suatu kewajiban.

Nah, itulah beda zakat dan sedekah yang penting untuk diketahui. Jangan sampai sudah bersedekah banyak, tapi zakatnya belum ditunaikan. Jangan juga saat zakat sudah ditunaikan, tetapi sedekahnya belum atau sedikit. Karena sedekah juga memiliki keutamaan yang besar jika dilakukan dengan ikhlas dan kontinyu.

Baca Juga : Takdir Jodoh Menurut Islam Dan Ketentuan Yang Utama

Takdir Jodoh Menurut Islam Dan Ketentuan Yang Utama

Setiap manusia, apalagi anak muda yang sudah cukup umur dan siap untuk menikah. Mereka akan menerka dan mendambakan siapa jodohnya di dunia. Bagaimana di kehidupan bisa menghabiskan waktu bersama orang yang diharapkan dan di sebutkan dalam doa. Namun, Bagaimana pun takdir jodoh menurut islam, semua bermuara pada Allah semata. Rahasia yang dipersiapkan untuk setiap manusia yang akan menuju jenjang pernikahan.

1. Percaya Akan Janji Allah Dalam Alquran

Bagi orang beriman, mempercayai akan janji Allah merupakan hal penting yang harus dilakukan dan difahami sepenuh hati. Beberapa ayat yang berhubungan takdir dan janji Allah kepada hamba-Nya yang beriman. 

Yaitu dengan melakukan doa yang sungguh-sungguh bagaimana memohon diberikan jodoh terbaik.Seperti yang diterangkan dalam Q.S Al Baqarah:152, bahwa saat mengingat Allah maka Allah akan mengingat hamba-Nya pula. 

Dan pada Q.S. Ghafir:60, bisa disimpulkan bahwa jika berdoa kepada Allah akan mengabulkan doa bagi hambaNya yang khusyuk berdoa. Kunci dari penerimaan takdir Allah yaitu berdoa dengan sungguh-sungguh dan ingatlah Allah sebagai sang maha Pemberi.

2. Memahami Hadis Tentang Perkara Jodoh

Hadis merupakan salah satu pedoman hidup bagi seorang muslim, dengan memahami bahwa pesan Rasulullah bahwa harus berpegang teguh pada Al-quran serta Al Hadis. Kedua wasiat itu menjadikan manusia lebih mengenal Allah. Dan dalam Hadis sendiri pun disebutkan tentang perkara jodoh, bahwa jodoh layaknya misteri.

Salah satu kesimpulan HR. Bukhari Muslim, tentang jodoh, bahwa Allah telah menetapkan empat perkara untuk manusia. Yaitu tentang rizi, ajal, amal manusia bahkan kecelakaan atau kebahagiaan yang didapatkan.Sehingga masing-masing orang bisa menyimpulkan dengan cara seksama sesuai dari hadis yang pernah didapatkan.

3. Siapakan Hati Dan Jiwa

Tazkiyatun Nafs, seharusnya hal ini merupakan dasar bahwa takdir jodoh menurut islam tidak hanya sekedar perayaan saja. Yaitu lebih mendalami maknanya dengan kesucian hati dan jiwa dalam rangka mempersiapkan diri menjemput jodoh atau menunggu jodohnya. Itulah mengapa sebuah persiapan awal begitu penting dengan melibatkan hati serta jiwa yang suci.

Dalam salah satu H.R Bukhari Musim, bahwa jika hati seoramg hamba baik, maka baiklah seluruhnya. Bisa disimpulkan bahwa menata hati ini sangat penting dan erat kaitannya dengan penghambaan kepada Allah Swt. Namun jika hati buruk, maka buruk lah seluruh tubuh dan Allah tidak menyukai hal yang buruk pada diri manusia.

4. Memandang Takdir Adalah Hal Terbaik

Sebagai umat islam dan percaya sepenuhnya pada segala yang Allah tetapkan. Maka pandangan diri terhadap takdir yang Allah beri merupakan hal terbaik yang diberikan. Pemberian dari Allah apapun itu tentu memberikan gambaran kepada manusia bahwa Allah sang Maha Pemberi. 

Sehingga manusia tidak perlu khawatir karena Allah telah memberi segalanya sesuai porsi. Dalam pemahaman yang mendalam, maka saat diberi apapun pada Allah. Segala harus disyukuri sehingga jika bersyukur, Allah akan memberikan tambahan nikmat kepada hambaNya. 

Hal ini dituangkan secara mendetail di QS. Ibrahim:7 dan dapat disimpulkan bahwa segala yang Allah beri harus disyukuri. Sehingga Allah akan selalu berikan nikmat yang tidak pernah habis.

5. Memahami Bahwa Jodoh Adalah Rahasia Allah

Segala sesuai yang ada di bumi ini berjalan sesuai apa yang Allah kehendaki. Sesungguhnya segala hal merupakan rahasia Allah, begitu pula dengan jodoh. Bahwa jodoh merupakan suatu hal yang seakan kasat mata, manusia hanya bisa melakukan rencana. 

Sementara itu, Allah dengan segala kuasanya atas makhluk akan memberikan takdir sesuai porsinya. Seperti yang dapat disimpulkan dari Q.S Lukman:34 bahwa semua makhluk tidak pernah tahu apa yang di rahim ibunya. 

Sehingga diperlukan persepsi yang sama agar informasi masuk via satu pintu. Kemudian adanya pemahan tentang hari kiamat dan pemahaman akan ayat yang diutup.

Ada beberapa takdir dan tentang jodoh, tentu orang tua akan membantu memberikan solusi. Sehingga semakin hari para pasien bisa segera sembuh dan dokter kerjasamanya terjalin mainan ini. Sehingga dalam memahami takdir jodoh menurut Islam, bisa dengan cara sholat, zakat mal, dan sebagainya.

Baca Juga : Mengenali Tanda Tanda Orang Menghadapi Sakaratul Maut

Mengenali Tanda Tanda Orang Menghadapi Sakaratul Maut

Semua orang pasti akan menghadapi yang namanya kematian tapi ada pula yang sadar di fase merasakan tanda tanda orang menghadapi sakaratul maut . Tidak ada satupun orang yang bisa menghindar dari kematian. 

Karena kematian merupakan takdir yang telah ditentukan oleh Tuhan yang tentunya tidak bisa kami hindari dan bersifat rahasia. Besarnya penderitaan saat sakaratul maut tidak dapat diketahui kecuali oleh orang yang pernah merasakan hal tersebut. Berikut pemaparan tentang kala tanda- tanda orang menghadapi sakaratul maut.

Peringatan Malaikat Menghadapi Sakaratul Maut

Diceritakan ketika para Nabi bertanya kepada Malaikat maut. Apakah Malaikat maut telah memberikan peringatan kepada manusia agar mereka bersiap-siap menerima kedatangan Malaikat maut?

Malaikat maut pun menjawab memberikan peringatan kepada manusia dengan mengirimkan pesan yang sangat banyak untuk segera bertobat, diantaranya :

  1. Tenaga yang sudah mulai melemah
  2. Penyakit
  3. Adanya uban rambut
  4. Bertambahnya usia
  5. Serta berubahnya penglihatan dan pendengaran.

Tanda Tanda Orang Menghadapi Sakaratul Maut

Menurut sumber buku informasi dua media yang ditulis oleh Lukman Hakim saya dapat menyimpulkan bahwa, ada tanda-tanda menjelang sakaratul maut berikut adalah:

1. Tanda 100 Hari Akan Meninggal

Tanda tanda orang menghadapi sakaratul maut ini tidak semua orang mampu untuk menyadarinya dan hanya akan disadari oleh orang yang telah dikehendakinya. Ini akan berlaku setelah waktu ashar yang akan menunjukkan adanya perubahan pada tubuh yaitu dari ujung rambut hingga ujung kaki mengalami getaran yang seakan-akan menggigil. 

Tanda-tanda ini akan memiliki peluang baik bagi mereka yang telah ditakdirkan untuk bisa merasakan tanda-tanda kematian kemudian memanfaatkannya untuk berbuat hal positif dan mempersiapkan diri dengan amalan yang akan dibawa mati nanti.

2. Tanda 40 Hari Sebelum Hari Kematian

Tanda ini juga berlaku seusai ashar. Akan merasakan bagian sekujur tubuh yang berdenyut-denyut. Pada tanda ini malaikat maut akan selalu mengikuti kapan pun. Dan malaikat maut akan menampakkan sekilas wajahnya kepada mereka yang terpilih akan merasakan bingung seketika. Malaikat maut ini wujudnya hanya seorang yang kuasanya mampu mencabut jumlah nyawa orang yang akan dicabutnya.

3. Tanda 7 Hari Sebelum Hari Kematian

Tanda ini akan diberikan kepada orang yang sedang diuji dengan adanya musibah penyakit yang menimpa dimana sudah tidak ada lagi semangat dan selera untuk makan.

4. Tanda 3 Hari

Terjadi adanya denyutan pada dahi sebelah kanan dan kiri, jika ada tanda ini maka dianjurkan berpuasa agar perut dihilangkan dari kotoran dan najis. Hal ini akan memudahkan urusan bagi orang yang akan memandikan jenazah nanti. Pada tanda ini juga terdapat perubahan terhadap tubuh yaitu mata sudah tidak dapat bersinar lagi dan adanya perubahan pada tubuh yang lainnya.

5. Tanda Akhir Hari Kematian

Akan merasakan kesejukan dibagian tubuh. Dengan hal ini dianjurkan membaca kalimat syahadat dan memohon ampun kepada Allah. Manusia akan berdiam diri menantikan kedatangan malaikat maut menjemput dan kembali dimana asal manusia sebenarnya yang telah menghidupkan di perut ibu dan ketika kematian menjemput manusia juga akan kembali kepadanya.

Adapun cara malaikat mencabut ruh manusia

Malaikat Izrail yang diciptakan Allah dari cahaya memiliki kaki sebanyak 70.000 dan memiliki sayap sebanyak 4.000. Bahwa sesungguhnya telah dijelaskan dalam riwayat lainnya bahwa Malaikat Izrail mempunyai 4 wajah, yaitu:

  1. Diatas kepala untuk mencabut ruh para nabi dan malaikat
  2. Berada di muka untuk mencabut ruh orang mukmin
  3. Wajah yang berada di punggungnya untuk mencabut ruh orang kafir
  4. Wajah yang berada di kedua telapak kakinya untuk untuk mencabut ruh pada jin.

Bagaimana ? Dengan adanya tanda tanda orang menghadapi sakaratul ini apa kamu mempersiapkan diri ? Sebagai umat manusia harus percaya adanya kematian karna semua manusia akan kembali kepada Sang Kuasa yang mana telah senantiasa memberikan nikmat untuk hidup di dunia. Umur manusia tidaklah panjang tidak tau kapan akan dijemput oleh Sang Kuasa. Maka dari itu mari lakukan hal positif dan selalu memohon ampun, agar selalu diberikan kemudahan dalam menghadapi hal tersebut.

Baca Juga : Hikmah Sholat Idul Adha yang Harus Diketahui

Hikmah Sholat Idul Adha yang Harus Diketahui

Sholat Idul Adha merupakan sholat yang dikerjakan setiap Hari Raya Idul Adha. Hari Raya Idul Adha jatuh setiap 10 Dzulhijjah. Masih banyak yang belum mengetahui mengenai keutamaan dan hikmah sholat Idul Adha. Salah satu hikmahnya adalah Allah SWT akan memberikan banyak pahala. Masih banyak hikmah sholat Idul Adha lainnya, berikut ialah pembahasannya.

1. Dihapuskan Dosanya

Hikmah sholat Idul Adha yang pertama ialah dihapuskan dosa-dosanya. Untuk mencapainya lakukanlah ibadah puasa Arafah dahulu. Puasa Arafah merupakan puasa sunah yang dikerjakan pada tanggal 9 Dzulhijjah. Dengan melakukan puasa Arafah dan melaksanakan sholat Idul Adha, maka dosa selama setahun ke belakang dan dosa selama setahun ke depan akan dihapuskan.

2. Mendapatkan Pahala yang Berlipat

Hikmah yang kedua sudah disinggung sebelumnya yakni mendapatkan pahala yang berlipat. Rasulullah SAW pernah bersabda bahwa Allah SWT sangat memuliakan Hari Raya Idul Adha yang jatuh pada bulan Dzulhijjah. 

Karena bulan Dzulhijjah termasuk bulan yang suci dan mulia. Maka dari itu kerjakanlah kebaikan sebanyak-banyaknya agar memperoleh pahala yang banyak. Salah satu kebaikan itu ialah melaksanakan sholat Idul Adha.

3. Dijauhkan Dari Api Neraka

Hikmah yang ketiga ialah dijauhkan dari panasnya siksa api neraka. Hal ini sesuai dengan hadis yang menyatakan bahwa barang siapa yang mengerjakan suatu ibadah dengan ikhlas, maka akan dijauhkan dari api neraka. 

Lakukanlah ibadah di bulan Dzulhijjah dengan hati yang ikhlas dan niat yang murni untuk mendapatkan kebaikan. Dengan begitu Allah SWT akan menjauhkan dari siksa api neraka. 

Lakukanlah semua amalan ibadah di bulan yang suci tersebut dengan ikhlas karena Allah SWT. Perbanyaklah ibadah dan kebaikan untuk mendapatkan rida dan ampunan dari Allah SWT. Mintalah kepada-Nya untuk dijauhkan dari panasnya siksa api neraka.

4. Mempererat Tali Silaturahim

Hikmah yang keempat ialah mempererat tali silaturahim dengan saudara dan orang-orang sekitar. Dengan menyambung tali silaturahim dapat melipat gandakan pahala serta melancarkan rezeki. Solat Idul Adha dilaksanakan secara berjamaah, dengan begitu dapat bertemu dengan orang muslim lainnya untuk menyambung tali silaturahim.

Sehingga orang-orang yang sebelumnya susah bertemu karena kesibukannya dapat bertemu dan berkumpul saat melaksanakan sholat Idul Adha ini. Dengan begitu pahala yang didapatkan akan semakin banyak dan dapat memperlancar rezeki serta mempererat tali persaudaraan.

5. Menjadi Penyelamat di Dunia dan Akhirat

Hikmah yang kelima ialah menjadi penyelamat di dunia dan di akhirat. Penyelamat di dunia maksudnya akan dijauhkan dari berbagai bahaya dan musibah di dunia ini. Sementara penyelamat di akhirat maksudnya akan dijauhkan dari segala siksa saat sudah di akhirat kelak. 

Melaksanakan sholat Idul Adha dapat menjadi penyelamat di dunia dan di akhirat kelak. Selain itu saat beribadah sholat Idul Adha, dapat mengajarkan mengenai rasa sosial terhadap sesama. 

Sehingga dapat terhindar dari sikap sombong dan tinggi hati. Karena saat melaksanakan ibadah sholat Idul Adha secara berjamaah seseorang tidak akan dilihat status sosialnya, semuanya sama saja di mata Allah SWT.

6. Menjalankan Sunnah Rasulullah

Hikmah sholat Idul Adha yang terakhir ialah menjalankan sunnah Rasulullah SAW. Rasulullah mengajak umatnya untuk menjalankan sholat Idul Adha dan melaksanakan kurban sebagai bentuk syukur atas nikmat yang telah Allah SWT berikan. Selain mengingatkan bersyukur dengan menjalankan sunnah Rasulullah SAW, maka pahala yang didapatkan akan semakin banyak.

Itulah tadi hikmah sholat Idul Adha yang harus diketahui. Sebenarnya masih banyak hikmah dan keutamaan sholat Idul Adha lainnya. Semoga artikel ini dapat bermanfaat untuk mengetahui mengenai hikmah dan keutamaan dari sholat Idul Adha.

Baca Juga : Hukum Nikah Siri Dalam Islam dan Tata Cara Agar Sah Secara Agama

Hukum Nikah Siri Dalam Islam dan Tata Cara Agar Sah Secara Agama

Akhir-akhir ini masyarakat seringkali disuguhkan dengan fenomena nikah siri terutama dikalangan artis dan para pejabat. Dengan banyaknya kasus nikah siri, memunculkan tanda tanya apa yang dimaksud dengan nikah siri serta bagaimana hukum nikah siri dalam islam.

Pada dasarnya, nikah siri bukanlah tradisi umat islam. Sebab Rasulullah SAW justru menyarankan agar mengumumkan pernikahan kepada khalayak ramai. Hal tersebut merupakan pondasi dari membangun rumah tangga yang sakinah, mawaddah, dan warahmah.

Apa yang dimaksud dengan Nikah Siri?

Kata “siri” diserap dari Bahasa arab yang memiliki arti “rahasia”. Imam Maliki berpendapat bahwa, pernikahan siri dilakukan atas dasar kemauan suami, saksi yang hadir harus merahasiakannya dari orang lain sekalipun kepada keluarga. Mazhab Maliki tidak memperbolehkan adanya nikah siri. Bahkan pelaku nikah siri akan dikenakan hukum cambuk jika keduanya telah melakukan hubungan seksual serta diakui oleh empat saksi.

Sementara madzhab Hambali memperbolehkan nikah siri apabila dilaksankan sesuai dengan ketentuan dan syari’at Islam meskipun pernikahannya dirahasiakan dari pihak lain. Berdasarkan sejarah, dahulu Umar Bin Khattab pernah mengancam pelaku nikah siri dengan hukum dera.

Dengan kata lain, nikah siri dapat diartikan sebagai berikut:

  • Nikah tanpa adanya wali. Pernikahan ini dilakukan sebab wali dari pihak perempuan tidak setuju atau karena hanya ingin memuaskan nafsu syahwat saja.
  • Pernikahan yang sah secara agama namun tidak tercatat dalam lembaga negara. Hal ini bisa saja disebabkan oleh beberapa faktor seperti faktor biaya.
  • Pernikahan yang dirahasiakan sebab menghindari beberapa hal tertentu seperti fitnah dan ghibah.

Hukum Nikah Siri dalam Islam

Islam sejatinya melarang pernikahan siri. Sebab hal ini didasarkan hadits nabi yang artinya, “Tidak sah suatu pernikahan tanpa seorang wali.” Berdasarkan hadits ini dapat disimpulkan bahwa pernikahan yang dilakukan tanpa adanya wali memiliki sifat yang batil. Pernikahan siri termasuk kedalam perbuatan maksiat kepada Allah, dan sepatutnya mendapatkan sanki di dunia. Akan tetapi saat ini belum ada ketentuan yang jelas mengenai bentuk sanksi yang diterima oleh pelaku nikah siri.

Sementara pada kasus nikah siri yang tidak bersifat rahasia namun tidak dicatatkan dalam lembaga pencatatan sipil, maka hukumnya adalah sah menurut agama Islam. Hukumnya adalah mubah dan pelaku tidak akan dikenakan sanksi atau hukuman.

Dampak Negatif Nikah Siri

Pernikahan siri merupakan pernikahan yang sarat akan dampak negatif terutama bagi kaum perempuan. Sudah banyak pemberitaan mengenai artis atau publik figur yang menjalani pernikahan siri kemudian terlibat masalah dalam hal harta warisan maupun anak. Lantas, apa saja dampak negatif dari pernikahan secara siri?

  • Istri yang dinikahi secara siri tidak dapat dianggap sebagai istri sah dimata hukum.
  • Istri yang dinikahi secara siri tidak berhak atas hak waris dari harta milik suami.
  • Perselingkuhan sangat wajar terjadi terhadap perkawinan siri.
  • Maraknya kasus poligami.
  • Istri yang dinikahi secara siri serta anak hasil dari pernikahan siri tidak dapat menuntut haknya. Hal ini disebabkan karena tidak adanya bukti hukum yang kuat atas pernikahan.
  • Terjadinya pelecehan seksual terhadap kaum perempuan sebab hanya dianggap sebagai pelampiasan nafsu sesaat.
  • Istri yang dinikahi secara siri tidak dapat menjalin relasi yang baik secara sosial karena dianggap tinggal serumah dengan laki-laki tanpa ikatan perkawinan yang sah secara hukum.

Demikianlah penjelasan mengenai hukum nikah siri dalam islam. Seorang wanita yang akan menikah secara siri hendaknya menimbang keputusan tersebut terlebih dahulu. Sebab pernikahan yang dilakukan secara siri bisa saja menimbulkan kerugian dikemudian hari. Islam menganjurkan agar mencari jodoh melalui cara yang benar seperti melalui ta’aruf atau shalat istikharah. Semoga artikel ini dapat bermanfaat.

Baca Juga : Ulasan Rukun Nikah Siri Serta Dampak Dari Nikah Siri Lengkap

Ulasan Rukun Nikah Siri Serta Dampak Dari Nikah Siri Lengkap

Bagi sebagian orang, pernikahan adalah sesuatu yang harus diumumkan kepada orang banyak. Hal ini guna menyebarkan kabar bahagia serta menunjukkan bahwa mereka telah sah sebagai suami istri. Namun, tak sedikit juga orang yang memilih menyembunyikan pernikahan mereka. Inilah yang disebut dengan nikah siri. Nikah siri merupakan pernikahan yang dilakukan secara rahasia dan hanya berdasarkan aturan agama serta adat. Lantas, apa saja rukun nikah siri? Apa saja dampak yang ditimbulkannya? Berikut akan dibahas secara lengkap!

Rukun Nikah Siri

Pernikahan secara sisi biasanya dilakukan oleh masyarakat yang beragama islam. Dalam agama Islam, suatu pernikahan dapat dikatakan sah apabila telah memenuhi 5 rukun nikah. Yaitu adanya calon suami, calon isteri, wali nikah dari calon perempuan, 2 orang saksi, dan ijab qabul. Dengan kata lain, rukun nikah menjadi salah satu syarat sahnya suatu pernikahan.

Syarat Nikah Siri Bagi Laki-Laki

Setelah memenuhi rukun nikah, maka selanjutnya adalah memastikan bahwa pasangan yang akan menikah telah memenuhi syarat sebagai berikut:

  1. Beragama islam
  2. Laki-laki dan bukan transgender
  3. Tidak melakukan praktik nikah siri atas dasar terpaksa
  4. Tidak memiliki 4 orang istri
  5. Calon perempuan yang akan dinikahi bukan merupakan mahram
  6. Pernikahan tidak dilakukan dalam masa ihram atau umrah

Syarat Nikah Siri Bagi Perempuan

Sementara syarat sah nikah siri bagi perempuan adalah sebagai berikut:

  1. Beragama islam
  2. Perempuan dan bukan transgender
  3. Mendapatkan izin dari wali yang sah
  4. Bukan merupakan istri orang lain dan tidak dalam masa iddah
  5. Tidak menikahi mahramnya sendiri
  6. Pernikahan tidak dilakukan dalam masa ihram atau umrah.

Hukum Nikah Siri dalam Islam

Islam sejatinya melarang pernikahan siri. Sebab hal ini didasarkan hadits nabi yang artinya, “Tidak sah suatu pernikahan tanpa seorang wali.” Berdasarkan hadits ini dapat disimpulkan bahwa pernikahan yang dilakukan tanpa adanya wali memiliki sifat yang batil. Pernikahan siri termasuk kedalam perbuatan maksiat kepada Allah, dan sepatutnya mendapatkan sanki di dunia. Akan tetapi saat ini belum ada ketentuan yang jelas mengenai bentuk sanksi yang diterima oleh pelaku nikah siri.

Sementara pada kasus nikah siri yang tidak bersifat rahasia namun tidak dicatatkan dalam lembaga pencatatan sipil, maka hukumnya adalah sah menurut agama Islam. Hukumnya adalah mubah dan pelaku tidak akan dikenakan sanksi atau hukuman.

Dampak Nikah Siri Secara Hukum

Nikah siri memiliki sejumlah dampak negatif terutama bagi kaum perempuan. Lantas, berdasarkan dampak negatif yang ditimbulkannya, apa saja akibat dari nikah siri apabila dilihat dari kacamata hukum? Berikut ulasannya: 

  1. Tidak dapat menuntut suami atas nafkah baik lahir maupun batin. Istri yang dinikahi secara siri tidak dapat menuntut nafkah baik lahir maupun batin kepada suami. Hal ini dikarenakan pernikahan mereka tidak diakui secara hukum.
  2. Pernikahan tidak tercatat di lembaga kenegaraan. Sehingga nasib anak dan pernikahan menjadi tidak jelas. Anak tidak dapat mengurus akte kelahiran. Efeknya adalah anak akan kesulitan masuk sekolah sebab saat ini semua sekolah menjadikan akte kelahiran sebagai syarat pendaftaran.
  3. Anak tidak dapat menuntut hak waris sebab tidak ada bukti nyata yang menunjukkan hubungan antara orang tua dan anak.

Demikianlah penjelasan mengenai rukun nikah siri dalam islam. Seorang wanita yang akan menikah secara siri hendaknya menimbang keputusan tersebut terlebih dahulu. Sebab pernikahan yang dilakukan secara siri bisa saja menimbulkan kerugian dikemudian hari. Islam menganjurkan agar mencari jodoh melalui cara yang benar seperti melalui ta’aruf atau shalat istikharah. Semoga artikel ini dapat bermanfaat.

Baca Juga : Mengenal Tawaf Qudum Dan Macam-Macam Tawaf Lainnya

Mengenal Tawaf Qudum Dan Macam-Macam Tawaf Lainnya

Tawaf merupakan salah satu bagian dari ibadah umroh dan haji. Apa yang dimaksud dengan tawaf? Tawaf adalah salah satu rukun haji dan umroh yang dilaksanakan dengan cara mengelilingi Ka’bah sebanyak tujuh putaran. Salah satunya adalah Tawaf Qudum. Tawaf Qudum adalah tawaf pertama yang dilakukan saat seseorang tiba di kota Makkah. Berikut penjelasan lengkapnya!

Definisi Tawaf

Tawaf merupakan kegiatan yang dilakukan dengan cara mengelilingi Ka’bah sebanyak tujuh putaran, yang dimulai dan diakhiri pada arah sejajar Hajar Aswad, dengan posisi Ka’bah berada disebelah kiri orang yang sedang melakukan tawaf.

Tawaf merupakan salah satu bukti keimanan seseorang kepada Allah SWT dalam melaksanakan syariat islam. Hikmah yang terkandung dalam proses tawaf adalah untuk mengingat kebesaran Allah serta sebagai upaya untuk mendekatkan diri kepada-Nya.

Apa Saja Syarat-Syarat Tawaf?

Dalam melaksanakan tawaf, tentu saja ada beberapa hal yang harus dipenuhi. Adapun syarat-syarat tersebut adalah:

  • Melaksanakan segala yang menjadi syarat sah shalat yaitu suci, berniat, menutup aurat, dan lain sebagainya. Pada saat tawaf, muthowif masih diperkenankan untuk berkomunikasi dengan orang lain.
  • Posisi pundak kiri harus lurus ke arah kiblat.
  • Putaran tawaf harus berlawanan dengan arah jarum jam dan dimulai pada titik hajar aswad.
  • Tawaf harus dilakukan sebanyak tujuh kali.

Macam-Macam Tawaf      

Tawaf terdiri dari empat macam. Yaitu Tawaf Qudum, Tawaf Ifadah, Tawaf Sunah, kemudian yang terakhir adalah Tawaf Wada’ atau tawaf perpisahan. Berikut penjelasannya:

1. Tawaf Qudum

Tawaf Qudum adalah tawaf yang dilakukan saat seseorang pertama kali sampai di kota Mekah. Jadi dengan kata lain, Tawaf Qudum adalah tawaf selamat datang. Rasulullah SAW selalu melaksanakan Tawaf Qudum setiap kali beliau masuk ke dalam Masjidil Haram. Beliau melaksanakan Tawaf Qudum sebagai pengganti sholat Tahiyatul Masjid.

Hukum tawaf qudum adalah Sunnah. Apabila tidak dikerjakan maka tidak akan membatalkan pelaksanaan haji atau umrah. Pelaksanaannya pun tidak perlu berlari. Cukup berjalan seperti biasa saja. Dan bagi wanita yang sedang haid atau nifas tidak perlu melaksanakan tawaf Qudum.

2. Tawaf  Tathawwu

Tawaf yang satu ini diperbolehkan untuk dilakukan kapan saja. Amalan tawaf ini juga berfungsi sebagai pengganti sholat Tahiyatul Masjid saat pertama kali memasuki Masjidil Haram.

3. Tawaf Ifadah

Tawaf ifadah adalah salah satu rukun haji. Sehingga apabila tidak dilaksanakan, maka dapat membatalkan proses ibadah haji. Pelaksanaan tawaf ini pada tanggal 10 Zulhijjah setelah melempar jumroh dan tahallul. Selain pada hari tersebut, tawaf ifadah dapat dilakukan pada hari tasyriq yaitu tanggal 11, 12, dan 13 Zulhijjah.

4. Tawaf Wada’

Tawaf yang terakhir adalah tawaf wada’ atau tawaf perpisahan. Atau bisa juga disebut dengan tawaf Shadar (tawaf kembali). Disebut demikian karena setelah melaksanakan tawaf ini, para Jemaah haji akan meninggalkan kota Mekah dan kembali ke tempat masing-masing. hukum tawaf ini adalah wajib. Apabila tidak dilakukan maka Jemaah haji akan dikenakan dam atau denda.

Apa Saja Sunnah Saat Melaksanakan Tawaf?

Terdapat beberapa amalan yang dapat menambah keberkahan pada saat melaksanakan tawaf. Diantaranya adalah sebagai berikut:

  • Tawaf dilakukan dengan berjalan kaki. Kecuali bagi Jemaah yang kakinya sakit atau kondisi fisiknya sedang lemah.
  • Mencium hajar aswad setiap kali melintasinya. Apabila tidak memungkinkan untuk mencium hajar aswad, maka Jemaah haji dapat memberi isyarat seperti sedang mencium hajar aswad.
  • Berjalan cepat pada putaran 1 hingga 3. Dan berjalan biasa pada putaran ke 4 hingga 7.
  • Melaksanakan shalat Sunnah dua rakaat di belakang makam nabi Ibrahim setelah selesai melaksanakan tawaf.

Demikianlah pembahasan mengenai apa itu tawaf, apa saja jenis-jenis tawaf , serta amalan-amalan lain yang dapat dilakukan pada saat mengerjakan tawaf. Semoga bermanfaat.

Baca Juga : Tata Cara Tawaf Sesuai Sunnah yang Harus Dipahami Setiap Muslim

Tata Cara Tawaf Sesuai Sunnah yang Harus Dipahami Setiap Muslim

Tawaf adalah amalan ibadah saat berhaji atau umrah dengan mengelilingi Ka’bah sebanyak tujuh kali. Diawali dan diakhiri dengan mengarah sejajar dan searah dengan Hajar Aswad. Banyak yang mengetahui mengenai pengertian tawaf, namun tidak mengetahui tata cara tawaf itu sendiri. Untuk itu kali ini akan dibahas mengenai tata cara tawaf sesuai dengan sunnah.

Sebelum masuk ke pembahasan berikut adalah syarat-syarat daripada tawaf sebelum melakukan tawaf. Syarat tersebut ialah suci dari hadast secara keseluruhan, menutup aurat, bermula dari sudut Hajar Aswad sambil membaca niat, memposisikan Ka’bah di sebelah kiri kemudian berputar dengan berlawanan arah jarum jam, memiliki niat untuk tawaf bukan untuk niat atau tujuan lain, lakukan tujuh kali tawaf dengan yakin.

1. Mulai Tawaf Dengan Berlari Kecil Kemudian Berjalan Biasa

Mulai tawaf pertama dengan berjalan cepat atau berlari kecil. Berlari kecil ini masih terus dilakukan hingga tawaf ketiga. Pada tawaf keempat, kelima, hingga ketujuh diperbolehkan jalan seperti biasa. 

Bagi yang tidak bisa berjalan cepat atau berlari kecil maka diperbolehkan berjalan seperti biasa atau disesuaikan dengan kemampuannya saja jangan terlalu memaksakan karena dapat membahayakan keselamatan.

2. Mendekati Hajar Aswad

Selanjutnya adalah disunnahkan mendekati Hajar Aswad. Jika bisa mendekati Hajar Aswad maka ciumlah. Namun jika tidak bisa maka cukup tempelkan tangan saja, atau bisa juga dengan menyentuhkan tongkat atau jika masih tidak memungkinkan maka bisa dengan memberi isyarat seperti mencium saja. Cium atau beri isyarat sambil mengucapkan doa yang khusus dibaca saat mencium hajar aswad.

3. Menyentuh Rukun Yamani

Berikutnya ialah mengusap atau menyentuh Rukun Yamani dengan tangan kemudian cium lah tangan tersebut. Saat menyentuh dan mencium Rukun Yamani disunnahkan membaca doa untuk diselamatkan di dunia dan di akhirat. Mintalah dan berdoa lah kepada Allah SWT sebanyak mungkin.

4. Perbanyak Doa dan Dzikir

Perbanyaklah Doa dan Dzikir saat sedang melakukan tawaf ini. Karena dipercaya jika Doa akan lebih mudah dikabulkan oleh Allah SWT. Karena disebutkan dalam beberapa hadits bahwa saat semakin dekat dengan Hajar Aswad, maka doa yang diinginkan akan dikabulkan oleh Allah SWT nantinya. Bisa membaca doa yang sama saat menyentuh Rukun Yamani, yakni doa untuk minta diselamatkan di dunia maupun di akhirat.

5. Mendekat Ke Arah Ka’bah

Dekatkan diri kearah Ka’bah jika mampu untuk menggapainya. Hal ini bertujuan untuk mengambil rida atau barakah. Selain untuk mengambil barakah tersebut tujuan lainnya ialah untuk memberi salam ataupun menciumnya. Tapi tetap harus memperhatikan keselamatan saat akan menyentuh Ka’bah ini.

Karena diperlukan perjuangan yang besar dan dahsyat untuk menyentuhnya. Terutama saat musim haji. Berbagai orang dari seluruh belahan dunia berkumpul disana. Jadi jika hal tersebut dianggap membahayakan maka lebih baik menjauhkan diri dari lautan manusia di sana.

6. Melakukan Sholat Sunnah

Jika sudah selesai melakukan tujuh kali putaran, maka yang terakhir ialah melaksanakan sholat Sunnah dua rakaat di dekat makam Nabi Ibrahim. Hal ini sesuai dengan anjuran di dalam hadis yang berbunyi bahwa baginda Rasulullah datang ke Mekah untuk melakukan ibadah haji, kemudian setelah beliau menyelesaikan tawafnya beliau melaksanakan sholat sunnah dua rakaat di dekat makam Nabi Ibrahim.

Itulah tadi tata cara tawaf yang sesuai dengan sunnah nabi. Diharapkan mulai sekarang setiap muslim dapat memahami cara tawaf yang dilakukan sesuai dengan sunnah. Semoga artikel ini bisa bermanfaat untuk mengetahui mengenai tata cara tawaf.

Baca Juga : Tata Cara Pelaksanaan Umroh Sesuai Syari’at Islam

Tata Cara Pelaksanaan Umroh Sesuai Syari’at Islam

Mengunjungi Tanah Suci Mekkah merupakan keinginan setiap Muslim. Salah satu caranya adalah dengan melaksanakan ibadah Umroh. Umroh merupakan wisata spiritual dengan memperhatikan tata cara pelaksanaan Umroh atau bisa juga disebut dengan haji kecil. Umroh merupakan salah satu alternatif saat menunggu antrian ibadah haji yang bisa memakan waktu bertahun-tahun.

Syarat-Syarat Umroh

Sebelum melaksanakan ibadah umroh, hendaknya mengetahui apa saja syarat yang harus dipenuhi agar ibadah yang dilakukan menjadi sah. Berikut adalah syarat-syarat melaksanakan umroh:

  • Beragama Islam
  • Baligh dan Berakal sehat
  • Merdeka atau bukan budak
  • Mampu baik secara kesehatan, kendaraan, biaya serta bekal lainnya
  • Memiliki mahram (khusus wanita)

Tata Cara Pelaksanaan Umroh

Umroh dan Haji memiliki perbedaan pada waktu dan tempat pelaksanaan. Umroh dapat dilakukan setiap waktu kecuali pada tanggal 10 Zulhijjah, dan hari tasyrik yakni 11, 12, dan 13 Zulhijjah. Sementara ibadah haji hanya dapat dilaksanakan pada tanggal 1 Syawal hingga 13 Zulhijjah. Nah, berikut ini akan dibahas tata cara pelaksanaan umroh, serta urutannya.

1. Melakukan Miqat

Miqat merupakan tempat memakai ihram dan berniat untuk melakukan umroh. Dengan kata lain, miqat juga dapat diartikan sebagai tempat memulai kegiatan umroh yang dilakukan di Madinah yaitu di Masjid Bir Ali atau di Makkah dan Jeddah. Pada saat Miqat, laki-laki sudah tidak boleh mengenakan pakaian yang berjahit dan juga penutup kepala.

Serta tidak boleh memakai alas kaki yang menutupi mata kaki. Sementara perempuan diwajibkan untuk mengenakan pakaian yang menutup aurat dan hanya boleh memperlihatkan wajah dan telapak tangan.

Selain itu, orang yang akan melaksanakan ibadah umroh dilarang untuk memakai wewangian, membunuh binatang, menikah, bermesraan atau berhubungan intim, berkata-kata kotor, serta dilarang untuk memotong tanaman yang ada disekitar Mekkah. Setelah melaksanakan miqat, maka selanjutnya adalah berniat untuk melaksanakan ibadah umroh dengan bacaan sebagai berikut:

“Labbaik Allahumma ‘umratan”.

2. Menuju Masjidil Haram Dan Melaksana kan Sholat Tahiyatul Masjid 2 Rakaat

Saat perjalanan menuju masjidil haram, dianjurkan untuk memperbanyak bacaan kalimat Talbiyyah:

“Labbaikallahumma Labbaik. Labbaikala Syarikala ka Labbaik. Innal Hamda Wanni’mata Laka Wal Mulk Laa Syarikala”.

Membaca kalimat talbiyyah dapat diakhiri pada saat memulai thawaf.

3. Melaksanakan Thawaf Dengan Berkeliling Ka’bah Sebanyak 7 Kali

Pada saat memasuki masjidil Haram, disarankan untuk melantunkan doa “Bismillahi Washolatu Wassalamu ‘Ala Rasulullah. Allahummaftahli Abwaba Rahmatika.”

Selanjutnya turun dan menuju tempat thawaf. Thawaf dapat dimulai dari garis lurus yang terletak antara pintu Ka’bah dan tanda lampu berwarna hijau di lantai Masjidil Haram.

4. Hijr Ismail

Setelah selesai melakukan thawaf, maka dapat melaksanakan sholat di Hijr Ismail yang merupakan kawasan setengah lingkaran di hadapan Ka’bah. Pahala yang didapat saat shalat di Hijr Ismail sama besarnya dengan pahala shalat di dalam Ka’bah. Pada rakaat pertama setelah membaca surat Al-Fatihah, bacalah surat Alkafirun, dan pada rakaat kedua membaca surat Al-Ikhlas.

5. Melaksanakan Sa’i

Sa’i atau lari-lari kecil antara bukit Shafa dan Bukit Marwah. Kegiatan ini dilakukan sebanyak 7 kali. Ini merupakan simbol pada saat Siti Hajar yaitu ibunda Nabi Ibrahim mencari sumber air agar dapat memberi minum kepada Nabi Ibrahim.

6. Melakukan Tahallul

Setelah melakukan putaran terakhir pada Sa’i, maka selanjutnya adalah melakukan tahallul atau mencukur rambut. Jemaah laki-laki akan mencukur sebagian rambutnya atau sampai gundul. Sementara Jemaah perempuan, rambut yang dipotong hanya ala kadarnya saja. Setelah selesai melakukan tahallul, maka rangkaian ibadah umroh telah selesai dilaksanakan.

Nah, itulah penjelasan mengenai tata cara pelaksanaan umroh. Pelajari dan cermati setiap langkah-langkahnya agar ibadah menjadi khusyuk dan lebih tenang. Disarankan untuk terlebih dahulu mengikuti manasik atau pelatihan sebelum melaksanakan ibadah umroh.

Baca Juga : Masa Iddah Artinya yang Harus Diketahui Serta Hak dan Kewajibannya