Hukum Bermain Judi dalam Pandangan Islam

Assalamualaikum sahabat. Pada kesempatan ini kalian para sahabat akan mendapatkan informasi yang bermanfaat tentang hukum bermain judi. Mungkin sebagian dari kalian sudah tahu tentang hukum bermain judi dalam pandangan islam. Tapi tidak ada salahnya bagi kalian untuk mengetahui lebih detail tentang hukum bermain  judi dan mengapa judi dilarang dalam ajaran islam.

hukum bermain judi
sumber: telegraph.co.uk

Sebagian besar umat islam pastinya tahu bahwa hukum bermain judi adalah haram. Judi sendiri dalam bahasa arab adalah ‘maisir’ yang memiliki arti memperoleh keuntungan dengan mudah tanpa bekerja atau kerja keras terlebih dahulu. Kata ‘masyir’ (kata turunan dari ‘maisir’) artinya menyerahkan barang berharga atau harta bagi pihak yang kalah, dan mendapatkan harta bagi pihak yang menang. 

Judi di Indonesia sendiri sudah dianggap sebagai bagian dari lifestyle dan hiburan, khususnya bagi mereka yang berduit, sedang bagi mereka yang secara kemampuan finansial rendah, judi menjadi salah satu sumber penghasilan pokok atau sumber penghasilan tambahan.

Perbedaan tujuan bermain judi ini yang menjadi penyebab utama mengapa perjudian (perjudian dalam bentuk apapun) tetap eksis dan makin menjamur hingga saat ini. Bahkan setelah maraknya perjudian online yang mudah diakses secara online oleh siapa saja, kini judi juga meracuni generasi muda kita. 

Hukum Bermain Judi

Dalam firman-Nya, Allah berkata, “ sesungguhnya meminum khamar dan berjudi, berkorban untuk sembahan berhala, mengundi nasib dengan menggunakan panah adalah perbuatan setan. Maka dari itu, jauhilah perbuatan-perbuatan tersebut agar kamu beruntung” (Q.S Almaidah ayat 90). 

Dalam ayat Alqur’an ini sangat jelas maknanya bahwa judi termasuk dalam perbuatan setan yang wajib dijauhi oleh kita semua. Masih menurut salah satu ayat di Surat Almaidah dikatakan juga kita, umat islam, diminta untuk menjauhi beberapa perbuatan di atas, termasuk judi, agar kita termasuk orang-orang yang beruntung. Dari jabaran arti ayat 90 Surat Almaidah ini sangat jelas bahwa hukum bermain judi menurut agama islam adalah haram (berdosa jika dilakukan). 

Di masa jahiliyah, judi telah menjadi bagian dari tradisi. Sebagian masyarakat saat itu gemar berjudi, mulai dengan taruhan kecil hingga taruhan besar seperti taruhan budak. Adapun jenis judi yang terkenal saat itu adalah judi dengan 10 orang anggota di mana semua anggota berserikat untuk membeli unta. Masing-masing memiliki besaran saham yang sama. 

Kemudian permainan dilanjutkan dengan melakukan pengundian. Dari hasil undian tersebut, 7 orang memperoleh bagian yang berbeda. Hal ini sesuai dengan tradisi yang berlaku di masyarakat saat itu. Sedang 3 orang sisanya tidak mendapatkan bagian sedikitpun, alias mereka bertiga kalah.

Perbedaan Judi Di Masa Jahiliyah dan Judi di Jaman Now

Masih membahas seputar hukum bermain  judi, berbeda dengan masa jahiliyah, saat ini bentuk perjudian sudah beraneka ragam. Sebut saja perjudian yang menggunakan sistem undian. Kemudian ada juga perjudian dalam bentuk pembelian barang lalu ada hadiah yang disematkan di dalamnya. Adanya kupon di sebuah barang yang dijual-belikan juga termasuk dalam jenis perjudian. 

Berbagai jenis asuransi (tentunya cukup mengejutkan bagi kalian tentunya) juga termasuk dalam bentuk perjudian di jaman sekarang. Jadi, kesimpulannya, perjudian di jaman serba modern ini tidak hanya dalam bentuk judi online, judi togel, dll yang memang sudah pasti dilarang oleh agama dan hukum di negara kita, melainkan juga dalam bentuk perniagaan dan asuransi yang kerap kita gunakan dalam kehidupan sehari-hari. 

Taruhan jenis apapun juga termasuk perbuatan judi. Ingat dengan taruhan atau tebak-tebakan skor bola selama ajang pesta sepak bola dunia, Piala Dunia? Taruhan semacam itu sudah pasti masuk dalam judi. 

Nah, bagi kalian yang pernah melakukan taruhan dalam bentuk apapun, sebaiknya mulai sekarang hindari. Lakukan hal-hal positif yang bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lai agar Allah membalas kalian dengan kebaikan-kebaikan lainnya.

3 Macam Hukum Berbagai Macam Perlombaan

Dalam islam, selain hukum bermain  judi, ada tiga jenis hukum lainnya terkait dengan berbagai jenis perlombaan yang dalam praktiknya mirip dengan judi. Berikut penjelasannya:

  1. Diperbolehkan alias halal untuk berbagai jenis perlombaan yang bertujuan syiar islam. Contoh: lomba menghafal Alqur’an, lomba memanah dan menunggang kuda (kedua kegiatan ini masuk dalam sunah Rosul), lomba da’i , dan lain sebagainya.
  2. Mubah alias boleh asal tidak mengandung unsur judi.

Contoh: lomba lari maraton, lomba baca puisi, dll yang pemenangnya tidak diberi hadiah atau keuntungan dalam bentuk apapun. 

  1. Haram apabila perlombaan tersebut didukung dengan teknis dan sistem pemberian hadiah seperti judi.

Contoh: sabung ayam, tinju, lomba Miss Universe/ ratu kecantikan lainnya, adu banteng, dan lain sebagainya.

Demikian artikel singkat tentang hukum bermain judi. Semoga kita dihindarkan dari segala macam perbuatan yang tidak disukai Allah, termasuk judi.  Jika kalian memiliki tambahan informasi tentang hukum bermain judi, silahkan langsung share di kolom komentar di bawah ini.

Baca juga: Judi Menurut Islam: Hukum, Bahaya, Larangan, dan Azab Judi

Bahaya Judi Togel dan Judi-Judi Lainnya Menurut Islam

bahaya judi online
sumber: coindesk.com

Sudah menjadi rahasia umum bahwa masyarakat kita sebenarnya mengetahui tentang bahaya judi togel dan judi-judi lainnya secara nyata untuk kehidupan mereka. Bahkan agama apa pun melarang praktik judi karena judi telah terbukti membawa dampak yang buruk bagi para pemainnya dan orang-orang di sekitarnya.

Dalam agama islam sendiri, judi disebut sebagai perbuatan setan yang mampu menjerumuskan manusia ke neraka. Masih menurut pandangan agama islam, judi adalah najis. Bahkan ada surat dan ayat tersendiri yang membahas aka hukum judi menurut islam. Ini adalah bukti nyata bahwa judi, apapun bentuknya (termasuk judi togel), berbahaya bagi kehidupan umat manusia. Penasaran apa saja bahaya judi togel dan judi-judi lainnya menurut islam? Yuk cek informasinya berikut ini. 

Bahaya Judi Togel: Lupa dengan Tuhan

Bahaya judi togel dan judi-judi lainnya yang pertama adalah judi kerap membuat pemainnya lupa dengan Allah. Ketika seseorang sudah asik dengan permainan judinya, awalnya ia akan menunda untuk beribadah dan berdoa kepada Allah. Kebiasaan buruk ini lalu berubah semakin buruk lagi dengan sengaja tidak beribadah dan berdoa kepada Allah. Ia menganggap bahwa ibadah dan doa itu tidak penting. Ia lebih memilih judi sebagai prioritasnya dibandingkan dengan doa & ibadah. 

Bagi seorang pemain judi yang sedang mengalami fase ini, ia memiliki pikiran bahwa judi adalah hal yang paling penting saat ini. Konsentrasi pikirannya harus fokus pada hal-hal tertentu seperti  bagaimana cara menangkan judi yang sedang dimainkannya, jika menang uangnya akan digunakan untuk apa, dll. Sebagian besar pemain judi di fase ini juga sudah terbuai dengan angan-angan palsu akan kemenangan yang diraihnya. 

Bahaya Judi Togel: Membuat Orang Menjadi Malas

Sepertinya bahaya judi togel dan judi-judi lain yang satu ini terbukti kebenarannya. Bagaimana tidak menjadi malas; seseorang yang hobi mainkan judi cenderung melupakan pekerjaan utamanya. Ia sudah terbuai dengan angan-angan akan kemenangan instan yang akan berikan uang banyak dari hasil berjudi. 

Orang yang hobi berjudi juga akan semakin malas untuk bekerja karena bekerja membuatnya lelah dan penuh dengan tekanan. Gaji yang didapat pun dirasa tak sebanding dengan kerja keras yang telah ia lakukan. Berbeda dengan main judi. Menurut pengakuan sebagian besar pemain judi, bermain judi itu sangat menyenangkan. Hanya dengan usaha kecil saja, peluang untuk menang selalu ada. 

Pemain tidak merasakan lelah berlebihan namun keuntungan yang didapat dari hasil kemenangan berjudi sangat besar. Kemudian dari segi waktu, seseorang bisa saja menangkan judi hanya dalam waktu singkat. Tidak perlu menunggu waktu sebulan untuk mendapatkan bayaran. 

Judi dapat Mendorong Seseorang Menjadi Tamak dan Serakah

bahaya judi
sumber: dreamstime.com

Seorang penjudi bisa berubah karakternya menjadi pribadi yang lebih buruk. Yang mulanya tidak obsesif, bisa saja dengan sering bermain judi, seseorang berubah sifatnya menjadi rakus, tamak, dan serakah. Sifat-sifat ini muncul sebagai akibat dari sikap mereka yang berubah lebih mencintai uang secara berlebihan. 

Bahaya judi togel dan jenis judi lainnya yaitu tak hanya tamak dan serakah, melainkan juga adanya rasa tidak pernah puas dengan apa yang sudah didapat. Sifat inilah yang kemudian membuat seorang pemain menjadi kecanduan. Terang saja menjadi demikian karena ia begitu obsesif untuk menambah dan terus menambah uang yang sudah didapatkannya. 

Judi Bersifat Adiktif

Bahaya judi togel dan kawan-kawannya yang menurut pandangan islam paling berbahaya adalah bahwa judi mampu membuat pemainnya menjadi adiktif atau kecanduan. Jika seseorang sudah kecanduan judi, umumnya sulit untuk lepas dari jeratan angan-angan palsu perjudian.

Logikanya, ketika seorang pemain sedang kecanduan, sedang ia sedang tidak memiliki modal untuk bermain judi, ia akan mencari cara apapun untuk mendapatkan modal. Contoh yang paling umum adalah dengan mencuri uang atau barang-barang harga milik orang terdekat. Jika nihil, target pencurian diperluas lagi (tetangga, misalnya). 

Aksi-aksi kriminal lainnya yang level kriminalitasnya lebih besar seperti korupsi dan perampokan yang berujung pembunuhan adalah dua contoh kasus kriminal yang kerap terjadi akibat pelaku tak memiliki modal untuk berjudi. 

Judi adalah Permainan yang Tidak Adil

bahaya judi togel
sumber: imuslimguide.com

Islam menyukai keadilan, termasuk dalam hal-hal yang berkaitan dengan niaga atau transaksi. Sedang dalam praktik perjudian, para pemain sama sekali tidak mempraktikan asas keadilan. Judi juga dapat meningkatkan keegoisan para pemainnya. Tiap pemain hanya memikirkan dirinya sendiri. Menjadi pemenang adalah satu-satunya tujuan yang ada di pikirannya. 

Wah, ternyata ada cukup banyak bahaya judi togel dan kawan-kawannya bagi para pemainnya. Setelah mengetahui bahaya judi ini tentu kita semua berharap semoga kita tidak terjerumus ke dalam dunia perjudian yang tak pasti. 

Oiya, jika teman-teman ada informasi lain tentang bahaya judi, boleh banget langsung share di bagian kolom komentar. 

Baca juga: Judi Menurut Islam: Hukum, Bahaya, Larangan, dan Azab Judi

Uang Hasil Judi untuk Sedekah, Infak, dan Zakat. Halal-kah?

Siapa yang tak kenal dengan judi. Di Indonesia sendiri, judi marak dilakukan meski jelas-jelas dilarang secara hukum dan dilarang oleh agama manapun. Tampaknya mereka yang gemar berjudi tak peduli dengan status legalitas judi di negara kita. Yang dipikirkan hanyalah bagaimana caranya bermain yang benar agar cepat mendapatkan keuntungan berupa uang hasil judi. 

Nah, berbicara soal keuntungan atau uang hasil judi, tentu banyak di antara kalian yang penasaran apakah uang tersebut (atau uang yang sudah bercampur dengan uang hasil judi) halal atau haram hukumnya jika digunakan sebagai sedekah, infak, zakat, dan sejenisnya?Nah, daripada terus penasaran, yuk luangkan waktu sejenak untuk membaca konten informatif yang satu ini. 

Perintah Sedekah, Infak, dan Zakat

uang hasil judi
sumber: lifestyle.okezone.com

Sebagai umat muslim, kita tentunya sangat familiar dengan istilah sedekah, infak, dan zakat. Keduanya sebenarnya memiliki konteks makna yang berbeda. Sedekah dan infak memiliki konteks makna yang mirip, yaitu menyisihkan sebagian harta kita untuk diberikan ke mereka yang membutuhkan. Ada beberapa golongan penerima sedekah, infak, dan zakat. Insya Allah khusus untuk pembahasan ini akan kami share di lain kesempatan. 

Berbeda dengan sedekah dan infak, zakat bersifat lebih mengikat. Artinya zakat ini memiliki beberapa aturan terkait dengan tata pelaksanaannya. Misalnya saja soal golongan pemberi zakat dan penerima zakat, jenis zakat, besaran zakat, hukum zakat, dan pengganti zakat yang semuanya telah diatur dalam surat-surat dalam Alqur’an. Insya Allah, jika ada kesempatan, kami siap membahas zakat secara detail. Ditunggu saja ya. 

Halal-Haram Uang Hasil Judi untuk Sedekah, Infak, dan Zakat

Lantas, uang hasil judi untuk sedekah, infak, dan zakat; halal atau haram? Dalam surat kedua pada Alqur’an ayat 188, tafsir ayat tersebut kurang lebih begini: kita dilarang untuk mendapatkan harta (termasuk harta dari orang lain) dari cara-cara yang batil. Kita juga tidak diperbolehkan untuk memanfaatkan harta tersebut dari cara yang berdosa, apalagi kita tahu bahwa cara-cara yang kita lakukan adalah cara yang dapat menambah dosa. 

Dari makna tafsir ayat di atas sangat jelas bahwa uang hasil judi yang tak lain adalah harta dari hasil perbuatan dosa (karena judi termasuk amalan setan) tidak halal hukumnya untuk digunakan, sekalipun untuk memenuhi urusan perut. 

Makna tafsir ayat ini juga berlaku untuk harta atau uang hasil amalan-amalan setan lainnya seperti korupsi yang saat ini sedang marak. Teman-teman tentu sering membaca berita bahwa Si Fulan yang kaya raya dan tak lain adalah pejabat hobi bersedekah. Tak lama kemudian Si Fulan ini didatangi KPK karena terbukti terlibat korupsi. Ini adalah contoh nyata yang terjadi di tengah masyarakat kita bahwa sebenarnya ada banyak fenomena yang serupa. 

Sedekah dengan Uang Hasil Judi dari Penjudi yang telah Bertaubat, Halal-kah?

Nah, bagaimana hukumnya dengan sedekah dari uang hasil judi dari penjudi yang telah menyatakan taubat. Halal-kah? Sebagian besar ulama berpendapat bahwa sedekah dari harta yang didapatkan dari berbuat dosa, termasuk judi, tidaklah diterima meski orang yang niat bersedekah telah bertaubat. Ia juga tidak mendapat pahala dari niat baik bersedekahnya. 

Hukum akan berubah menjadi diperbolehkan apabila si pemberi sedekah berniat bersedekah atas nama pemilik harta yang sebenarnya. Sebagai contoh: Si Fulan pernah menangkan taruhan bola dari Si A, namun kini Si Fulan bertaubat karena menyadari bahwa taruhan bola adalah termasuk perbuatan judi. Si Fulan lalu berniat menyedekahkan hasil taruhan tersebut ke kotak masjid terdekat. Sedekah yang semacam ini tidak diperbolehkan. Si Fulan tidak mendapatkan pahala dari niat baiknya ini.

Berbeda kondisinya jika Si Fulan bersedekah atas nama Si A. Si A inilah yang nantinya mendapatkan pahala dari Allah SWT. 

Perlu diketahui juga bahwa jika ada seorang penjudi yang ingin bertaubat dan ingin memanfaatkan uang hasil judinya untuk orang lain yang membutuhkan, hal ini bisa dimasukan sebagai usaha untuk membersihkan harta, tidak dihitung sebagai sedekah. 

Kesimpulan

Nah dari inti pembahasan ini dapat disimpulkan bahwa harta atau uang hasil judi dan hasil amalan-amalan lainnya hukumnya haram atau tidak diperbolehkan untuk disedekahkan, kecuali dalam rangka untuk membersihkan harta. Akan dihitung sebagai perbuatan yang berpahala apabila sedekah, infak, atau zakat diatas-namakan si pemilik uang atau harta yang sesungguhnya. 

Sedekah, infak, dan zakat sebaiknya berasal dari harta atau uang yang halal, yaitu yang didapat dari kerja keras. Amalan-amalan baik ini tentunya akan menjadi ‘tabungan’ kelak di masa hisab. Mudah-mudahan apa yang sudah kita sedekahkan bisa menjadi penolong kita di akhirat nanti. Amin.

Demikian konten informatif kami hari ini bermanfaat untuk teman-teman. Apabila kalian memiliki informasi tambahan yang ada kaitannya dengan konten ini, silahkan langsung tambahkan di kolom komentar di bawah ini. 

Baca juga: Judi Menurut Islam: Hukum, Bahaya, Larangan, dan Azab Judi

Judi Haram? Yuk Cek 10 Dalil Judi Haram Hukumnya

dalil judi haram
sumber: kompasiana.com

Pembahasan soal judi memang sepertinya tidak ada akhirnya. Ada banyak sekali topik menarik yang seru untuk dibahas tentang judi, terutama dari sudut pandang islam. Nah, kali ini kalian akan diajak untuk membahas seputar dalil-dalil yang menjelaskan hukum haram judi dan hal-hal lain yang terkait dengan judi. Bagi kalian yang tak sabar, yuk segera cek dalil judi haram berikut ini.

Dalil Judi Haram: Q.S Almaidah: 90 – Khamr

Allah berfirman dalam Q.S Almaidah ayat 90 yang intinya kurang lebih begini: meminum khamr, bermain judi, berkurban untuk sesembahan berhala, dan mengundi nasib termasuk dalam perbuatan-perbuatan setan. Allah SWT, masih dalam surat dan ayat yang sama, memerintahkan kita untuk menjauhi perbuatan-perbuatan ini agar kita beruntung.

Dari makna ayat Alqur’an ini sangat jelas bahwa ada 4 perbuatan yang digolongkan sebagai perbuatan-perbuatan setan. Salah satunya adalah bermain judi dan hal-hal lain yang berkaitan dengan judi. dari ayat tersebut juga kita dijelaskan bahwa judi digandengkan dengan al-anshab, khamr, dan al-azlam yang hukumnya jelas-jelas haram. Karena ada pernyataan inilah yang menjadikan dalil judi haram ini sebagai dasar hukum bahwa judi haram hukumnya. 

Dalil Judi Haram: Q.S. Al Hajj: 30 – Judi Disebut Rijs atau Najisa

Judi haram hukumnya juga disebut dalam Q.S. Al Hajj ayat 30. Makna firman Allah kurang lebih: kita umat manusia diperintahkan untuk menjauhi berhala-berhala yang najis. Dalam dalil judi haram ini, kata rujz bermakna ‘dosa’ dalam bahasa arab, sedang rijs memiliki makna ‘najis’. Terkadang kata ‘rijs’ digunakan untuk menyebut berhala.

Nah, dari surat Al Hajj ini, kita judi diibaratkan sebagai berhala yang najis. Kita umat islam mengetahui bahwa berhala adalah media untuk menyembah tuhan selain Allah. Praktik-praktik penyembahan berhala ini sudah ada sejak jaman jahiliyah. Kini praktik penyembahan berhala ini sebenarnya masih eksis, hanya saja terkadang kita tidak menyadarrinya. Salah satunya yaitu dengan ‘mentuhankan’ judi yang kerap membuat kita lupa dengan Tuhan Pencipta kita yang sesungguhnya. 

Q.S Fathir: 6 dan Q.S Al A’raf: 21 & 27 – Judi Termasuk Amalan Setan

Inti dari ketiga dalil judi haram ini adalah judi termasuk amalan/ perbuatan setan. Segala jenis perbuatan setan hukumnya haram. Ayat-ayat ini juga menjelaskan bahwa setan memiliki semangat yang tinggi untuk menggoda manusia. Manusia yang telah tergoda nanti akan tersesat di jalan yang salah dan akhirnya terjerumus ke neraka. 

Setan akan berbuat apa saja untuk menggoda manusia. Dengan tipuan dan rayuan yang terlihat menyenangkan, setan akan menyeret kita, manusia, ke jalan yang tidak diridhoi Allah. Setan adalah musuh yang nyata bagi manusia. Dengan berbagai bujuk rayunya, setan akan terus menjerumuskan manusia ke dalam siksa api neraka yang sungguh pedih. 

Untuk menghindari bujuk-rayu setan, kita, umat muslim senantiasa wajib berzikir sebagai bentuk ibadah untuk mengingat Allah SWT. Meski begitu, kita tetap wajib waspada dengan jerat bujuk rayu setan karena setan tetap akan membisikan bujuk-rayunya meski kita rajin berzikir. 

Benar sekali, setan akan menghasut kita agar menjadi pribadi yang riya atau bangga dengan sisi spiritual kita yang baik. Ketika hati kita timbul rasa bangga akan kebiasaan baik (zikir, misalnya), ini adalah tanda bahwa bisikan-bisikan setan telah berhasil merasuk ke dalam relung hati kita. Naudzubillah min dzalik. 

Q.S Al A’Raf Ayat 27: Jerat Bujuk-Rayu Setan pada Adam-Hawa

Memang benar, firman Allah ini tidak memiliki keterkaitan dengan judi, akan tetapi ayat Alqur’an ini adalah gambaran nyata akan tipu daya setan yang dahsyat sehingga Adam-Hawa terjerat olehnya. Dalil judi haram ini menjelaskan perintah Allah kepada kita, keturunan Nabi Adam dan Hawa untuk tidak mudah tertipu oleh setan sebagaimana setan telah berhasil menipu Adam-Hawa. 

Kita pastinya tahu tentang kisah Nabi Adam dan hawa yang dikeluarkan dari surga oleh Allah. Keduanya dikeluarkan dari surga Allah karena Hawa termakan bujukan setan untuk memetik dan memakan buah khuldi. Sebelumnya Allah telah menempatkan Adam dan Hawa di surga yang maha-indah, dan Allah memerintahkan kepada keduanya untuk tidak sekali-kali menyentuh dan memakan buah khuldi. 

Karena Adam-Hawa telah melanggar perintah Allah, keduanya lalu diturunkan ke bumi dan menjadi khilafah bumi. Seluruh umat manusia di bumi adalah keturunan Adam-Hawa yang telah menghasilkan keturunan dengan berbagai ras. 

Q.S Almaidah Ayat 91: Judi dapat Menimbulkan Konflik/ Permusuhan Antar Manusia

Melalui dalil judi haram ini, Allah ingin menyampaikan bahwa setan, melaui berbagai amalannya, termasuk judi dan meminum khamar, ingin menimbulkan kebencian dan permusuhan antar manusia. Setan begitu senang dengan bisikan-bisikannya yang sifatnya hasut. Dampak nyata dari hasutan setan ini adalah pemutusan tali silaturahmi. Padahal Allah membenci hamba-Nya yang suka memutus tali silaturahmi. 

Baca juga: Judi Menurut Islam: Hukum, Bahaya, Larangan, dan Azab Judi

Azab Bermain Judi: Sengsara Dunia dan Akhirat

Di Indonesia, judi kerap dijumpai di berbagai lapisan masyarakat. Judi tak kenal dengan Si kaya dan Si miskin. siapapun yang gemar memainkannya, lambat laun akan merasakan kerugian akibat bermain judi. Dalam agama apapun, termasuk Islam, judi diharamkan karena judi termasuk perbuatan setan. Azab bermain judi sangat perih seperti dosa-dosa lainnya. 

Nah, sebelum kita membahas lebih detail lagi tentang azab bermain judi bagi pemainnya, yuk kita bahas secara singkat tentang pandangan Islam tentang judi. 

Pandangan Islam tentang Judi

azab bermain judi
sumber: ismaweb.net

Dalam agama Islam, judi termasuk dalam perbuatan yang hukumnya haram. Itulah mengapa Allah melarang permainan judi karena dapat membawa kerugian bagi siapapun yang dekat dengan perbuatan judi. Hukum haram untuk judi sendiri telah disampaikan dengan sangat jelas melalui beberapa ayat Alqur’an seperti dalam Q.S. Almaidah ayat 90 dan 91. 

Inti dari Q.S Almaidah ayat 90 tersebut adalah larangan untuk menjauhi perbuatan judi dan beberapa perbuatan yang dilarang oleh Allah lainnya (termasuk meminum khamar/ minuman yang memabukan). Dalil tersebut jelas sekali memerintahkan kita, umat muslim, untuk tidak meminum khamar dan berjudi (dan perbuatan-perbuatan bentuk judi lainnya) agar kita beruntung. 

Sedang Q.S Almaidah ayat 91 kurang lebih bermakna bahwa judi adalah amalan setan yang wajib kita hindari. Amalan setan di sini adalah amalan setan yang dapat menjerumuskan manusia ke dalam siksa neraka yang teramat pedih. Perlu kalian ketahui bahwa segala jenis amalan setan hukumnya haram. 

Masih tentang makna firman Allah dalam Q.S Almaidah ayat 91, Allah mengatakan bahwa setan tidak mendatangi manusia kecuali untuk menipu atau mengelabui manusia. Setan juga suka memancing permusujan antar sesama muslim, bahkan antar manusia pada umumnya. Dari makna firman Allah ini, kita umat muslim semakin yakin bahwa setan adalah musuh manusia yang nyata. 

Setan adalah musuh nyata umat manusia juga diperkuat oleh firman Allah dalam Q.S Fathir ayat 6 yang maknanya kurang lebih begini: setan adalah musuh bagi manusia. Anggaplah ia adalah musuhmu karena setan suka sekali mengajak manusia untuk masuk ke dalam golongannya agar manusia menjadi penghuni neraka yang apinya selalu menyala-nyala. Naudzubillah min dzalik. Semoga kita semua dijauhkan dari siksa neraka.

Judi: Amalan Setan yang Bersifat Menjerumuskan

Memang benar bahwa judi adalah amalan setan yang bersifat menjerumuskan. Sekali saja seseorang bermain judi, ia seolah ketagihan lalu ingin main dan main lagi. Sifat adiktif ini ada tentu saja karena adanya bujukan setan. Setan adalah ciptaan Allah yang sangat pandai untuk membujuk atau merayu manusia dengan iming-iming kesenangan duniawi yang sifatnya hanya sementara. Azab bermain judi yang

Sebagai contoh: Si Fulan yang awalnya tidak tahu-menahu tentang judi kemudian diperkenalkan dengan berbagai permainan judi oleh temannya. Mulanya Si Fulan hanya menonton dan menyaksikan kebahagiaan si kawan yang menangkan judi favoritnya. 

Lalu setan mulai membisikan tentang peluang menang yang didapat Si Fulan sama besar dengan peluang menang pemain-pemain lain. Meski Si Fulan masih enggan masuk ke dalam jerat judi karena tidak adanya modal, misalnya, setan lalu kembali membujuknya dengan perkataan bahwa modal nantinya bisa didapat dari pinjaman dari si kawan yang baru saja menang. Tak lupa setan juga membujuk kawan Si Fulan untuk meminjamkannya uang sebagai modal awal. 

Saat mendapat pinjaman, Si Fulan mulanya hanya ingin mencoba sekali saja. Sekali main, ia kalah, misalnya, tak membuat setan berhenti merayunya lagi. Dengan adanya bisikan setan yang terus-menerus digaungkan, Si Fulan lalu mencoba bermain judi untuk kedua kalinya. 

Jika ternyata ia menang, setan semakin semangat untuk membujuk Si Fulan untuk main dan main lagi. Tentu dengan iming-iming keuntungan yang menggiurkan. Begitu seterusnya meski Si Fulan tak memiliki apa-apa lagi. 

Azab Bermain Judi

Dengan banyaknya kerugian yang dialami oleh pemain judi dan orang-orang terdekatnya, judi adalah perbuatan atau amalan setan yang wajib ditinggalkan dan dihindari. Kita sebagai umat muslim, memiliki kewajiban untuk meninggalkan dan menghindari judi dan ketiga larangan Allah lainnya yang dijelaskan dalam Q.S Almaidah ayat 90. 

Tentu Allah juga menyiapkan azab bermain judi untuk siapapun yang pernah menyentuhnya walau hanya sedikit. Sunnguh azab Allah sangatlah pedih. Banyak ulama yang sering menyampaikan azab berjudi dan perbuatan-perbuatan yang terkait dengan perjudian. Mereka mengatakan bahwa azab bermain judi tidak hanya akan dirasakan di neraka saja, melainkan nyata-nyata dirasakan di dunia. 

Berbagai kerugian yang dialami oleh para pemain judi hanya sebagian kecil azab yang dijanjikan oleh Allah. Azab yang lebih besar dan berat tentu akan dirasakan oleh para pemain judi di neraka nanti. Azab tersebut berupa siksa neraka yang sungguh pedih. Seburuk-buruknya siksaan adalah siksa api neraka yang sifatnya jauh lebih menyakitkan sekian kali lipat daripada rasa sakit siksaan-siksaan di dunia. 

Baca juga: Judi Menurut Islam: Hukum, Bahaya, Larangan, dan Azab Judi

Judi Menurut Islam: Hukum, Bahaya, Larangan, dan Azab Judi

Ngomongin soal judi dan agen judi memang tidak ada habisnya. Ada banyak hal yang seru untuk dibahas. Misal, trading Forex termasuk judi bukan sih? Mengakses situs judi dosa gak sih? Lantas, apa sebenarnya definisi judi? tapi kali ini bukan trading forex atau definisi judi secara umum yang akan menjadi topik pembahasan kali ini. Teman-teman akan kami ajak untuk membahas judi dari sisi agama Islam. Kira-kira pembahasan menarik apa seputar judi menurut islam? Yuk simak informasinya berikut ini.

Baca juga: Lagu tentang Judi Karya Rhoma Irama, Syiar dalam Syair

Hukum Judi Menurut Islam

judi menurut islam
sumber: nice-movie.com

Tak banyak orang yang tahu persis apa sebenarnya hukum judi menurut islam. Seandainya pun tahu, mereka yang gemar berjudi tampaknya tak peduli dengan hal ini. Dalam Islam sendiri, bermain judi dan menjadi agen taruhan termasuk dalam perbuatan yang dilarang oleh Allah SWT. Bahkan pada salah satu firman-Nya, Allah mengelompokan judi sebagai bagian dari perbuatan setan seperti beberapa perbuatan lainnya.

Allah berkata melalui salah satu ayat-Nya di Q.S Almaidah: 90 yang makna tafsirnya kurang lebih seperti ini: meminum khamar, berjudi, memberi korban kepada berhala/ sesembahan, dan mengundi nasib dengan anak panah termasuk perbuatan setan. Allah memerintahkan kita untuk menjauhi perbuatan-perbuatan ini agar kita termasuk orang-orang yang beruntung.

Dari makna tafsir salah satu ayat pada surat Almaidah tersebut sangat jelas disebutkan bahwa judi adalah salah satu perbuatan setan yang nyata-nyata dilarang oleh Allah. Kita, umat muslim, wajib meninggalkan dan menghindarinya. 

Perintah Allah ini juga berlaku untuk 3 perbuatan setan lainnya yaitu meminum khamar karena sifatnya memabukan, berkurban untuk sesembahan selain Allah, dan mengundi nasib kita. Segala perbuatan setan atau Allah sering menyebutnya dengan istilah amalan setan, termasuk judi, hukumnya haram (berdosa apabila dikerjakan). 

Baca juga: Judi Haram? Yuk Cek 10 Dalil Judi Haram Hukumnya

Judi di Masa Jahiliyah

Di masa Jahiliyah, masyarakat menganggap bahwa judi adalah bagian dari tradisi. Tak heran jika saat itu praktik judi kerap dilakukan dan menjadi kebiasaan. Permainan judi yang dimainkan juga sangat variatif. Salah satunya adalah permainan judi dengan budak sebagai bahan taruhannya. Ada juga jenis permainan judi yang sangat terkenal saat itu, yaitu permainan judi yang melibatkan 10 pemain. Kesepuluh pemain ini berserikat membeli satu ekor unta dengan bagian iuran yang sama. 

Kesepuluh pemain ini kemudian melakukan pengundian dan hasilnya misalnya sebagai berikut: 7 pemain mendapatkan besaran bagian yang berbeda, sedang 3 pemain lainnya tidak mendapatkan keuntungan sama sekali. Nah, ketiga orang inilah yang mengalami kekalahan. 

Nah, dari gambaran praktik judi di masa Jahiliyah ini kita dapat menyimpulkan bahwa ada perbedaan antara jenis permainan judi masa itu dengan jenis permainan judi jaman sekarang. Namun intinya kurang lebih sama. 

Praktik Judi di Masa Jahiliyah VS Praktik Judi Jaman Now

Jaman sekarang ini, jenis judi itu sendiri ada banyak sekali. Secara garis beras, ada 2 kategori jenis judi: judi online dan judi offline. Nah, berhubung di Indonesia praktik judi berstatus ilegal karena ada pelarangan dari ranah hukum, agama, dan moral, kita cenderung jarang menjumpai praktik judi secara langsung.

Berbeda dengan judi offline, judi online justru menjamur di Indonesia. Padahal judi online ini juga termasuk dalam permainan judi yang dilarang. Rupanya ada beberapa faktor mengapa judi online begitu marak di masyarakat kita. Salah satunya adalah karena akses internet yang kini mudah dijangkau. Kemudian ada juga faktor permainan judi online yang sangat beragam. Pemain dapat memilih satu atau beberapa jenis judi online yang ia sukai atau yang dapat memudahkan ia untuk dekat dengan kemenangan.

Ada juga bentuk permainan judi yang nampak bukan sebagai permainan judi. Sebut saja contohnya berbagai jenis pemberian hadiah dengan kedok undian. Contoh lainnya yaitu berbagai diskon atau promo pada transaksi online seperti pada toko-toko online dan ojek online yang kini sedang hits. Bisnis asuransi dan trading forex juga masuk dalam kategori praktik judi. Wah, ternyata cukup banyak praktik judi menurut Islam yang eksis di kehidupan sehari-hari kita. 

Taruhan Olahraga Termasuk Judi Menurut Islam

sportbook dalam islam
sumber: dcfc-tour.net

Lantas, bagaimana dengan taruhan yang berkaitan dengan event olahraga? Apapun jenis cabang olahraga yang dipertaruhkan, tebak skor dan permainan sejenisnya termasuk dalam praktik judi di zaman sekarang. Nah, jika kalian pernah melakukannya meski hanya iseng, sebaiknya tidak mengulanginya lagi ya. Hindari taruhan serupa kapan pun dan di mana pun. 

Saat perhelatan pesta sepak bola terbesar dunia, Piala Dunia, misalnya, ada banyak sekali masyarakat dunia, termasuk masyarakat kita yang ikut serta melakukan taruhan. Meski niatnya tidak berjudi, praktik ini sudah termasuk dalam perbuatan judi menurut Islam.

Baca juga: Uang Hasil Judi untuk Sedekah, Infak, dan Zakat. Halal-kah?

Hukum Bermain Judi Menurut Islam

Berbicara soal hukum bermain judi menurut Islam, sudah menjadi hal yang sifatnya tetap dan mutlak bahwa hukum judi dalam islam adalah haram. Seseorang yang memainkan permainan judi (apapun jenis judinya) akan mendapatkan dosa. Dan sesungguhnya golongan orang seperti ini akan mendapat siksa neraka yang sangat pedih. Naudzubillah min dzalik. 

Nah, kadang kita juga menjumpai berbagai praktik perniagaan, perlombaan, dan permainan yang masih belum jelas apakah praktik-praktik ini (praktik yang mirip dengan judi) termasuk dalam praktik judi. Lantas, apa hukumnya apabila kita mengerjakan praktik-praktik ini? Yuk cari tahu jawabannya di bawah ini.

Terdapat 3 jenis hukum permainan atau praktik-praktik lainnya yang mirip dengan praktik judi menurut Islam, dan berikut penjelasan secara detailnya:

  • Haram jika praktik tersebut mendapatkan dukungan secara teknis dan sistem yang sama persis dengan judi

Contoh: undian, sabung ayam, ajang lomba kecantikan, pacuan kuda, adu banteng, taruhan tinju, dan masih banyak contoh lainnya

  •  Mubah atau boleh jika praktik-praktik tersebut tidak mengandung unsur judi sama sekali

Contoh: lomba-lomba dalam rangka perayaan HUT RI dan jenis lomba lainnya yang pemenangnya tidak dijanjikan hadiah apapun

  • Hala jika praktik-praktik tersebut dikerjakan dalam rangka untuk syiar Islam

Contoh: lomba hafal Alqur’an, lomba da’i cilik, dan lain sebagainya.

Baca juga: Hukum Bermain Judi dalam Pandangan Islam

Bahaya Judi Menurut Islam

Allah memasukan judi ini sebagai perbuatan amalan setan dengan tanpa alasan. Segala perbuatan yang dilarang oleh Allah sudah pasti membawa konsekuensi yang nantinya dapat merugikan dan bahkan membahayakan umat manusia, khususnya umat muslim. Teman-teman pastinya juga penasaran apa saja sih bahaya judi menurut Islam. Langsung cek informasinya berikut ini.

Baca juga: Bahaya Judi Togel dan Judi-Judi Lainnya Menurut Islam

Lalai Beribadah & Melupakan Tuhan

Sudah menjadi rahasia umum bahwa mereka yang kerap bermain judi akan secara otomatis akan meluapakan kebiasaan-kebiasaan lamanya, termasuk kebiasaan baik seperti beribadah dan mendekatkan diri pada Allah. Mungkin mulanya hanya terlambat untuk menjalankan. Tak lama kemudian mereka mulai lupa menjalankan ibadah. Dan pada akhirnya dengan sengaja meninggalkan ibadah.

Hampir semua pemain judi mungkin mengalami fase ini. Mengapa? Ketika seseorang mulai memiliki ketertarikan dengan judi, ia cenderung akan asik dengan dunia judi yang baru dimasukinnya. Terlebih jika ia mulai sibuk dengan aktifitas berjudinya. Itulah mengapa kita dilarang untuk dekat dengan judi menurut Islam. Apalagi masuk ke dunianya.

Judi dan Kemalasan

Salah satu dampak bermain judi menurut Islam adalah timbulnya rasa malas. Sebagian besar pemain judi memiliki pola pikir yang unik. Misalnya saja, mereka enggan atau malas bekerja karena mereka benar-benar menggantungkan rejeki pada kemenangan yang bersifat semu. 

Para pemain judi juga sering melupakan pekerjaan utama mereka. Alhasil, mereka tidak menjadi pribadi yang produktif. Mereka sudah terlanjur dengan buaian-buaian akan angan-angan kemenangan. 

Bekerja hanya akan membuat para pemain judi ini lelah, sedang penghasilan yang didapatkan tidak seberapa, kata mereka. Selain itu, bekerja hanya akan membuat mereka stress dengan beban kerja yang mereka miliki. 

Kemudian dari segi efektifitas waktu, bermain judi jauh lebih menguntungkan. Hanya dalam waktu singkat saja, mereka ada peluang untuk mendapatkan kemenangan dengan jumlah uang yang banyak. Mereka tak lagi perlu menunggu waktu sebulan untuk mendapat uang seperti gaji yang biasa diterima per bulan.

Judi Jadikan Seseorang Serakah & Tamak

 Bahaya judi menurut Islam berikutnya yaitu judi sendiri dapat mengubah karakter pemainnya menjadi pribadi yang tamak dan serakah. Bisa saja dampak buruk ini dapat menimpa seseorang yang memang sangat obsesif dengan permainan judi. Perubahan ini dapat muncul akibat sikap mereka yang dengan total mencintai uang. 

Tak hanya tamak dan serakah, bahaya judi lainnya menurut Islam adalah akan timbul rasa tidak pernah puas. Sifat inilah yang mendorong seseorang menjadi seorang pecandu judi. Benar saja, karena ia akan jauh lebih obsesif untuk terus dan terus memainkan judi hingga ia mendapatkan kemenangan.

Judi adalah Candu

Nah, bahaya judi yang satu ini termasuk dampak judi yang paling berbahaya. Seseorang yang statusnya sebagai pecandu judi umumnya akan sulit untuk lepas dari kebiasaan judi. Secara logika, ketika seseorang kecanduan judi, ia akan berbuat apa saja untuk memenuhi keinginannya. Misal, Si Fulan tidak memiliki modal cukup untuk bermain judi. Ia lalu nekat menggunakan tabungan atau uang lainnya yang seharusnya digunakan untuk keperluan lain. 

Jika tabungan sudah terkuras, Si Fulan lantas mencari jalan lain, misal dengan menjual barang-barang berharga miliknya, mencuri uang dari keluarganya, atau bahkan melakukan perbuatan yang jauh lebih buruk (merampok, korupsi, dll). 

Larangan Judi Menurut Islam

Larangan judi menurut Islam tentu saja memiliki dasar yang kuat karena pada dasarnya judi sendiri sangat berpotensi membawa dampak buruk yang nyata bagi para pemainnya. Nah, kalian pasti penasaran dengan alasan-alasan mengapa judi dilarang dalam agama islam dan agama-agama lainnya. Yuk cek segera infonya di bawah ini.

Baca juga: Larangan Judi dalam Islam, Yuk Cari Tahu Alasannya

Judi Adalah Perbuatan Keji

Berdasar pada Q.S Almaidah: 90, judi termasuk amalan setan. Oleh karena itu, Allah memerintahkan kita, umat muslim, untuk meninggalkan dan menghindari judi. Nah, ayat ini menjadi salah satu landasan utama mengapa judi dilarang di agama kita. Menurut pendapat para ulama, judi lambat-laun akan membawa nasib para pemainnya ke jurang kemiskinan. Mulanya, pemain akan mengalami kesulitan finansial, lalu jatuh miskin. Sungguh akan banyak kerugian yang didapat akibat berjudi. 

Tak hanya itu, judi juga dapat memicu seseorang untuk berbuat kriminal demi memenuhi obsesinya untuk bermain judi. Dan yang lebih buruk lagi adalah judi dapat membawa dampak pada orang lain yang dekat dengan pemainnya. Misalnya saja keluarga. Gangguan mental juga kerap menghantui pemain judi. Dari beberapa contoh ini saja membuktikan bahwa judi adalah perbuatan keji karena dapat membuahkan dampak yang luas, bahkan berdampak pada orang-orang terdekat.

Judi Adalah Perbuatan yang Tidak Adil

Masih ingat dengan contoh praktik judi di zaman Jahiliyah? Dari 10 orang yang mulanya patungan untuk membeli seekor unta, hanya 7 orang saja yang dapat keuntungan. Itu saja besaran keuntungan yang didapatkan berbeda, sedang tiga orang lainnya mengalami kerugian. Inilah adalah bukti nyata bahwa judi selalu merugikan pihak lain, termasuk para pemainnya.

Sedang, Allah sendiri begitu membenci segala perbuatan yang tidak adil. Dalam ajaran Islam sendiri, prinsip keadilan begitu diprioritaskan. Prinsip ini selalu diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari kita. Bahkan dalam firman-Nya, Allah pernah berkata bahwa orang-orang wajib mengutamakan kebenaran karena Allah. 

Masih dalam firman yang sama, kita umat muslim wajib menjadi saksi yang memiliki sifat adil. Sebagai orang yang beriman, kita tidak diperkenankan untuk memiliki sifat benci terhadap suatu kaum. Sifat benci atas suatu kaum ini dapat membuat kita berbuat tidak adil pada mereka (Q.S Almaidah ayat 8).

Lupa akan Allah Karena Judi

Alasan adanya larangan judi menurut islam berikutnya adalah bahwa judi dapat membuat seseorang lupa akan Allah. Alasan ini adalah alasan yang paling dasar mengapa judi dilarang dan diharamkan dalam agama islam. Hampir tidak ada satu pun pemain judi yang ingat kepada Allah. Hampir tidak mungkin seseorang mengawali perbuatan buruknya ini dengan doa dengan harapan Allah akan melancarkan kegiatan yang tidak disukai oleh Allah. 

Sebaliknya, umumnya pemain judi akan begitu mudah melupakan penciptanya. Ia tak lagi menjalankan ibadah seperti solat dan berdoa. Mereka lebih memilih menghabiskan sebagian besa waktunya di meja judi atau di depan PC untuk bermain judi online. Mereka sudah menghambakan dirinya kepada uang demi mendapatkan kesenangan duniawi yang semu.

Ingat dengan sebuah pepatah dari ulama ini “ketika seseorang tidak bisa menjaga fitrahnya (sebagai makhluk ciptaan Allah), agama yang dianutnya tidak lagi berarti baginya”. Mudah-mudahan kita semua dijauhkan dari judi dan perbuatan-pebuatan buruk lainnya. Amin.

Azab Judi Menurut Islam

Berbicara soal azab judi menurut islam, tentu kita akan langsung membayangkan betapa ngerinya azab Allah yang pedih. Azab judi yang diterima oleh para pemainnya tentu saja tidak hanya dirasakan di akhirat kelak, melainkan juga di dunia. 

Azab judi di dunia sebenarnya dapat kita lihat dengan jelas. Ingat dengan pengalaman-pengalaman mantan pemain judi yang kini sudah taubat. Ketika mereka masih aktif bermain judi, mereka kerap merasakan gelisah karena dalam pikirannya selalu muncul obsesi tentang bagaimana caranya agar dapat menangkan judi. 

Saat modal berjudi mulai menipis, mereka sibuk mencari cara untuk mendapatkan modal yang cukup untuk kembali berjudi. Berhutang sering menjadi jalan pintas yang paling sering dipilih. Atau, modal berjudi didapat dari hasil menjual barang-barang berharga seperti perhiasan milik sang istri, sepeda motor, dan bahkan menggadai sertifikat tanah. Alhasil, kini mereka jatuh miskin dan tak sedikit dari mereka yang berurusan dengan polisi karena tindakan kriminal yang telah mereka perbuat. 

Baca juga: Azab Bermain Judi: Sengsara Dunia dan Akhirat

GARİP-DER BAŞKANI KOÇ: HAPİSLERDEKİ KARDEŞLERİMİZ UNUTULUYOR

Röportaj: Enes Mollaoğlu

“Allah kurtarsın”; hapishanede olan kişiler hakkında, ağzımıza pelesenk olmuş bir dua! “Allah kurtarsın” dedik mi tamamdır! Vicdanımız rahatlamış, “içeri”deki kardeşimize karşı tüm vazifemizi yerine getirmiş oluruz! Arada bir aklımıza geldiğinde de “Allah kurtarsın” der ve vicdanımızın derinlerinden gelen “Hapishanedeki kardeşini ara sor. Yardım et” çığlığını bastırırız. O çığlığın birgün karşımıza hangi sûrette çıkacağını bilmeden… 1 yıl önce, hapishanedeki kardeşlerinin dertlerini dert edinmeyi şiar edinmiş bir grub Müslüman bir araya geldi ve Garib-Der’i kurdu. Garib-Der’in niçin kurulduğunu ve neler yaptığını aşağıda okuyacaksınız. Dernek Başkanı Abdurrahman Koç anlattıklarıyla, vicdanımızın derinlerinden gelen çığlığı özgürlüğüne kavuşturuyor!

– Garib-Der’i kurma fikri sizde hangi ihtiyaca binaen hâsıl oldu?

– Bütün hamdler Allah’a mahsustur. O’na hamdeder, O’ndan yardım diler, O’na istiğfar eder ve nefislerimizin şerrinden ve amellerimizin kötülüklerinden O’na sığınırız. Şüb*hesiz Allah Celle Celaluhu kime hidayet verirse, kimse onu saptıramaz. Allah kimi saptırırsa, kimse ona hidayet veremez. Şahadet ederim ki Allah’tan başka ilah yoktur, O tektir ve O’nun şeri*ki yoktur. Yine şahadet ederim ki Hazreti Muhammed Sallallahu Aleyhi ve Sellem muhakkak onun kulu ve Rasûlüdür.

Allah’a hamd olsun, uzun senelerdir Müslümanlarla iç içeyiz. Müslümanların bir derdi olduğunda dertlenmeye çalışıyor, çevremizde bir Müslüman hapishaneye düşerse onunla ve ailesiyle ilgilenmeye çaba gösteriyorduk. Türkiye’de o kadar çok haksız operasyon yapılıyor ki, artık neredeyse her gün bir Müslüman içeri giriyor. Sayı hızla artınca bizim gücümüzü aşan talebler gelmeye başladı. Biz de mahkûm kardeşlerimize daha fazla yardımcı olmak için bir dernek çatısı altında toplanmayı uygun gördük.

– Dernek kurulalı ne kadar oldu?

– Bir seneyi geçti. Yeni bir dernek olmamıza rağmen bir sene içinde hapishanelerdeki mahkûmlara binlerce kitab gönderebildik hamd olsun.

– Derneğinizin ismi niçin Garib?

– Derneğimiz ismini, sokaktaki fakir fukara için kullanılan “garib guraba” dan almıyor. Derneğimiz ismini iki hadis-i şeriften alıyor. Birinci hadis-i şerifte Resûlullah Sallallahu Aleyhi ve Sellem şöyle buyuruyor: “Bu din garib geldi garib gider. Ne mutlu o gariblere.” Diğer bir hadis-i şerifte, Tirmizî’de geçiyor, “Öyle bir zaman gelecek ki sünnetim kaybolacak. Benim sünnetimi o zaman garibler ihya etmeye çalışacak. Ne mutlu o gariblere.”

– Faaliyetlerinizden bahseder misiniz?

– Derneğimizin aslî faaliyeti hapishanelere kitab göndermek. İmkânlar ölçüsünde hapishanelerdeki esir kardeşlere maddî yardımda bulunmak ve esir kardeşlerimizin mağdur olan ailelerine yardımcı olmak.

Hapishanelere kitab göndermeyi önemsiyoruz. Zira bir Müslüman hapishanede dört duvar arasında kitap okumak ve ibadet etmekten başka ne yapabilir? Bu sebebten kardeşlerimize kitab gönderiyoruz. Hapishanelerdeki kardeşlerimizin çoğu kitab isteyemiyor veya satın alma imkânı olmuyor, birkaç kez yayıncılara mektup yazıyor ancak çoğu zaman talebi karşılanmıyor. Biz dernek olarak bu ihtiyacı gidermeye çalışıyoruz.

– Kitabları şahıslar adına mı gönderiyorsunuz?

– Evet, kitabları şahısların adına gönderiyoruz. Gönderirken kitablara “Emanet” kaşesi vuruyoruz. Bunu yapmaktaki maksadımız da, kitaplar bir kişi tarafından sahiblenilmesin. Hapishaneden tahliye olanlar yanlarında götüremesin. Böylece kitablar hapishanede kalıyor ve yeni gelenler okumaya imkân buluyor. Bazı hapishanelerde, örneğin F tipinde bazı sıkıntılar oluyor; bir odada 1 veya en fazla 3 kişi kalabiliyor. Bundan dolayı da birçok kardeş istifade edemiyor. Bazı kardeşlerimiz de emanetin mesuliyetini kabul etmiyorlar. İnşaAllah zaman geçtikçe biraz daha düzen sağlamaya çabalayacağız.

– Kitabları nasıl temin ediyorsunuz?

– Yayınevleri bazı kitabları bağış yapıyor. Bazıları zekâtlarını kitab olarak veriyor; bir yayınevi zekâtı olarak binlerce kitab verdi. Bazılarını imkânlarımızla alıyoruz. Bazı kardeşler evlerinde okumadıkları kitabları derneğimize getiriyorlar. Bu hususta tüm Müslümanlardan duyarlılık bekliyoruz. Yayınevlerine gidip derdimizi anlattığımızda, “hayırlı bir iş yaptığımızı” söyleyerek yardımcı olanlar olduğu gibi, hiç oralı olmayanlar da var. Bazı yayıncılar da ellerindeki defolu baskı hatası kitabları gönderiyorlar, bu da kardeşleri son derece üzüyor. Bize gelen bazı mektublarda sitem ediyorlar ve şöyle diyorlar “neden defolu kitaplar bize uygun görülüyor?” Hâlbuki en güzel kitablar onlara gönderilmeli değil mi? Bazı kardeşler de her yayınevine mektub yazıp gereğinden fazla kitab istiyor. Bunu fark eden yayıncı da rahatsız oluyor ve şevklerinin kırılmasına sebeb oluyor.

– Kitabları temin etmek kadar onları hapishanelere göndermek, ulaştırmak da önemli. Kitabları göndermede bir sıkıntı oluyor mu?

– Bazen hapishanelere gidecek kitabların, maddî imkânsızlıklar sebebiyle günlerce beklediği oluyordu. Sonra bir kardeşimiz gönderi işini üstlendi. Paketler biriktiğinde ona götürüyoruz, o da anlaşmalı olduğu kargo şirketiyle kitabları gönderiyor. Bu kardeşimiz gibi kardeşlerimiz çoğalırsa daha fazla ve hızlı kitab gönderme imkânına kavuşuruz. Çünkü kitab temini mevzuunda çok fazla sorunumuz yok. Müslümanlar yardım eder ve biz bu kitab projesinde hedefimize ulaşırsak çok büyük hayırlara vesile olunacağına inanıyoruz.

– Şimdiye kadar ulaşabildiğiniz mahkûm sayısı belli mi?

– İkiyüze yakın mahkûma ulaştık, tabiî ki sayı bunlarla sınırlı değil. Belli aralıklarla operasyonların yapıldığını duyuyoruz, sayılar sürekli artıyor.

– Operasyonların amacı nedir?

– Operasyonların amacından önce operasyonların şekilleri çok dikkat çekiyor. Yeterli delile ulaşmadan polisin sabah erken saatlerde yaptığı ev baskınlarının şeklinden, bu yakın zamanda Adalet bakanının da rahatsız olduğunu medyada gördük. Şöyle ki uzun namlulu silahlarla evlerin kapıları kırılarak içeri giriliyor.

Girdikleri evlerde yaşayanların Müslümanlar olduğunu bildikleri halde ev halkının toparlanmasına fırsat verilmiyor çocuklar karşılarında silahlı polisleri görünce çok korkuyorlar.

Yaşadığı mahalledeki gençleri kötü ortamlardan alıkoymak için gayret gösteren insanların dahi terör örgütü üyesi muamelesi gördüğüne şahid oluyoruz. Bazı Müslümanların suçsuzluğunun ortaya çıkması bazen üç dört seneyi buluyor. Oturduğu mahalle veya binadaki komşularının gözünde bir terörist gibi görülüyor.

Sonra bu operasyonlar medyada verilirken, “şu örgüte yönelik operasyonda gasp, çek senet tahsilâtı yaptıkları veya müstehcen cd ler bulundu” gibi iftiralarla kamuoyu nezdinde karalamalar yapılıyor. Tüm bunlar yapılırken hukuk devleti, hak adalet özgürlük gibi kavramlar da sürekli dillendiriliyor.

Operasyonlar konjonktür gereği oluyor. 28 Şubat sürecinde Müslümanların nasıl keyfi zulümlerle karşılaştığını herkes gördü. Bugün ise medeniyetler ittifakı, dinlerarası diyalog, sevgi ve hoşgörü gibi kavramları kullanıp, Müslümanların izzeti için kendilerini feda edenlerden nefret edip, Haham ve Papazlarla muhabbet içinde olanlara karşı gelmek hapishaneye düşmek için yeterli sebeb olmuş.

Bir insan sizin gibi düşünmeyebilir, bu onun terörist olduğu anlamına mı gelir? Hukukta, şübheden yola çıkarak cezalandırılma olmaz. Bazen 30–40 kişi toplu hâlde gözaltına alınıyor. İnsanların hayatları altüst oluyor; duyarlı avukatların bu haksız operasyonların karşısında bir şeyler yapmaları gerekiyor. Zira bu Müslümanların birçoğu kirada oturuyor ve çoluk çocukları perişan. Biz Müslümanların bu kardeşlerimize sahib çıkması boynumuzun borcu olmalı. Biz dernek olarak elimizden geleni yapmaya çalışıyoruz ve tüm Müslümanları duyarlı olmaya çağırıyoruz.

Ayrıca suçsuzluğu ortaya çıkıp beraat edenlerin devlet aleyhine dava açıp uğradıkları zararları tazmin etme haklarının olduğunu bilmeleri gerekiyor.

– Kitab göndereceğiniz mahkûmları görüşlerine göre mi seçiyorsunuz?

– Hayır! Böyle bir ayrımı ahlâkî de bulmuyoruz ve İslâm kardeşlik hukukuna da uymayacağını inanıyoruz. Hapishanelerdeki mahkûmların çoğu sistem tarafından mağdur edilmiş insanlar. Onlar ortak değerlerimiz uğruna esir düşmüşler, onlar arasında ayırım yapmak bizim üzerimize vazife değil.

Ümmetin bu gün zillet içinde olmasının temel sebeblerinden biride bu taassub ve basiretsizliktir. İslâm beldelerinin kâfirler tarafından işgal edilip kaynaklarımızın sömürülmesi ve daha da vahimi namuslarımız kirletilip bunu tüm dünyaya gösteren kâfirler varken bizim kardeşliğin önüne başka değerler koymamız bu ümmet için helâktan başka bir sonuç vermeyecektir.

Kâfir sistemlerin, mücadele eden kardeşlerimizi terörist görmesi biz Müslümanları ilgilendirmez. Bizler kardeşlerimize sahib çıkmak zorundayız. Bazı Müslümanlar esir kardeşlere yardım etmeye korkuyorlar, bunu teröre yardım sanıyorlar. Hâlbuki hukuken böyle durum söz konusu değil, zira tutuklu bir insan ne yapabilir ki? Bunu bahane edip kardeşine sahib çıkmayan bir Müslüman için utanç verici bir durumdur. Hiçbir Müslüman’a bu durum yakışmaz.

Düşünün, esir olmuş bir kardeşimizin üç beş yaşlarındaki çocuklarına sahib çıkmaya korkuyoruz. Bu durum hiçbir Müslüman’a yakışmaz. Zira bedel ödemeyi göze alamayanlar başarıya ulaşamazlar. Biz tüm Müslümanların bu rehaveti bırakıp ahiretlerini kurtarmalarını ve izzetli günlere talib olmaları gerektiğine inanıyoruz. Mağdurlar arasında da ayrım yapılmaz. Zaten böyle bir ayrım yapmak bizim üzerimize vazife de değil. Bizim vazifemiz, sistem tarafından mağdur edilmiş mahkûmlara yardımcı olmak. En azından bir kitab yollayarak onların yalnız olmadıklarını, unutulmadıklarını göstermek istiyoruz. Bazı kardeşler kendilerine gönderdiğimiz birkaç kitab ve üç beş kuruştan dolayı kendilerini mahcub görüyorlar, hâlbuki biz yapmamız gerekeni yapmadığımız için onlara karşı mahcub olmalıyız.

Bugün birçok Müslüman esir bir kardeşine ayda elli TL gönderebilir. Onların çocuklarının hâl hatırını sorabilir. Böylece onların gönüllerini alabilirler. Bu kalblerimizin yumuşaması ve dualarımızın kabulüne vesile olabilir.

Biz rahat ortamlarda oturup; kardeşlik, dayanışma, ensar-muhacir-cemaat, Tevhid, Cihad gibi kavramları çokça dillendiriyoruz. İçimizden bir kardeş esir düşünce de bu kavramların gereğini yapmıyoruz. Hâl böyle olunca o kardeşimizin de tüm bunların lafta kaldığını görüp hayal kırıklığı yaşadığını ve çıkınca da işe güce dalıp gittiğine şahid oluyoruz. Bizim bu tür durumlara fırsat vermememiz gerekir.

– İstenilen her kitabı gönderebiliyor musunuz?

– Temin edebildiklerimizi gönderiyoruz. Tek sıkıntımız kaynak eserlerde. Özellikle de Arabça eserler. Sizin aracılığınızla Müslüman kardeşlerimize seslenelim: Kitablıklarınızda süs eşyası gibi duran kitablarınızı kardeşlerimizden esirgemeyin. Zira okumak onlar için temel bir ihtiyaçtır. Ayrıca her istenilen kitabı göndermeyi doğru bulmuyoruz, insanların aracılığımızla yanlış bilgilenmelere vesile olmalarını istemiyoruz.

– Kitab gönderme dışında ailelerle de ilgileniyor musunuz?

– Hapishanelerdeki mahkûm kardeşlerimizi ailelerinden önde tutuyoruz. Ailelere çevreleri bir şekilde yardımda bulunuyor. Tabiî ki mağdur olanlar da oluyor. Biz o aileleri tesbit edip yardımcı olmaya çalışıyoruz. Ama öncelik esir kardeşlerimiz. Bu kardeşlerimizin gönlünü almak gerekiyor. Çünkü hapishanedeki kardeşlerimiz unutulup gidiyor. Bir vefasızlık var! Onları unutmadığımızı göstermek için çabalıyoruz. Onlara ayda, az da olsa maddî yardım yapmayı düşünüyoruz. Cüzî olsa da yapmaya da başladık. Hapishanedeki kardeşlerimizi ayda elli-yetmiş lira idare edebilir. Dışarıdaki Müslümanların bilgisine… Ayrıca ailelerle ilgili olarak kardeş aile projemiz var. Hapishanedeki kardeşlerimizin aileleriyle dışarıdaki kardeşlerimizin ailelerini tanıştırıp, mağdur ailenin ihtiyaçlarını gidermeyi düşünüyoruz.

– Kitab gönderdiğiniz mahkûmlardan size ulaşan tepkiler nasıl?

– Bize yazdıkları bazı mektublarda, Asr-ı Saadet Müslümanlığının örneğini günümüze taşıdığımızı yazıyorlar… Bizler bir kitab veya cüzî miktarda para göndermenin mahcubluğunu yaşarken onların bu minvaldeki ifadeleri bizleri daha da mahcub ediyor.

– Kitab göndermek isteyenler veya mahkûm ailelere ulaşmak isteyenler adresleri sizlerden alabilir mi?

– Tabiî… Biz de bunu istiyoruz. Dernek ve vakıf işlerinde istismara müsait zeminler var, bunu önlemek için biz birebir ilişkilerin bu olumsuz durumu engelleyeceğini düşünüyoruz. Böyle zannın altında kalmamak için, yardım yapacak kişilere adresleri veriyoruz. Bizim, “Al şu parayı gönder” diyen kardeşlerden ziyade, mahkûmlarla ve ailelerle birebir ilgilenecek, dertlenecek kardeşlere ihtiyacımız var. Böyle bir durum fitneleri önleyebilir ve insanların kalbleri daha rahat olur inancındayız.

– Yeni Akit Gazetesi’nde sizinle yapılmış bir röportajda derneğinizin faaliyetlerinden bahsedilirken, evli mahkûmları eşleriyle bir araya getirdiğinizden de bahsediliyordu. Bildiğimiz kadarıyla Türkiye’de böyle bir uygulamaya izin veren bir yasa yok. Ailelerle buluşmayı nasıl gerçekleştiriyorsunuz?

– Bunu hatırlattığınız için Allah razı olsun. Bu yazıya tekzib yazmayı düşünüyorduk ancak bunu nasıl yapalım diye bir yöntem bulmaya çalıştık, sizin vesilenizle bunu izah edeyim.

Bu asılsız haberin nasıl meydana geldiğini anlatayım. Gazeteden (Akit) bir muhabir gelmişti derneğimize. Muhabir bizimle röportaj yapmak ve faaliyetlerimizi haber yapmak istedi. O sıralar derneğimizle ilişkisi olup gelip giden bir avukat (O.K.) o an oradaydı ve gazeteciyi o çağırmıştı. “Derneğin faaliyetleri bu yazıda var” diyerek kendi yazdığı bir yazıyı muhabirin flaş belleğine attı. Biz de kendisine güvendiğimizden dolayı yazıyı kontrol etme ihtiyacı görmedik. Yazı gazetede çıktıktan sonra avukatın yazdıklarından haberdar oldum. Öyle vaatler verilmiş ki, bizim o vaatleri yerine getirmemiz mümkün değildi.

– Nedir o vaatler?

– Gazeteden okuyayım:

Cezaevlerinde inancından dolayı esir olan Müslümanlara hukukî yardım etmek, avukat temini etmek, aylık harçlıklarını yatırmak, geride kalan ailelere maddî ve mânevî yardımda bulunmak. Ayrıca cezaevlerindeki mahkûm ve tutukluları ayda bir gün ev ortamı gibi görüştürerek nesillerin devamını sağlıyoruz gibi ve daha başka vaatler.

Meşguliyetten dolayı yazının gazetede çıkıp çıkmadığını takib edememiştim. Ankara’dan gelen bir telefonla yazının yayınlandığından haberdar oldum. Telefondaki şahıs, “Benim ağabeyim de cezaevinde, aile buluşmasını hangi cezaevinde gerçekleştiriyorsunuz” diye sorunca şaşırıp kaldım. Kendisine, böyle bir uygulamamızın olmadığını, bir yanlış anlamanın olduğunu söyledim. Ama haber yayılmıştı ve hapishanelerden mektublar yağmaya başladı. Kendimi bir cenderenin içinde buldum. Sonra mezkûr avukatın derneğimizle olan hukukunu bitirdik. Kendisine, bu yaptığının ahlâkî bir davranış olmadığını, bir Müslüman’ın sorumsuzca bu tür vaatlerde bulunamayacağını söyledik.

Bizim vermediğimiz ama resmimizin ve adımızın altında yazılan bu vaatlerden hangisini gerçekleştirebiliriz diye gayret göstermek zorunda kaldık ve araştırma yapmaya başladık.

Katıldığımız bir Ramazan iftarında Mazlum-Der’in İstanbul şubesi başkanıyla tanıştık. Kendisi, “Ramazan’dan sonra bir cezaevi komisyonu kurmayı planladıklarını ve bizimle de, bu mevzudaki tecrübelerimizden faydalanmak için temas hâlinde olmak istediklerini” söyledi. Nasib olursa Garib-Der olarak kurulacak komisyonun içinde yer alacağız. İnşaallah bu hususta duyarlı avukatlarla görüşüp bir neticeler almaya çalışacağız.

Hapishanede aile hayatının sağlanabilmesi için dernek olarak bu hususu dillendirip kamuoyunun gündemine taşımaya çalışacağız. Bu bir zulümdür;evlenmemiş bir genci mahkûm edip müebbet hapis verdiğinde onun neslini de kurutuyorsun, evli ise onun ailesini de cezalandırıyorsun. Dünyanın birçok ülkesinde bu aile hayatı uygulamaları mevcut; örneğin Özbekistan’da bir mahkûm durumuna göre üç ayda bir 72 saat ailesiyle beraber olabiliyor, ona göre altyapı oluşturulmuş. Bu konuda hassasiyet sahibi insanları bu meseleyi dillendirmeye çağırıyoruz.

– Aslında evli mahkûmların aileleriyle ev ortamında görüşebilmeleri gerekir. Maalesef ülkemizde bu mevzu ara sıra gündeme gelse de bir sonuç yok. İnşallah gerek bu mevzuda ve gerekse diğer mevzularda derneğinizin vesilesiyle hayırlı sonuçlar alınır.

– İnşallah… Evli mahkûmların aileleriyle ev ortamında görüştürülmeleri birçok ülkede var. Mademki Türkiye ‘çağdaş’ bir ülke olduğunu iddia ediyor, sadece mahkûmları değil aileleri de cezalandıran uygulamadan vazgeçmek ve hem evliliklerin hem de nesillerin devamını sağlamış olur. Dualarımızın sonu VELHAMDULİLLAHİ RABBİL ÂLEMİN

Furkan Dergisi, Ekim-Kasım 2011, s.41

GARİPLER YARDIMLAŞMA DERNEĞİ

Guraba Muslims Association

جمعية الغرباء المسلمين

İskenderpaşa Mah. Fevzi Paşa Cad.

Binaemini Sok. Şelale Apartmanı 4/4

Kıztaşı Fatih / İstanbul / Türkiye

Tel:0212 534 73 87 Faks: 0212 534 73 97 7

Kandil Geceleri Bid’at’çi Niceleri (kitap)

Türkiye’de her sene “dinin kesin bir emri, fıkhi bir vecibeymiş” gibi kutlanılan özel gecelerin aslında hem İslam’ın iki ana kaynağı (Kur’an ve sünnet) tarafından “kutsal” ilan edilmedikleri bir hakikattir.
Kandil geceleri diye bilinen geceler ; mevlid , Regaib, Mirac, Beraat ve Kadir Gecesidir.
Bu gecelere Kandil denmesinin sebebi Osmanlı padişahı 2. Selim (1566-1574) zamanında başlayarak, minarelerde kandiller yakılarak duyurulup kutlandığı için “Kandil” olarak anılmaya başlamıştır.
[Nebi Bozkurt, “Kandil”; Halit Ünal , Berat Gecesi maddesi. Diyanet İslam Ansiklopedisi (DİA), İstanbul, 2001, c. 24, s. 300]

Devletin resmi din kurumu Diyanet’in hazırladığı ansiklopedide “kandil” maddesinde bunlar yazıyor.
Fakat kandil gecelerini bizzat organize eden, camilerde mevlid ve dua merasimleri düzenleyen, bu geceler münasebetiyle kutlama mesajları yayınlayan ve halkın kendilini kutlayan da yine Diyanet’in kendisi…
Peki bu nasıl oluyor?
Çünkü bu gecelerin kutlanması bir halk geleneği değil; devlet politikası da ondan.
Nedir devlet politikası?
İslam’ı doğuş tabiatına uygun olarak bir “pratiği olan hayat dini” olmaktan çıkarıp, “mübarek gün ve geceler dini” haline getirmek…
Gündüzün ortasında, hayatın kalbinde atan bir din olmaktan çıkarıp, el ayak çekilince, hayatın tümüyle uykuya çekildiği gece vakitlerinde hatırlanan bir “tapınak ve ayin” dini haline sokmak…
Çünkü Fransız laiklerin Hristıyanlığa layık gördüğü muamele buydu. Türk laiklerin de İslamiyete layık göreceği muamele de bundan başkası olamazdı…

İlk olarak hicretten 300 yıl sonra ilk kez Mısır’da, Şii Fatimiler döneminde Mevlid; 400 yıl sonra da Kudüs’te Mirac, Regaib ve Berat geceleri kutlanmaya, bu geceler camilerde toplu biçimde yapılan ibadetlerle geçirilmeye başlandı. Daha sonra bu kutlamalar İslam dünyasının bazı bölgelerine yayılarak gelenekleşti
Kadir gecesi haricinde ne Kur’an-ı Kerim’de ne hadis-i şeriflerde sahih bir bilgi vardır.
Din adına yapılan her şeyi, kendi tabii sınırları içinde ele almak, ne artırarak ne eksilterek, Kur’an ve onun tebliğcisi Hz. Peygamber (s.a.v.) tarafından nasıl tebliğ edilip öğretilmişse, o kadarıyla almak gereklidir. Sahabe bu dini nasıl anlamış , neler yapmış bizler nasıl anlıyor neler yapıyoruz mukayese etmeliyiz . Aksi halde kendi ellerimizle dine müdahalede bulunmuş, işimize geldiği veya hoşumuza gittiği gibi dinde bazı ilave veya eksiltmelerde bulunmuş oluruz. Bizden önceki din mensupları da (ya kasıtlı veya iyi niyetle, ama) tam da bu şekilde dinlerini değiştirmişlerdi.

Bazı alimlerin ! muhtemelen iyi niyetle zamanlarına ait bir maslahat gözeterek, ancak yeterince tahkik etmeden adına “kandil geceleri” denen gün ve gecelerle ilgili söyledikleri muhakkik âlimler tarafından eleştirilmiştir. Mesela İmam Gazali’nin “İhyau Ulûmu’d-Dîn” adlı eserine aldığı rivayet ve nakiller bu türdendir. Gazali’nin “Bu gece her rekatta Fatiha’dan sonra 11 İhlas okunmak suretiyle kılınacak yüz rekat veya her rekatinde Fatiha’dan sonra 100 İhlas okunan 10 rekat namazın çok sevap olduğuna dair naklettiği rivayet
(İhya, I, 555 vd.)

Zeynuddin el Iraki ve İmam Nevevi gibi âlimler tarafından uydurma olarak nitelendirilmiştir.
Mevzu hadisler konusunda çalışması olan Aliyyu’l-Kari de, bu rivayetin uydurma olduğunu belirttikten sonra, Berat Gecesi namazının miladi 1010 (H. 400) yılından sonra Kudüs’te ortaya çıktığını söylemektedir.
Araştırmalar, kandil gecelerinin sonraki dönemlerde ihdas edildiğini ortaya koyuyor. Miladi 9. (Hicri 3). yüzyılda yaşayan Fakihi, Mekke’de halkın Berat Gecesi’ni Mescid-i Haram’da namaz kılmak, Ka’be’yi tavaf etmek ve Kur’an okumak suretiyle ihya ettiğini söyler. XI. yüzyıldan itibaren Şam’da Emeviler Camii’nde Berat Gecesi’nde kandiller yakılmış, bid’at nitelendirilmesine rağmen bu âdet devam ettirilmiştir.
İbn Kesir, “Halka Berat Gecesi’nde ilk tatlı dağıtan kişi Selçuklu veziri Fahrulmülk’tür.” der.

BidatHz. Peygamber ve Ashâb-ı Kirâm dönemlerinde görülmeyip onunla amel edilmeyen, hattâ bir benzeri olmayan ve İslâm’dan olmadığı halde sonradan ortaya çıkan , din ile alâkalı olup bir ilâve veya eksiltme mahiyetinde olarak ibâdet kabûl edilen , göze ve akla hoş gelen dua ,kuran okuma , namaz kılma , zikretme , düşünce görüş ve ameller , sünnete aykırı davranışların adet haline getirilmesidir.

Dinde sonradan ortaya çıkan ve hakkında herhangi bir delil bulunmayan bu gibi durumlar hakkında ALLAH Rasulu (s.a.v.) şöyle buyurmuştur:
İşlerin en kötüsü sonradan ihdas edilenler / ortaya çıkarılanlardır.”
[ Muslim, Cuma, 43.]

Sonradan ihdas edilen her şey bid’attir
[Nesâi, Îdeyn, 22; İbn Mâce, Mukaddime, 7]

Her bidat dalalettir, her dalalet de ateştedir.”
[Muslim, Cuma, 43; Ebu Davud, Sünnet, 6]

Bidat hakkındaki bu hadislerden sonra Bidatın tarifi ve kapsamı hakkındaki açıklamaları kavramamız gerekmektedir.

İmam-ı Ahmed’in ve başka alimlerin mekruh gördükleri bu “adet haline getirilmiş” toplantıları, sahabilerden İbn-i Mesud’un da aynı şekilde değerlendirdiğini şu olaydan öğreniyoruz. Bildirildiğine göre bir ara, İbn-i Mesud’un dostları kararlaştırdıkları bir yerde toplanıp zikretmeyi adet edinmişlerdi. Bunu öğrenen İbn-i Mesud bir defasında toplantı halinde üzerlerine vararak kendilerini:
Ey dostlarım, siz Muhammed’inkinden daha doğru bir yolda mısınız, yoksa sapık bir yola mı düştünüz ?” diye paylamıştır.
(Darımi Sunen, görüşe bağlanmanın keraheti, c. 1, s. 681. Haberin sözleri şöyle: “Canımı elinde tutana yemin olsun ki, kuşkusuz siz Muhammed’in milletini ilettiği doğru yolda mısınız, yoksa kapı mı aralıyorsunuz?.)

Periyodik vakitlere bağlı olarak tekrarlanıp, sünnet ve dönüşüm (mevsim) niteliği kazanmış meşru ibadetlerin, kullar için yeterli olacak kadarını bizzat ALLAH belirleyip ortaya koymuştur (meşru kılmıştır). Buna göre bunların dışında bir takım cemaatli toplantılar ortaya konup adet haline getirilince bu durum ALLAH’ın belirleyip ortaya koyduğu cemaatli ibadetlere özenmek olur. Bu tutumun yıkım ve bozulmalara yol açacağını bilmemek safdillik olur.
Yalnız kişilerin tek başlarına yapacakları aynı nitelikteki nafile ibadetleri ile, bazı gurupların bu amaçlarla arasıra düzenleyecekleri toplantılar bu hükmün dışındadır.
Yine aynı endişeden hareket eden Hz. Ömer, altında “Rıdvan” biatinin gerçekleştiği sanılan ve bu yüzden müslümanlar arasında adeta tabulaştırılarak sanki Mescid-i Haram (Kabe) ve Mescid-i Nebevi (Peygamberimizin Medine’deki Mescidi) imiş gibi yanıbaşında namaz kılınmaya başlanan bir ağacı kökten çıkarttırmış ve yine vaktiyle Peygamberimizin namaz kıldığı bir yeri müslümanların genel bir itikâf yeri edindiklerini görünce, böyle yapanları “Peygamberimizin hatıralarını barındıran yerleri mescid mi edinmek istiyorsunuz?” diyerek azarlamıştır.
Tıpkı bunun gibi gerek tek başına ve gerekse cuma namazlarına, bayram namazlarına ve beş vakit namazlara benzeyecek şekilde, periyodik olarak tekrarlanmamak şartı ile rastgele bir araya gelmiş cemaatler halinde nafile namazlar kılmak, şeriata uygundur. Tek tek ve topluluk halinde nafile olarak Kur’an okumak, zikretmek ve dua etmek de böyledir.
Nafile olarak bazı ziyaret yerlerini gezip görmek de hep bu ana kuralın kapsamına girer. Bütün bu ibadet ve hareketlerde, gerek az sayıda ve gösterişsiz olan ile sık sık ve gösterişli olan arasında ve gerekse adet haline getirilen ile adet haline getirilmeyen arasında fark gözetilir.
Bu arada türü bakımından şeriata uygun olan, fakat sanki bir farzmış gibi devamlı bir adet haline getirilmesi bid’at olan ve müstahab veya mekruh sayılması adaklık hükümleri ile uygulama şartnamesine bağlı olan vasiyet ve vakıf gibi ibadetler aynı kategoriye girer.

İmam Nevevi ”tezkire”sinde bid’at ehlinin bir özelliğini şöyle açıklıyor:
Dünyada nerede bir bid’atçı varsa o mutlaka hadis ehline kin besler. Kişi bidat ‘e saplanınca hadisin tadı onun kalbinden çıkar.”

Gerçekten kaç tane bidatçi ile görüşüp konuşmuşsam bazıları üstatlarının, şeyhlerinin sözünü sünnetini, peygamberin (s.a.v.) hadisi ve sünneti önüne çıkarırken bazıları da (mesela mealci denen grup gibi) şahtın ve pahtın (müsteşrikler) sözlerine dini yorum ve açıklamalarına bayılırcasına bağlandıklarını görürüz. Peygamber efendimizin sünneti ve hadisleri hatırlatıldığında nefret çizgilerinin yüzlerinde belirdiği görülür.

Ashabın yapmadığı bir ibadet ibadet değildir.

Sufyan-ı Sevri’nin bidat değerlendirmesi:
“ Bidat şeytanın nezdinde her günahtan daha sevimlidir. Çünkü günahtan dolayı tövbe edilmesi akla gelir de bidatten (ibadet telaki edildiği için) tövbe edilmesi akla gelmez.”
(Bağavi-Şerhu’s sunne)

İmam Malik’in bidata bakışı:
“ Sünnet Nuh (a.s) un gemisi gibidir. Ona binen kurtulur. Ondan geri kalan boğulur.
(Miftah’ul cenneh- suyuti)

Abdullah b. Abbas (r.a) Ebubekir ve Ömer’in sözlerini illeri sürüp sünnete ters düşen birine şöyle dedi:
Nerde ise gökten üzerimize taşlar yağacak. Ben size Rasulullah buyurdu diyorum, siz ise, Ebubekir ve Ömer dedi diyorsunuz.
(Abdurrazzâk el-musannef sahih bir senetle)

[Linkleri Sadece Kayıtlı Üyeler Görebilir.[ÜYE OLMAK İÇİN TIKLAYIN…]

İnsanları bidat konusunda yanılgıya düşüren 2 sebeb :

1. yanılgı din adına yaparken “kuran okuyor , namaz kılıyor , dua ediyorum , kötü bir şey yapmıyorum” yanılgısıdır. “Yaparsam ne olur , ne kaybederim ” savunmasıyla cahil cesur olur tavrıyla hareket edilmesidir. Halbuki bidat zaten kötü niyetle dinden uzaklaşmak , göze çirkin gelen amellerle yapılmaz.

2. yanılgı ise Bidat-ı hasene (güzel bidat) yanılgısıdır. Delil aldıkları ise ; Rasûlullah (s.a.v.) döneminde sekiz rekât olarak münferiden kılınan teravih namazın yirmi rekat olarak bir imamın arkasından kılınmasıdır :

Abdurrahman bin Abdi’l-Kâri (r.a.)’dan:
Bir gece Ömer’le (bir Ramazan gecesinde) mescide birlikte çıktık. İnsanlar dağınık bir şekilde namaz kılıyolardı kimisi kendi başına , kimisi de durmuş, bir grup da toplanmış onun arkasında namaz kılıyordu.
Bunun üzerine Ömer dedi ki:
Bunları bir okuyucunun arkasında toplasam da onun arkasında toplu halde namaz kılsalar.
Bu işin üzerine durdu ve nihayet onları Ubeyy bin Kâ’b‘ın arkasında onun imamlığında topladı. Sonra başka bir gece yine namaza çıktık, onları toplu halde adı geçen sahabinin arkasında namaz kılarken görünce :
Ne güzel bid’attır bu ! Ne var ki bunu kılıp da sonra gecenin son kısmında kalkıp bunu kılanların davranışları bundan daha iyidir.(Zira) cemaat(bu namazı) gecenin başında kılıyorlardı
[Malik ve Buhari]
(Bu hadisi Malik [salât fî Ramadân no. 3, s. 114] ve Buhari [teravih I/3, II/252], Mâlik ani’z-Zuhrî an Urve b. ez-Zubeyr an Abdurrahman asl-ı senedi ile tahric ettiler)
(Muhammed Revvâs Kal’acî, Mevsuatu Fıkhı Umar b. e!Hattâb, Kuveyt 1984, s. 125).

Alimlerin çoğunluğuna göre , tasavvufçuların “bid’at-i hasene” kapsamına soktukları şeyler haddi zatında bid’at değildir. Onlara bid’at ismini vermek yanlıştır. Çünkü bu gibi şeylerin Kur’ân ve Sünnet’te dayanakları vardır. Bunlara sonradan çıkmış şeyler nazariyle bakılamaz.
Rasûlullah (s.a.v.), şu hadislerinde bid’atin tarifini yapmışlardır:
Sonradan ortaya çıkan herşey bid’attir; her bid’at sapıklıktır ve her sapıklık insanı ateşe sürükler.
“(Muslim, Cumua, 43; Ebû Davud, Sunnet 5; Nesâî, lydeyn, 22; İbn Mâce, Mukaddime, 7).

Üstelik rasulullah şöyle buyurmuştur :
Sünnetime ve benden sonra raşid halifelerin sünnetine sımsıkı sarılın”.
( Tirmizî, İlim, 16; Ebu Dâvud, Sunne, 5; İbn Mâce, Mukaddime, 6)

Hz. Ömer (r.a) bu sözü insnaları teravih namazı için topladığı zaman söylemiştir. Teravih namazı ise bid’at değil sünnetin ta kendisidir. Rasulullah’ın teravih namazı kıldığı sahih hadislerle sabittir. Yani sonradan ortaya çıkmamıştır ! Bunun delili Aişe(r.a)nin rivayet ettiği olaydır:

“Rasulullah (s.a.v.) Ramazanda mescitte gece bir namaz kıldı. Sahabenin çoğu da onunla birlikte o namazı kıldı. İkinci gece yine aynı namazı kıldı. Bu kez O’na tabi olarak aynı namazı kılan cemaat daha fazla oldu. Üçüncü gece Hz. Muhammed (s.a.v.) mescit’e gitmedi. Orayı dolduran cemaat onu bekledi.
Rasulullah (s.a.v.) ancak sabah olunca mescide çıktı ve cemaata şöyle buyurdu:
Sizin cemaatla teravih namazını kılmaya ne kadar arzulu olduğunuzu görüyorum. Benim çıkıp, size namazı kıldırmama engel olan bir husus da yoktu. Ancak ben size, teravih namazının farz olmasından korktuğum için çıkmadım
(Buharî, Teheccud, 57).

Ebû Hureyre (r.a)‘nın naklettiği bir başka hadiste de Rasûlullah (s.a.v)‘in Ramazan ayında, ashabtan bir grubu, Ubey b. Kab (r.a)‘ın arkasında cemaatle namaz kılarken gördü ve “Doğru yapıyorlar, yaptıkları şey ne güzeldir” diyerek tasvip ettikleri haber verilmiştir.
(Ebû Dâvud, İkâmetu’s-Salâ,190)

Peygamber (s.a.v.) , teravih namazını cemaatle kılmayı terketmesinin nedenini belirtmiştir. Hz. Ömer (r.a)i se ,bu gerekçenin ortadan kalktığını görünce (artık peygamber yoktu ve faraz kılınma durumu ortadan kalkmıştı) , teravih namaznın tekrar cemaatle kılınmasını başlatmıştır. O halde Ömer (r.a)ın bu uygulaması , bizzat nebi (s)in uygulamasına dayanmaktadır.

Hz. Ömer (r.a.)in bu uygulamasının bid’at olmadığı ortaya çıktığına göre , sözünde geçen “bidat” kelimesi ne demektir ?

Hz. Ömer (r.a)in bu ifadesindeki bidat kelimesiyle şer’i anlamı değil sözlük anlamı kastedilmiştir.

Sözlükte bid’at, geçmişte bir örneği olmaksızın yapılan şeydir. Teravihin cemaatle kılınması bir uygulama olarak Hz. Ebu bekir (r.a)in hilafeti döneminde ve Hz. Ömer (r.a)in hilafetini ilk dönemlerinde mevcut değildir. Bu sebeble sözlük anlamıyla bu yenilik (bidat) sayılabilir ; zira bunun geçmiş örneği yotkur.
Aynı meseleye şer’i açıdan bakıldığında -,durum farklıdır, zira bu uygulama peygamber (s.a.v.) in tatbikatında mevcuttur.

Şatıbi şöyle der;
“Bu itibarla bunu bidat olarak adlandıran kişinin (ki isimlendirme konusunda bir tartışma söz konusu değildir ) bundan dolayı şer’i bidat anlamında Ömer (r.a)in sözünün ifade ettiği mana ile istidlal etmesi caiz değildir. Zira bu kelimeyi asıl amacından saptırmakla olur.”
(Şatıbı, el i’tisam)

Bu konuda büyük imamların sözleri şöyledir :
İbni teymiyye şöyle der; Ömer (r.a)in bu güzel uygulamayı bid’at olarak adlandırması ,tamamen sözlük olarak bir adlandırmadır, şer’i değildir.
Bunun sebebi bid’at kelimesinin ,sözlük olarak geçmiş bir örneği olmaksızın yapılan her şeyi içermesidir. Şer’i olan bid’at ise hakkında şer’i bir delil olmaksızın yapılan uygulamadır.

İbn Kesir ,bid’atlerin iki türlü olduğunu söylemiştir:

1.Bid’at kavramı bazen şer’i anlamda kullanılır. peygamber (s.a.v.)‘in; “sonradan ortaya çıkarılan her yenilik bid’attir ve her bid’at sapıklıktır” ifadesi bunun örneğidir.

2.Bid’at bazende sözlük anlamında kullanılır. Hz. Ömer (r.a)ın insanları teravih için topladığı ve onların da buna devam etmesi üzerine söylediği “bu ne güzel bid’attir” sözü de bunun örneğidir.
(ibn’i kesir tefsiri)

İmam Ebû Hanife‘ye Hz. Ömer (r.a)‘ın bu hususta yaptığı uygulama sorulunca, şöyle demiştir:
Teravih namazı hiç şüphesiz müekked bir sünnettir. Hz. Ömer, bu namazın cemaatle ve yirmi rekat kılınmasını şahsi bir ictihadı ile yapmadığı gibi, bir bid’at olarak da emretmemiştir. O, kendisinin bildiği şer’î bir esasa ve Hz. Muhammed (s.a.v.)‘in bir vasiyetine dayanarak böyle yapmıştır
(et-Tahtavî, Haşiye, 334).

İmam-ı Rabbani, Mektubat isimli eserinde:
Bid’atın hasenesi olmaz. Hepsi mezmundur.” Dedikten sonra güzel bir misal verir.
Ulemadan bazıları namazda niyet için kalben dileyerek dille söylemeyi bidatı hasene diye anlatmışlardır. Halbuki Resulullah(s.a.v.) efendimizden, ashabı kiramdan, tabiini izamdan niyetin dille yapıldığına dair hiçbir şey anlatılmadığı gibi bu manada sahih ve zayıf bir rivayet dahi yoktur. O kadar ki, onlar ayağa kalkar kalkmaz(yani kametten sonra) ilk tekbiri almışlardır. Bu durumda niyeti dille söylemek bidat olur. Bunun içinde bidatı hasene demişlerdir. Ama bu manada bu fakir(İmam Rabbani) der ki: Bu bidat sünnet bir yana farzı dahi kaldırmaktadır. Şundan ki; insanların pek çoğu bu durumda niyet işinde yalnız dille olanı ile yetinecekler ve kalplerini hazır edemeyeceklerdir. İşte o zaman namazın farzlarından biri olan kalple niyet, tamamen bırakılacak, namaz dahi fesada girecektir
(İmam Rabbani- 186.mektup)

Şunu da tekrar vurgulayalım ki, Peygamberimiz “Her bid’at dalalettir(sapıklıktır)” şeklindeki bu genel-geçer cümlesini, onu genellik niteliğinden soyutlayarak “Her bid’at dalalet (sapıklık) değildir” şeklinde tersine döndürmek, normal bir yorumlama çabasından çok, peygamber Efendimize karşı çıkmaktır ki, buna hiç kimsenin ne yetkisi ve nede hakkı olmamalıdır.

Huzeyfe b. el-Yamân‘ın rivâyet ettiği bir hadis-i şerifte:
ALLAH bid’at sahibinin orucunu, namazını, sadakasını, haccını, umresini, cihadını, sarfını (maddi yardımını),şehadetini kabul etmez. O, kılın yağdan çıktığı gibi İslâm’dan çıkar. “
(İbn Mace, Mukaddime, 7/49).

Bu ikaz karşısında müslümanların dikkatli davranacakları ve bid’atın ne olduğunu araştıracakları muhakkaktır.
Abdullah b. Abbâs (r.a.)‘dan rivâyet edilen bir hadiste şöyle buyrulur:
ALLAH, bid’at sahibinin amelini, bid’atından vazgeçinceye kadar kabul etmez.”
(İbn Mâce, Mukaddime, /50).

Amellerinin kabul edilmeyeceğini bilen bir müslüman korkar ve neyin bid’at olup, neyin olmadığını araştırır.

Meselâ, Rasûlullah’a selam ve salât ALLAH’ın emridir. Ama Rasûlullah’ı anmak için dini törenler yapmak ve mevlit okutmak kimin emridir? Ölüleri hayırla anmak ve onlara dua etmek sünnette vardır. Ama ölüler için mevlit okutup 7., 40., 52. geceleri tertip etmek İslâm’ın hangi hükmüne dayanır?

Türkiye’de tasavvufçuların (özellikle Süleymancıların) bu gecelerde okuyup basarak dağıttıkları (Mubarek gün ve gecelerde yapılan ibadetler kitabı – Fazilet , Tavaslı , pamuk vs. yayınları) duaların , namazların , ibadetlerin ise aslı yoktur. Zaten hadis diye verdiklerinin kaynakları da verememişlerdir.
Peygamber (s.a.v.) ‘den rivayet edilen dualardan faziletli olmaları mümkün değildir. Çünkü O’ndan rivayet edilen duaların iki ecri vardır. Birincisi; sünnete uymaktan dolayı onu yerine getirenlerin alacakları ecir, ikincisi; duaları okurken alınacak ecir. Bizlerin daima nebevi sünnetleri ezberlemesi ve onlarla dua etmesi gerekir.
Bir insanın kalkıp ta istediği an yeni yeni ibadetler icat etmesi elbette olacak şey değildir. İnsanlara ibadet koymaya ve ibadetlerinin şeklini çizmeye tek layık olan ALLAH Teala’dır.
Yoksa, ALLAH’ın dinde izin vermediği bir şeyi onlara meşru kılacak ortakları mı vardır?” (Şura: 21)

Cenab-ı ALLAH’ın (c.c.) şu buyruğunu okuyalım:

Onlar; hahamlarını, rahiblerini ALLAH’tan başka rabler edindiler. Meryem oğlu İsa’yı da (rab edindiler)... Oysa tek ilaha ibadet etmekle emrolunmuşlardı. O’ndan başka ibadete layık ilah yoktur. O, onların ortak koştuklarından yücedir.” (Tevbe:31)

Bu ayetle ilgili olarak sahabilerden Adiy b. Hatem Peygamberimize:
Ya Rasûlullah, onlar (yahudi ve hristiyanlar) hahamlarına ve rahiplerine tapmış değildiler ki” deyince Rasûlullah’dan aynen şu cevabı aldı:
Evet, onlara tapmamışlardı, ama hahamlarla rahipler haramları helâl saydılar, onlar da onlara itaat ettiler. Yine onlar helâlleri haram saydılar, onlar da kendilerine itaat ettiler.”
Buna göre kim dinde ALLAH’ın izni ile bağdaşmayan yeni bir helâl, haram, mustehab veya farz ileri sürer de biri ona itaat ederse, bu itaat eden kimse bu ayetteki “kınama”dan payını alır.

Nafi (r.anh) anlatıyor; İbni Ömer (r.a)‘nın yanında birisi aksırdı ve “elhamdulillah vesselamu ala Rasulillah (Allah’a hamd Rasûlune selam olsun) dedi.
Bunun üzerine İbn Ömer şöyle dedi:
Ben elhamdulillah vesselamu ala Rasulillah mı diyorum? Rasûlullah(s.a.v.)bize böyle öğretmedi. Bize “elhamdulillahi ala kulli hal” (Her zamanda ve her zeminde Allah’a hamdolsun) dememizi öğretti.”
(Tirmizi (2738); Hakim (4/265) isnadı hasendir)

Görüldüğü gibi bahsedilen şahıs aslında görünüşte kötü bir şey söylememiştir. Fakat sünnette öğretilen dua yerine kendi uygun bulduğu şekilde dua ettiği için, İbni Ömer (r.a.) tarafından tepkiyle karşılanmıştır.

Abdullah Bin Mugaffel (radıyallahu anh) oğlunun; “Allahım Senden cennetin sağında beyaz bir köşk istiyorum” dediğini duyunca; “Peygamber Aleyhisselam’ın şöyle buyurduğunu işittim; “Bu ümmette duada haddi aşanlar olacaktır.”
(sahihtir. Ebu Davud (96,1480); Deylemi (3440); Ahmed (1/172); İbni Hibban (15/166); Hakim(1/267); Beyhaki (1/196); Abd Bin Humeyd Musned (1/180); Huseyni El Beyan Vet Tarif( 2/181); Tuhfetul Ahvezi (1/157); Neylul Evtar (1/215); Tayalisi (1/28); Feyzul Kadir (4775); İbni Mace (3864); Kenz (3295) benzerini; Cem’ul Fevaid’de (9252) Rudani nakleder.)

Berâ b. Âzib (r.a.)’den rivâyete göre, Peygamber (s.a.v.) şöyle buyurdu:
Yatacağında namaz abdesti gibi abdest al, sonra sağ tarafına uzanıp şöyle de;
Allah’ım irademi sana teslim ettim yönümü sana çevirdim senden korkup seni isteyerek işlerimi sana bıraktım sırtımı sana dayadım senden kaçıp kurtulmak ancak sana dönmekle mümkündür. İndirdiğin kitaba ve gönderdiğin peygambere iman ettim.” bunları söylediğin gece ölürsen fıtrat üzere tertemiz ölürsün, sabaha çıkarsan hayır kazanmış olarak sabahlamış olursun”;
Berâ diyor ki:
Ben “gönderdiğin Rasûle” dedim… Bunun üzerine peygamber (s.a.v.) göğsüme vurdu ve; “Gönderdiğin peygambere” de buyurdu.
(Buhâri, Daavât 7, 9; tevhid 34; Muslim(2710); Tirmizi (3391); Ebu Dâvud (5046, 5047, 5048))

Burada da görüldüğü üzere, aynı anlama gelen iki kelime arasında dahi bir değişiklilk yapılması caiz görülmemişken, Rasulullah (s.a.v.)’den geldiği sabit olmayan bir dua ile nasıl dua edilebilir?
Rasulullah (s.a.v.)’in sünnetinde bulunmayan dualarla dua edenlerin, Esma ul Husna’dan belirli isimleri belirli sayılarda okuyanların bulunduğu ortamdaki cinleri rahatsız ettiği, cinlerin de bu kimselere musallat olduğu söylenmektedir. Özellikle günlük virdleri çok sayıda olan sufilerde ve Cevşeni çok okuyanlarda aklî rahatsızlıklar sık görülmektedir.
Hayvani gıdalardan riyazet ederek “çile” dedikleri halvete giren ve orada zikir yaptıkları esnada şeytanların telkinine kapılarak mehdilik iddiasında bulunanlara sık rastlanılmakta, bunlardan bazılarında görülen olağanüstü işlerin keramet olduğu zannedilmektedir. Aslında bu islami bir usul değil, hatta sünnette yasaklanmış hususlardandır. Bunun en büyük göstergesi de aynı şekilde riyazete çekilen rahiplerin de bir takım harikuladelere (istidrac) sahip olmasıdır. İslamda gaye keramet elde etmek değil, istikameti muhafaza etmektir!

İbni Abbas(ra)’den : rasulullah (s.a.v.) buyurdu ki :
“…Benim ümmetimden birtakım kimseler getirilip sol tarafa ayrılacaktır. Ben “Ey Rabbim! Bunlar benim ashabımdırlar, derim.
Cenabı ALLAH cc bana: “Bunların senden sonra neler yaptıklarını bilmezsin der.
Ben de ALLAH’ın salih kulu İsa as’ın dediği gibi Aralarında bulunduğum müddetçe onları gözetliyordum. Sen, benim canımı alınca onları gözetleyen sen oldun. Her şeyin gözetleyicisi sensin. Onlar senin kullarındır. İstersen âzab edersin, istersen bağışlarsın. Zira izzet ve hikmet sahibi sensin (Maide:117)derim.
Cenabı Hak “Sen onlardan ayrıldığın gün, onlar gerisin geri döndüler” buyurur.
Bir rivayette peygamber (s.a.v.)’in “Benden uzak olsunlar, benden uzak olsunlar, benden uzak olsunlar,derim” ziyadesi vardır.
(Buhari-Muslim) (Hayatus Sahabe-4)

Judi Dan Dampak Buruknya Terhadap Keluarga Dan Masyarakat

Tidak sedikit dari masyarakat Indonesia yang suka main taruhan. Sangat wajar karena judi menjadi permainan yang menguntungkan serta beda dengan permainan judi lain. Misalnya, para penikmat taruhan bakal dapat uang tunai di setiap kemenangan yang ia dapat. Menarik dan tentu saja bakal membuat penikmat judi semakin kaya raya setelah mendapat kemenangan demi kemenangan. Begitulah menurut para pemain judi.

Belum lagi sekarang perjudian juga banyak ragamnya. Kamu bebas mau memainkan taruhan apapun sesuai keinginan. Contohnya saja di situs judi bola. Dimana kamu bisa memainkan taruhan bola secara online. Jadi tidak usah daftar di lokasi taruhan nyata lagi untuk bisa memainkannya. Tinggal nyalakan smartphone dan judi bebas diikuti tanpa batas,

Sayangnya, perjudian yang menguntungkan seperti ini juga memberi dampak buruk bagi penikmat taruhan. Dampak buruk yang akan dibahas kali ini berkaitan dengan keluarga dan masyarakat. Berikut beberapa dampak buruknya:

  1. Penikmat taruhan bisa saja menelantarkan keluarganya. Pasalnya pemain judi lebih memilih bermain taruhan di situs judi bola dibanding menafkahi keluarga. Ini tentu membuat keluarga terbengkalai dan tidak jarang ada banyak kasus perceraian karena masalah perjudian.
  2. Selain itu, keluarga juga akan kena aib terhadap sesama warga di masyarakat. Ini tidak heran karena perjudian sudah sejak dulu dilarang. Artinya, jika ada pemain taruhan yang bermain, meskipun di situs judi bola sekalipun., ia akan menjadi krimininal di situs taruhan. bahkan tidak jarang satu keluarga kena diskriminasi karena ada anggotanya yang main taruhan
  3. Bagi masyarakat permainan judi juga membuat warganya tidak tenang. Sudah banyak kasus yang menunjukkan jika perjudian merugikan dan membuat masyarakatnya tidak tenang/ Misalnya, ada kasus perampokan karena mencari modal taruhan. Selain itu ada juga kasus pembunuhan dan burnuh diri karena masalah judi.

Nah, perjudian memang menyenangkan, terlebih saat ini sudah ada situs judi bola yang bisa diikuti untuk wadah. Sehingga nafsu untuk bermain taruhan akan semakin menggebu-gebu. Meskipun begitu, sebagai penggila judi tentu saja kamu tetap harus cermat. Jangan sampai karena permainan judi kamu malah merusak diri sendiri, keluarga dan masyarakat.

alat keselamatan

Alat Keselamatan Utama Pada Kapal Wajib Anda Miliki

Keselamatan merupakan salah satu hal yang sangat penting dan vital bagi kehidupan setiap makhluk hidup, termasuk manusia. Hidup dapat terus berlanjut dan berjalan karena setiap makhluk hidup menjaga keselamatan diri masing-masing. Berbagai cara dan upaya dilakukan manusia khususnya untuk menjaga keselamatan dan menghindari bahaya yang mengancam kenyamanan hidup mereka. Itulah mengapa alat keselamatan penting sekali untuk dimiliki.

Namun kenyataannya, bahaya dapat terjadi dimana saja dan juga kapan saja. Dalam setiap kegiatan yang akan dilakukan, pasti terdapat sebuah bahaya yang akan terjadi apabila tidak berhati-hati. Termasuk juga saat melakukan kegiatan di kapal, maka disediakanlah beberapa alat keselamatan. Menjaga keselamatan saat berada di atas kapal bertujuan menghindari terjadinya kecelakaan dan kerusakan terutama di tengah badai.

Indonesia dikenal dunia sebagai negara kepulauan dengan luas lautan yang luar biasa. Berkaitan dengan  itu, banyak sekali kegiatan yang umumnya dilakukan oleh sebagian besar orang di atas kapal. Sejalan dengan banyaknya kegiatan tersebut, maka risiko setiap kegiatan pun semakin meningkat. Pada artikel kali ini, akan diulas sejumlah perlengkapan kapal yang memiliki peran di bidang keselamatan. Selamat membaca!

Sekoci Penyelamat

Alat keselamatan utama pada kapal yang pertama adalah sekoci penyelamat. Istilah lain dari alat ini yang cukup populer adalah life boat. Sekoci penyelamat ini secara umum merupakan sebuah perahu yang sengaja disiapkan untuk digunakan saat keadaan darurat.

Sekoci penyelamat ini dapat menampung beberapa orang saat terjadi kerusakan pada kapal utama. Bentuk dari sekoci penyelamat ini menyerupai perahu kecil yang terdapat di sisi kiri ataupun sisi kanan dari kapal utama. Tidak jarang, beberapa kapal memiliki dek sekoci khusus untuk menyimpan alat keselamatan ini. Kami menyarankan anda untuk membeli sekoci penyelamat dengan perlengkapan navigasi yang bagus.

Jumlah sekoci penyelamat pada tiap kapal ternyata berbeda. Tergantung dari jenis kapalnya dan juga muatannya. Kapal yang memuat barang umumnya memiliki dua sekoci saja. Pada kapal khusus penumpang, jumlah sekoci disesuaikan dengan muatan dari kapal tersebut. Semakin banyak penumpang yang diangkut, maka jumlah sekocinya pun semakin banyak.

Di dalam sekoci tersedia beberapa peralatan kapal dan pertolongan dasar. Seperti makanan, minuman, dan juga obat-obatan. Sekoci juga dapat digolongkan menjadi dua golongan secara umum. Yaitu sekoci yang menggunakan tenaga manusia dengan menggunakan dayung. Namun ada pula yang menggunakan tenaga mesin.

Cincin Pelampung

Alat keselamatan yang akan diulas selanjutnya adalah cincin pelampung. Alat ini sudah sangat populer di kalangan masyarakat, dan tentunya sudah sangat familiar. Cincin pelampung memiliki nama lain life ring. Dinamakan cincin pelampung karena memiliki bentuk lingkaran dengan bagian tengah yang berlubang seperti cincin. Alat ini dapat ditemui pada segala jenis kapal laut.

Penggunaan cincin pelampung ini adalah dengan cara dilemparkan ke dekat penumpang yang akan tenggelam. Hal ini dilakukan agar penumpang kapal tersebut dapat meraih cincin pelampung dan mengapung di permukaan air. Umumnya, alat ini didesain khusus dengan warna yang mencolok. Hal ini bertujuan agar mudah dilihat secara visual.

Cincin pelampung pada umumnya terbuat dari bahan dasar yang ringan. Hal ini bertujuan agar cincin pelampung dapat dengan mudah mengapung di atas air. Dengan demikian, cincin ini dapat menjalankan fungsinya dengan baik.

Rompi Keselamatan

Alat keselamatan di dalam kapal yang selanjutnya adalah rompi keselamatan. Dari namanya, kita sudah dapat memperkirakan bentuk umum dari alat ini. Ya, bentuk dari alat ini menyerupai rompi yang disarungkan ke bagian atas tubuh manusia dalam penggunaannya. Rompi keselamatan memiliki istilah lain yang populer di masyarakat, yaitu life vest ataupun safety vest.

Fungsi utama dari alat ini sebenarnya mirip dengan cincin pelampung atau life ring. Namun kedua benda tersebut memiliki bentuk umum yang berbeda. Fungsi dari rompi keselamatan ini adalah membantu proses mengapung dari setiap penumpang yang terjatuh ke laut. Rompi ini juga didesain khusus dengan warna yang mencolok agar mudah ditemukan dan dilihat secara visual.

Ada juga yang menyebut alat ini life jackets atau jaket keselamatan. Alat ini juga dilengkapi dengan peluit sehingga dapat menarik perhatian orang lain yang kebetulan berada di daerah setempat. Peluit ini biasa dihubungkan dengan rompi menggunakan seutas tali. Ada pula beberapa jenis rompi keselamatan yang dilengkapi dengan lampu kecil yang berguna saat malam hari.

Rakit Penolong

Alat keselamatan yang akan dibahas selanjutnya adalah rakit penolong . Sesuai namanya, alat ini memiliki bentuk umum yang menyerupai rakit. Alat ini secara umum dapat digolongkan menjadi dua jenis. Yaitu jenis rakit kaku dan jenis rakit tiup. Rakit ini biasanya digunakan dalam keadaan darurat. Dalam beberapa kejadian, rakit ini juga digunakan ketika sekoci gagal digunakan saat terjadi permasalahan di laut. Rakit memiliki sedikit kemiripan dengan kapal perikanan.

Seperti alat keselamatan sebelumnya, rakit penolong ini juga dirancang dengan warna yang mencolok. Seperti warna jingga, sehingga mudah dilihat dan dikenali oleh orang-orang sekitar. Rakit ini dilengkapi dengan penutup pada bagian atas yang berfungsi untuk melindungi para penumpang.

Hingga saat ini, variasi dari rakit penolong ini pun semakin beragam. Seiring berjalannya waktu, kini rakit penolong ini ada yang berbentuk kapsul dan berukuran lebih besar dibanding sebelumnya. Selain itu, alat ini juga dilengkapi tali yang panjang untuk membukanya. Cara menggunakan alat ini adalah dengan melemparnya ke air dan menarik tali yang tersedia.

Dengan begitu, rakit penolong ini pun akan terbentuk dan siap menyelamatkan jiwa para penumpang. Sama seperti sekoci penyelamat, rakit penolong ini juga dilengkapi dengan makanan, minuman, dan juga obat-obatan. Secara umum, rakit penolong ini dapat menampung penumpang hingga 25 orang.

Pelempar Tali Penolong

Alat keselamatan yang selanjutnya akan dibahas pada artikel kali ini adalah pelempar tali penolong. Dalam Bahasa Inggris, alat ini disebut dengan istilah line throwing appliances. Alat ini secara umum berbentuk seperti roket pelempar. Kegunaan utama dari alat ini adalah untuk menghubungkan antara kapal penolong dan juga kapal yang ditolong.

Tidak hanya itu, alat ini juga dapat menolong menyelamatkan sekoci di perairan.  Alat keselamatan ini digunakan pada saat genting dan keadaan darurat dalam kapal. Pelempar tali penolong ini dapat menjangkau jarak hingga 230 meter. Oleh karena itu, pelempar tali penolong ini merupakan alat keselamatan yang wajib tersedia di setiap unit kapal.

Demikianlah beberapa alat keselamatan utama pada kapal yang dapat dibahas pada artikel kali ini. Semoga dapat memberikan informasi yang dibutuhkan para pembaca dan jangan lupa untuk membeli perlengkapan kapal berikut. Terima kasih.